SEPERTI nama yang kau sandang, prestasimu panjang.
Pernah juara Liga Portugal bersama FC Porto. Lalu juara Liga Premier Inggris bareng Chelsea (tiga trofi dalam dua periode), juara Serie A di Inter Milan, dan juara La Liga dengan Real Madrid.
Kau sudah mengoleksi dua trofi Liga Champions Eropa bersama Porto dan Inter Milan.
Belum lagi juara Liga Europa dan Liga Konferensi. Trofi di lemarimu lengkap. Mourinho adalah satu-satunya pelatih di Eropa yang telah menghimpun seluruh trofi kompetisi sepak bola di benua biru itu.
Namun, Jose Mario dos Santos Mourinho Felix, aku tak habis pikir mengapa kau masih butuh 1001 julukan untuk eksis. Suatu waktu di tahun yang telah lampau, kalimat berikut keluar dari mulutmu.
"Mungkin saya akan menjadi Godfather… Saya punya waktu lebih lama di sepak bola. Saya sudah menjuarai semua kompetisi di Inggris dan sepertinya saya satu-satunya yang pernah menjuarai Liga Champions, tapi itu bukan hal penting."
Saat pertama kali tiba di Inggris, julukan “The Special One” sudah lengket padamu. Belakangan, menurutmu, titel itu hanya bikinan media-media di Inggris.
Pada masa itu, kau memang datang dengan gemerlap: sukses menukangi FC Porto merajai liga domestik dan Liga Champions.
Pada musim 2003/2004, kau yang datang dari “dunia antah berantah” membungkam Manchester United yang diarsiteki Alex Ferguson pada 16 besar. Di babak berikutnya, Lyon, Deportivo La Coruna dan AS Monaco dilibas.
Monaco—kala itu punya ujung tombak Fernando Morientes—yang sukses menekuk Chelsea di semifinal, tak berkutik di partai puncak.
Deco dkk menang telak 3-0 sehingga memberi satu lagi koleksi trofi Champions untuk FC Porto.
Putaran nasib lalu bikin kamu berlabuh di Stamford Bridge, London.
Kau menerima pinangan Roman Abramovich. Di periode pertama meracik John Terry dkk, kau langsung meraih trofi Liga Inggris.
Mesin gol Chelsea saat itu, tak lain salah satu “temuanmu", Didier Drogba. Pada musim berikutnya, 2005/2006, Chelsea sekali lagi jawara Liga Inggris.
Sempat menjadi juara Piala FA tahun 2007, kau lalu putus hubungan dengan juragan Chelsea, Abramovich.
Aku tahu itu pahit sekali, Mourinho. Dari jarak yang sangat jauh dari kaki yang kau pijak, rasa pahit itu kurasakan pula.
Cara Abramovich menyudahi kontrak menjadi mata rantai dari apa yang kusebut sebagai “tragedi kapital” dalam sepak bola (Inggris).
Kau adalah orang kedua selepas Claudio Ranieri yang didepak tanpa ampun karena ngebetnya Abramovich akan trofi Liga Champions.
Lantas kursimu diberikan kepada Avram Grant. Seseorang yang nantinya sempat mengantar Chelsea ke final Liga Champions musim 2007-2008.
Namun, mimpi Grant tergelincir gara-gara insiden Terry terjatuh sebelum menembak bola dalam drama tos-tosan versus MU.
Pada periode pertama kau memimpin Chelsea, setidaknya dua kali kau membawa Chelsea ke babak semifinal Liga Champions. Satu pencapaian yang juga pernah digapai Ranieri dan Guus Hiddink (2009-2010)
Dan semua tahu, bukan pelatih dengan reputasi mentereng di daratan Eropa yang mewujudkan mimpi Abramovich untuk menyaksikan Chelsea menjadi jawara Eropa.
Tapi, Roberto Di Matteo—yang hanya seorang carateker karena pelatih utama, Andre Villas Boas dipecat.
Lagi-lagi lantaran Abramovich tak sabar dengan hasil racikan pelatih muda yang satu almamater denganmu itu.
Menyudahi kontrak di Chelsea, melemparmu ke Inter Milan. Di sana kau kembali punya prestasi mengilap.
