KOMPAS.com – Bagi sebagian investor, mengenal pasar modal dimulai dari mencari instrumen yang dirasa sesuai dengan kebutuhan dan tingkat risikonya.
Bagi Firmantriilahi atau Firman, perjalanan itu bermula dari obligasi dan deposito sebelum akhirnya membawanya pada strategi trading jangka pendek atau scalping.
Sebagai informasi, scalping merupakan strategi trading jangka pendek yang memanfaatkan peluang dari pergerakan harga dalam waktu singkat melalui transaksi cepat dan berulang. Strategi ini membutuhkan keputusan yang cepat sekaligus disiplin dalam mengelola risiko.
Namun, scalping bukanlah titik awal perjalanan Firman di pasar modal. Ketertarikannya pada saham tumbuh setelah sebelumnya mengenal instrumen yang relatif konservatif.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (5/10/2026), Firman mulai mempelajari investasi saham dengan pendekatan fundamental selama 2020–2021..
Seiring waktu, ia mencoba berbagai pendekatan dan mengevaluasi pengalaman yang didapat. Dari proses tersebut, ia akhirnya menemukan bahwa trading jangka pendek lebih sesuai dengan karakter dan gaya investasinya.
Sebagai scalper, Firman tidak berfokus mengejar keuntungan besar dalam satu transaksi. Ia memilih memanfaatkan peluang dari pergerakan harga jangka pendek sesuai strategi yang telah ditetapkan, sembari tetap disiplin dalam mengelola risiko.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa menemukan gaya yang sesuai di pasar modal membutuhkan proses.
Firman tidak langsung mengetahui pendekatan yang paling cocok baginya. Ia mengenal instrumen yang relatif konservatif, mempelajari saham secara fundamental, lalu menemukan pendekatan yang dirasa sesuai setelah melalui berbagai pengalaman.
Bagi investor pemula, proses tersebut dapat menjadi gambaran bahwa tidak ada keharusan untuk langsung menemukan gaya investasi sejak awal. Pengalaman, evaluasi, dan pemahaman terhadap karakter serta toleransi risiko dapat menjadi bagian dari proses menentukan pilihan.
Ketika mulai mengenal pasar modal, investor dihadapkan pada berbagai pilihan. Ada yang memilih saham untuk jangka panjang, ada yang aktif melakukan trading, sementara sebagian lainnya mempertimbangkan instrumen seperti obligasi sesuai dengan kebutuhan dan profil investasinya.
Setiap pendekatan memiliki karakter dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, pilihan instrumen dan strategi perlu disesuaikan dengan tujuan investasi, waktu yang tersedia, pemahaman terhadap instrumen, serta toleransi risiko masing-masing.
Keputusan cepat tetap membutuhkan riset
Karakter trading jangka pendek membuat informasi menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan Firman. Meski harus mengambil keputusan dalam waktu relatif singkat, ia tetap melakukan persiapan sebelum mengambil posisi.
Untuk membantu proses tersebut, Firman memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia di aplikasi BIONS milik BNI Sekuritas, termasuk Trading Idea. Ia juga menggunakan Broker Summary atau yang biasa disebut “Broksum” untuk mengamati aktivitas broker di pasar.
Bagi Firman, berbagai informasi tersebut menjadi bagian dari proses analisis sebelum mengambil keputusan. Ia tidak menjadikan satu informasi sebagai jaminan bahwa sebuah transaksi akan memberikan hasil sesuai harapan.
Kebiasaan memahami informasi sebelum mengambil keputusan juga menjadi bagian penting bagi investor. Riset memang tidak dapat menghilangkan risiko, tetapi dapat membantu keputusan dibuat berdasarkan pertimbangan yang lebih jelas. Bukan semata-mata mengikuti rumor, tren, atau fear of missing out (FOMO).
Pengalaman dari sebuah kesalahan
Proses belajar Firman juga datang dari pengalaman yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Salah satunya ketika ia menghadapi aksi right issue korporasi saat belum memahami mekanismenya secara menyeluruh.
Pengalaman tersebut membuat Firman menyadari bahwa mengenal saham tidak cukup hanya dengan memperhatikan pergerakan harga dan grafik. Investor juga perlu memahami berbagai aksi korporasi yang dapat memengaruhi kepemilikan maupun strategi investasi.
Beberapa di antaranya adalah right issue, stock split, dan pembagian dividen. Masing-masing memiliki mekanisme yang perlu dipahami sebelum investor mengambil keputusan.
Bagi investor pemula, pengalaman tersebut menjadi pelajaran untuk memahami terlebih dahulu instrumen yang akan dibeli beserta mekanismenya.
Kesalahan mungkin tidak selalu dapat dihindari ketika seseorang sedang belajar. Namun, ketika dievaluasi dan dipahami, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk mengambil keputusan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Dari berbagai pengalaman tersebut, Firman kemudian memegang satu prinsip dalam melakukan trading, yakni “kecil-kecil, tidak serakah”.
Prinsip tersebut bukan berarti setiap transaksi akan menghasilkan keuntungan. Trading jangka pendek tetap memiliki risiko kerugian dan membutuhkan pengelolaan risiko yang disiplin.
Bagi Firman, prinsip tersebut menjadi pengingat untuk tidak terbawa keinginan mengejar keuntungan terlalu besar dalam satu transaksi.
Proses belajar pun terus ia jalani. Firman mengikuti sejumlah kegiatan edukasi dan komunitas trading yang diselenggarakan BNI Sekuritas, termasuk Market Update, Live Trading, dan Cuanpionship.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upayanya untuk terus mengasah pengetahuan dan mengevaluasi keputusan yang diambil di pasar modal.
Pada akhirnya, menemukan strategi yang sesuai hanyalah salah satu tahap dalam perjalanan di pasar modal. Setelahnya, masih ada proses belajar, mengevaluasi keputusan, dan memahami risiko yang menyertai setiap pilihan.
Pengalaman Firman menunjukkan bahwa tidak ada satu gaya yang harus diikuti semua orang. Mengenali instrumen, memahami risikonya, dan menemukan pendekatan yang sesuai dengan karakter masing-masing menjadi bagian dari proses yang perlu dijalani.
Prinsip “kecil-kecil, tidak serakah” menjadi pengingat bahwa perjalanan di pasar modal tidak selalu tentang mengejar hasil terbesar dalam waktu tercepat. Ada proses memahami pilihan, mengukur risiko, dan menjalani strategi dengan disiplin.