KOMPAS.com - Gelembung (bubble) saham perusahaan kecerdasan buatan (AI) di China disebut sudah "pecah". Namun, apakah kondisi ini akan mengubah kondisi pasar memori?
Maksud "pecah" di sini adalah kondisi harga saham dan nilai perusahaan AI serta semikonduktor di China mengalami kejatuhan drastis setelah sebelumnya melambung sangat tinggi.
Indeks saham teknologi China STAR50 anjlok sekitar 40 persen dalam kurang dari empat bulan.
Indeks ini menaungi perusahaan AI dan semikonduktor terkemuka negara itu. Penurunan tersebut menghapus nilai pasar sekitar 480 miliar dollar AS (sekitar Rp 8.640 triliun).
Menurut manajer investasi di Beijing, Dong Baozhen, gelembung saham AI kini mulai pecah, seperti dikutip Reuters. Pembuat chip memori DRAM asal China, CXMT, ikut terseret. Nilai sahamnya terpangkas lebih dari seperempat hanya dalam sebulan terakhir.
Lantas, apakah rontoknya saham AI itu akan membuat harga RAM dan SSD ikut turun?
Belum waktunya
Analis IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, menilai bahwa anjloknya indeks STAR50 belum menjadi tanda harga memori akan segera turun.
"Apa pun yang terjadi di indeks tersebut, sepertinya belum bisa menjadi salah satu tanda kalau harga memori akan turun sebentar lagi, karena update terakhir harganya masih meningkat," kata Vanessa kepada KompasTekno.
Menurut Vanessa, IDC melihat, permintaan memori sampai saat ini masih sangat tinggi, terutama dari hyperscaler. Pasokan belum bisa mengimbangi permintaan itu sehingga harga memori masih naik hingga kuartal IV-2026.
Hyperscaler adalah penyedia layanan cloud dan pusat data berskala raksasa, seperti Amazon Web Services, Microsoft, dan Google.
IDC memperkirakan, kenaikan harga memori berlanjut sampai 2027. Menurut Vanessa, kondisi itu akan mendorong harga smartphone lebih tinggi hingga 2027, bahkan 2028.
Lembaga riset TrendForce juga memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional naik 10-15 persen pada kuartal IV-2026 dibanding kuartal sebelumnya. DRAM adalah jenis chip yang dipakai untuk RAM.
Harga kontrak adalah harga jual pabrik chip kepada pembeli besar seperti produsen PC dan server.
Untuk chip penyimpanan NAND flash yang dipakai di SSD, harga kontraknya diproyeksikan naik 15-20 persen pada kuartal IV-2026 dibanding kuartal III dirangkum KompasTekno dari TrendForce.
Data center masih terus belanja
Di AS, kondisinya berbeda. Indeks saham teknologi Nasdaq hanya turun sekitar 6 persen dari rekor tertinggi yang dicetak tiga pekan sebelumnya.
Sementara permintaan memori dari data center AI masih kuat. Menurut TrendForce, penyedia layanan cloud dan produsen server menambah pembelian RAM server untuk menjalankan agentic AI. Agentic AI adalah AI yang bisa mengerjakan tugas secara mandiri.
Produsen DRAM juga mendahulukan kapasitas produksinya untuk server berperforma tinggi. Permintaan SSD untuk server ikut naik. Sebagian besar tambahan pasokannya bahkan sudah terikat pesanan.
Sebaliknya, kenaikan harga komponen menekan penjualan laptop dan smartphone. TrendForce mencatat merek PC memangkas kapasitas SSD di perangkatnya untuk menekan biaya produksi.
Kapan harga turun?
Dalam riset terbarunya, TrendForce mencatat kenaikan harga kontrak SSD untuk PC menyempit tajam pada kuartal IV.
Pada kuartal I-2027, kenaikan itu diperkirakan berhenti dan harga bertahan di level tinggi. Penyebabnya, kuartal I merupakan masa sepi permintaan dan kapasitas produksi baru mulai masuk.
Menurut CEO Acer Jason Chen, tambahan produksi dari China dapat menahan kenaikan harga memori. Ia menyebut produsen China terus menambah kapasitas dan mulai memasok merek di luar China.
Chen pada September lalu memperkirakan harga komponen mencapai puncak sekitar pertengahan 2027. Menurut dia, harga kemudian berpeluang stabil dan mulai turun pada paruh kedua 2027, meski titik baliknya belum bisa dipastikan.
Proyeksi produsen memori SK Hynix lebih pesimistis. Perusahaan asal Korea Selatan itu memperkirakan kelangkaan memori baru mereda pada 2030.
SK Hynix menilai bahwa permintaan chip memori akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), pembangunan data center, dan investasi perusahaan teknologi dalam infrastruktur AI.
Di jalur distribusi China, harga SSD sebenarnya sudah mulai turun. Situs pemantau harga memori China Flash Market (CFM) mencatat harga acuan SSD turun untuk semua kapasitas pada Selasa (27/10/2026) dibanding sepekan sebelumnya.
Harga SSD PCIe 4.0 berkapasitas 1 TB turun 7,69 persen dari 130 dollar AS (sekitar Rp 2,34 juta) menjadi 120 dollar AS (sekitar Rp 2,16 juta).
Penurunan terdalam terjadi pada SSD PCIe 3.0 berkapasitas 256 GB, yakni 13,16 persen dari 38 dollar AS (sekitar Rp 684.000) menjadi 33 dollar AS (sekitar Rp 594.000).
Angka tersebut merupakan harga acuan pasar China, bukan harga jual di toko Indonesia. CFM juga tidak mengaitkan penurunan itu dengan anjloknya saham AI.
Menurut CFM, sejumlah produsen SSD memangkas harga secara agresif untuk mengejar target penjualan. Permintaan juga lesu. Harga SSD yang masih tinggi membuat konsumen menahan belanja, bahkan menjelang festival belanja Double 11 pada November.
Kondisi serupa terlihat di pusat elektronik Huaqiangbei, Shenzhen. Dalam pantauan stasiun televisi CCTV, banyak pedagang menyebut penjualan memori sejak memasuki Oktober turun 20-30 persen dibanding sebelumnya.
Sebagian pedagang menjual RAM dan SSD di bawah harga beli karena butuh uang tunai. Namun, potongannya hanya sekitar satu digit persen dari harga puncak.
Seorang pelaku industri menyebut penurunan kecil itu tidak berarti memori sudah murah. Menurut dia, semua pedagang membeli stok saat harga tinggi. Karena itu, tidak ada yang berani memangkas harga terlalu banyak.