JAKARTA, KOMPAS.com - Aturan syarat pendidikan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu) kembali diuji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Dalam permohonan pengujian materiil tersebut, para pemohon meminta adanya kewajiban Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan verifikasi faktual keabsahan dan kebenaran materiil dokumen ijazah para calon.
"Pemeriksaan persyaratan pendidikan tidak seharusnya semata-mata berhenti pada keberadaan dokumen administratif, tetapi juga harus mampu memastikan kecukupan dokumen tersebut dalam membuktikan terpenuhinya persyaratan pendidikan yang diwajibkan oleh undang-undang," tulis permohonan para pemohon, dikutip dari laman MK, Senin (2/11/2026).
Pemohon menyebut, terdapat persoalan dalam pasal 169 huruf r UU Pemilu konstitusional yakni ketidakjelasan norma serta hubungan antara frasa "tamat" dan frasa "atau sekolah lain yang sederajat".
Pemaknaan kedua frasa tersebut dinilai menimbulkan ketidakpastian hukum karena surat keterangan atau pengakuan kesetaraan sekolah tidak secara otomatis membuktikan bahwa seorang calon benar-benar telah menamatkan jenjang pendidikannya.
"Pengakuan kesetaraan berkaitan dengan kedudukan suatu jalur atau kualifikasi pendidikan, sedangkan kecukupan bukti penamatan pendidikan berkaitan dengan apakah dokumen yang diajukan secara substantif menunjukkan bahwa calon telah menyelesaikan pendidikan yang dipersyaratkan," tulis permohonan tersebut.
Menurut pemohon, pemeriksaan yang hanya berorientasi pada kelengkapan administrasi formal tanpa kriteria verifikasi faktual yang jelas berpotensi menciptakan ketidaksetaraan perlakuan antarcalon serta memicu sengketa pemilu di kemudian hari.
Penegasan kewajiban verifikasi faktual oleh KPU dinilai sangat krusial untuk menjamin prinsip pemilu yang jujur dan adil (jurdil) serta melindungi hak atas kepastian hukum yang adil sebagaimana diatur dalam Pasal 22E ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) UUD NRI Tahun 1945.
"Kewajiban KPU untuk melakukan verifikasi faktual secara objektif merupakan konsekuensi normatif dari keharusan memastikan terpenuhinya persyaratan 'tamat', khususnya untuk mengonfirmasi apakah calon benar-benar telah menyelesaikan jenjang pendidikan yang dipersyaratkan secara substantif," tulis para pemohon.
Diajukan tiga pemohon
Permohonan uji materiil yang terdaftar dengan Nomor Perkara 400/PUU-XXIV/2026 ini diajukan oleh tiga warga negara Indonesia, yaitu Ariyanto Zalukhu (Pemohon I), Hana Sybil Vania Mendrofa (Pemohon II), dan Berlian Suryo Putra Hia (Pemohon III) didampingi oleh tim kuasa hukum dari NGP Law Firm yang dipimpin oleh Niatman Aperli Gea.
Dalam petitumnya, MK diminta menyatakan pasal 169 huruf r yang berbunyi
berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas, madrasah aliyah, sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, atau sekolah lain yang sederajat," dibatalkan.
Mereka meminta agar MK menyatakan pasal ini tidak mengikat sepanjang tidak dimaknai bahwa frasa "tamat" dan "atau sekolah lain yang sederajat" mensyaratkan bukti kebenaran materiil dokumen ijazah serta mewajibkan KPU melakukan verifikasi faktual atas pengakuan kesetaraan dan keabsahan formal dokumen ijazah pendidikan calon.