KOMPAS.com – Bagi sebagian orang, ampas kopi mungkin hanya dianggap sebagai limbah. Namun, limbah tersebut justru mulai dilirik sebagai bahan baku produk kesehatan sekaligus peluang usaha baru bagi perempuan di Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim kolaborasi Universitas Jember (Unej) dan Universitas dr Soebandi mendampingi Kelompok Wanita Tani (KWT) Marlena dalam mengolah ampas kopi menjadi obat kumur berbasis kombukha.
Program tersebut mendapat dukungan hibah Program Kemitraan Masyarakat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada 2026 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.
Ketua Tim Pelaksana Dr drg Agustin Wulan Suci Dharmayanti, MDSc, mengatakan, Desa Klungkung memiliki potensi kopi robusta yang cukup besar. Kebiasaan masyarakat mengonsumsi kopi juga membuat ampas kopi relatif mudah ditemukan.
“Ampas kopi yang tadinya limbah ternyata bisa diolah menjadi produk kesehatan sekaligus sumber penghasilan bagi ibu-ibu KWT Marlena,” ujar Agustin dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu (11/10/2026).
Ubah limbah jadi produk bernilai
Sebagian besar ampas kopi, baik dari rumah tangga maupun warung kopi, belum dimanfaatkan secara optimal di Desa Klungkung. Setelah digunakan untuk menyeduh kopi, ampas biasanya langsung dibuang.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian mencoba membangun pendekatan yang menggabungkan potensi lokal, kesehatan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi perempuan.
Anggota Tim Pelaksana Rizki Fitrianingtyas dari Universitas dr Soebandi Jember dan Dwi Warna Aju Fatmawati dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember menemukan keluhan terkait masalah gigi dan mulut pada perempuan tani, mulai dari nyeri gigi, gigi berlubang, hingga masalah gusi.
Di sisi lain, pemanfaatan obat kumur sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulut juga belum menjadi kebiasaan di kalangan anggota KWT.
Oleh karena itu, pengembangan kombukha dari ampas kopi diarahkan tidak hanya sebagai inovasi pemanfaatan limbah, tetapi juga sebagai pintu masuk edukasi kesehatan gigi dan mulut.
Agustin juga menyampaikan bahwa kombukha dari ampas kopi memiliki potensi sebagai antibakteri sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan rongga mulut.
“Kami ingin ibu-ibu tidak hanya terampil membuat produk, tetapi juga memahami bahwa kesehatan mulut berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk kesehatan reproduksi perempuan,” tuturnya.
Agustin menekankan, pengembangan produk tetap membutuhkan proses lanjutan, termasuk pengujian dan pemenuhan persyaratan keamanan sebelum dapat dipasarkan sebagai produk kesehatan secara luas.
Memetakan warung kopi
Terdapat delapan kader pengabdian dilatih menggunakan aplikasi kamera berbasis global positioning system (GPS), baik untuk mendokumentasikan dan memetakan lokasi warung maupun sumber ampas kopi yang berpotensi menjadi pemasok bahan baku.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari konsep keberlanjutan program.
“Dengan peta ini, KWT tahu dari mana bahan baku bisa diperoleh secara rutin. Ini penting agar produksi bisa berkelanjutan,” kata Agustin.
Setelah sumber bahan baku terpetakan, sebanyak 23 anggota KWT Marlena mengikuti pelatihan pengolahan ampas kopi sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah dipersiapkan oleh tim.
Para peserta tidak hanya belajar mengenai proses pembuatan, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai kebersihan bahan, proses fermentasi kombukha, pengemasan, serta potensi pengembangan produk.
Hasilkan produk dengan rasa menyegarkan
Ketua KWT Marlena Feni mengatakan, pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru bagi para anggota kelompok.
Ia telah mencoba menggunakan obat kumur yang terbuat dari kombukha ampas kopi. Menurutnya, rasanya tidak asam dan cenderung menyegarkan.
“Setelah kumur, rongga mulut terasa kesat. Waktu saya coba saat sakit gigi, lumayan mengurangi rasa nyeri,” ungkap Feni.
Namun, tidak semua peserta memiliki pengalaman yang sama. Menurut Feni, ada anggota KWT yang kurang menyukai produk karena aroma karakter asam dari proses fermentasi.
Hal tersebut justru menjadi masukan bagi tim untuk melakukan pengembangan lebih lanjut, terutama terkait aroma, rasa, formulasi, dan penerimaan konsumen.
Buka peluang ekonomi
Menariknya, inovasi tersebut tidak berhenti pada pembuatan obat kumur. KWT Marlena juga mulai melihat peluang ekonomi dari produk turunannya.
Ampas kopi yang telah dikeringkan dapat dikembangkan menjadi bahan yang memiliki nilai jual, sementara symbiotic culture of bacteria and yeast (Scoby) kit juga dapat menjadi produk tambahan yang dipasarkan kepada masyarakat yang ingin membuat kombukha sendiri.
Dengan demikian, satu sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi beberapa peluang ekonomi.
Model tersebut diharapkan dapat mendorong KWT tidak hanya sebagai penerima pelatihan, tetapi menjadi kelompok masyarakat yang mampu mengelola potensi lokal secara mandiri.
“Harapannya, ibu-ibu tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga mempunyai produk unggulan yang bisa dikembangkan menjadi sumber pendapatan,” ujar Agustin.
Mulai dari kesehatan gigi hingga kesehatan perempuan
Tim pengabdian juga melihat inovasi tersebut sebagai pintu masuk yang lebih luas untuk meningkatkan literasi kesehatan perempuan di tingkat desa.
Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu bagian dari kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, edukasi yang dilakukan tidak hanya berhenti pada cara menggunakan obat kumur, tetapi juga mencakup perilaku menjaga kebersihan gigi dan mulut, pola konsumsi, serta keterkaitannya dengan kesehatan perempuan.
Ke depan, tim akan melanjutkan pendampingan kepada KWT Marlena dalam sejumlah aspek, antara lain pengurusan perizinan yang sesuai untuk produk, strategi pemasaran, pengembangan kemasan, serta edukasi kesehatan gigi dan mulut dan kesehatan reproduksi melalui kegiatan posyandu.
Perguruan tinggi dorong masyarakat semakin berdaya
Agustin dan timnya, yakni Rizki dan Dwi, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) atas dukungan pendanaan yang memungkinkan program tersebut berjalan.
“Terima kasih kepada Kemendiktisaintek yang telah memberikan dana hibah sehingga perguruan tinggi bisa hadir langsung di tengah masyarakat desa,” ujarnya.
Agustin mengatakan, hibah tersebut menjadi modal awal bagi KWT Marlena untuk memiliki dan mengembangkan produk unggulan berbasis potensi lokal yang ramah lingkungan.
Ia juga mengutarakan terima kasih kepada Universitas Jember, Universitas dr Soebandi, Pemerintah Desa Klungkung, kader posyandu, karang taruna, serta para pemilik warung kopi yang telah mendukung program.
Bagi masyarakat Desa Klungkung, inovasi tersebut menunjukkan, sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata dapat membuka peluang baru.
Dari secangkir kopi, muncul sebuah gagasan mulai dari mengubah ampas menjadi produk bernilai, memberdayakan perempuan, hingga membawa edukasi kesehatan lebih dekat ke masyarakat desa.