Puncaknya menggenggam treble winners pada musim 2009-2010: Liga Italia, Piala Italia serta Liga Champions.
Amboilah pokoknya. Namamu semerbak. Cara kau menyudahi perlawanan Barcelona masih kuingat.
Mirip seseorang yang tuntas melampiaskan dendam. Hanya kalah 0-1 di Camp Nou, Inter maju ke final karena menang agregat 3-2.
Selebrasi gayamu itu memang provokatif. Kiper Barca, Victor Valdes, harus nyamperin kamu yang terus mengacungkan jari telunjukmu ke atas.
Dengan gaya itu, kau seperti mau bilang, “Aku, Jose Mourinho, memang The Special One”.
Nasib memang berpihak padamu. Di partai puncak, Inter Milan menyudahi perlawanan Bayern Muenchen dengan skor 2-0.
Sejauh ini ada satu lagi koleksi trofi Liga Champions yang kau raih. Kamu menjadi satu di antara sedikit manajer/pelatih yang mengoleksi dua trofi supremasi sepak bola di Eropa dari dua klub berbeda.
Jawara Champions bersama Inter menjadi tiketmu ke Real Madrid, pada Juni 2010.
Ini tim kayak sejagat yang selalu punya duit segunung untuk menghimpun para pemain terbaik di jagat. Julukannya “Los Galácticos”.
Real Madrid adalah klub paling superior di ajang Liga Champions (dulu Piala Champions).
Saat kau melatih Madrid tahun 2010 itu, El Real telah mengumpulkan sembilan trofi di tangan, hanya AC Milan yang dekat dengan rekor Madrid (tujuh kali jawara Champions).
Di periode pertamamu, Madrid bermimpi menjemput trofi ke-10.
Namun, di tanganmu, kumpulan bintang itu tak sanggup memberi “La Décima” untuk klub ibu kota Spanyol itu.
Dalam tiga musim kau memimpin Madrid, tiga kali pula kau selalu kandas di semifinal. Masing-masing oleh Barcelona, Bayern Muenchen dan terakhir di tangan Borussia Dortmund.
Kau sempat meraup trofi La Liga plus Piala Raja Spanyol. Tapi, itu tentu tak pernah cukup untuk mengantarmu menjadi pelatih Madrid sukses.
Sebaliknya, kariermu di Spanyol dikenang dengan nada minor. Salah satu gelandang Barcelona, Andrés Iniesta, pernah berujar begini.
''Anda hanya perlu melihat faktanya,'' kata Iniesta kepada El Pais sekian tahun silam.
''Ya, dia telah merusak sepak bola Spanyol. Dia secara umum membuatnya menjadi lebih buruk ketimbang menjadi lebih baik.''
Simak fakta ini. Apa yang masuk akal dari tindakanmu yang menyolok mata Tito Vilanova, saat Barcelona bentrok dengan Madrid di Camp Nou di leg kedua Piala Super Spanyol, 17 Agustus 2011?
Belakangan kau menyesali insiden itu. Kau ingin dimaklumi.
"Saya seharusnya tidak melakukan hal itu (mencolok mata). Meski demikian, ada cerita di balik semua itu sehingga saya kehilangan kontrol. Itu kesalahan masa lalu saya,” kepada pers setahun kemudian.
Sesal Kemudian Tak Berguna
Noda itu tak bisa dihilangkan dari sepotong kariermu yang kebetulan gemerlap oleh trofi itu.
Dengan latar seperti itu, kau kembali ke Spanyol. Menukangi Real Madrid musim 2026/2027.
Ini palagan berbeda bagimu, Mou. Jauh berlipat-lipat daripada sekadar Liga Turki dan Liga Portugal.
Toh kebesaranmu membawa Madrid meminangmu. Si Putih tetap bertaburan bintang, termasuk Kylian Mbappé yang pergi ke Madrid untuk menjemput trofi Liga Champions, tapi sejauh ini masih membentur tembok.
Mou, ada begitu banyak hal yang bersatu dalam diri: antusiasme, hasrat, ambisi, totalitas, visi, dan pragmatisme.
Seluruh hal yang membentuk dan mengantar dirimu ke puncak piramida kesuksesan di industri sepak bola.
Kalau dirangkum, Mou adalah seorang yang urakan, oportunis, dan pragmatis.
Satu lagi rasanya perlu ditambahkan: arogansi dan keangkuhan.
Dengan gayamu itu, pers memang mendapat amunisi untuk headline mereka. Tapi, selebihnya, gayamu itu bikin sepak bola seperti “perang”.
Sebelum laga dalam bentuk perang urat saraf, saat laga ketika kau mendesak timmu menang dengan cara manis atau pragmatis, atau setelah laga ketika kau mengomentari keputusan wasit atau VAR.
Kukira sepak bola bukan sejenis perang. Ia hanya permainan antara dua tim yang punya rasa hormat satu sama lain.
Menurutku, kau sangat congkak dengan menyebut diri sebagai “Godfather”. Biarlah orang lain yang mencatat di mana sebaiknya namamu diletakkan dalam sejarah sepak bola.
Belum lima laga musim 2026/2027, Real Madrid telah dihantam Real Betis dengan skor 0-1.
Kau pun, seperti selama ini, mengomentari keputusan wasit dan VAR.
Dalam strategi komunikasimu, itu mungkin cuma bumbu. Tapi, bisa bikin gerah klub lain.
Dan Presiden Barcelona Joan Laporta masuk 'perangkapmu'.
Dia mengirim pesan berikut. "Apa yang dilakukan pihak lain, pada prinsipnya, selama mereka tidak melampaui batas rasa hormat dan keharmonisan institusional, bukan masalah"
"Biarkan mereka melakukan apa yang mereka anggap tepat," tambah Laporta (Goal.com,10/9/2026).
Barcelona sebaiknya tidak perlu terpancing. Rival Madrid itu sebaiknya fokus pada sepak bola jika ingin menggenggam trofi ketiga La Liga secara beruntun serta merampas trofi Liga Champions 2026/2027.
Seteru Mou di Barca saat ini adalah Hansi Flick. Seorang Jerman yang tenang, punya portofolio Liga Champions bareng Bayern Munchen dan sudah menghimpun dua trofi La Liga dalam dua musim terakhir.
Flick berbeda dengan Pep Guardiola, lawan Mou di periode pertama menakhodai Madrid.
Mou juga harus meladeni Diego Simeone yang membentuk Atlético Madrid jadi pengganggu rivalitas abadi El Real versus Barca.
Secara umum, pilar kekuatan Barca tak berubah banyak.
Namun, satu hal yang istimewa, sekumpulan pemain Barca sedang euforia karena kesuksesan di Piala Dunia 2026 bareng Spanyol.
Ditambah Rodrigo dari Manchester City, Anthony Gordon (Everton), dan Gabriel Jesus (Arsenal), rasanya Barca siap melanjutkan dominasi di Spanyol dan kembali jadi raja Eropa.
Mourinho pun, menurut saya, lebih baik kembali ke sepak bola.
Dia patut mencari sebongkah nilai yang mengantarnya ke panggung Eropa, memberi Porto trofi Liga Champions 2003/2004. Waktu itu Mourinho mengejutkan Eropa, tapi tidak membuat sepak bola menjadi seperti "perang".
Tugas utama Mou adalah mematahkan dominasi Barca di kompetisi domestik.
Syukur-syukur menambah satu trofi Liga Champions untuk Madrid.
Sejauh ini, sudah 15 trofi Liga (dan Piala Champions)--dan belum ada yang mendekati rekor itu.
Tidak, AC Milan yang trengginas di masa trio Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard. Apalagi Barcelona yang baru meraup trofi Eropa mulai musim 1991/1992.
Jose Mourinho, kukira kau tak ingin dikenang hanya sebagai pelatih yang piawai memberi trofi untuk tim sepak bola yang pernah kau latih. Namun, juga sebagai seorang manusia yang bijaksana.
Mungkin hal itu harapan yang setua Sokrates. Sekitar 16 tahun setelah periode pertamamu di Madrid, kau kembali ke Stadion Santiago Bernabéu.
Mungkin kau telah berubah, entah sedikit atau banyak. Namun, aku tidak yakin. Review atas film dokumenter-mu, "Mourinho", cenderung menegaskan kau tidak berubah.