Jalani Pengobatan Jantung dengan JKN, Sulistiyatno: Tidak Perlu Takut Berobat

Jalani Pengobatan Jantung dengan JKN, Sulistiyatno: Tidak Perlu Takut Berobat

2 jam lalu

Sempat khawatir soal biaya pengobatan, Sulistiyatno kini bisa menjalani kontrol rutin penyakit jantung koroner dengan bantuan JKN.

Swipe untuk menutup

Jalani Pengobatan Jantung dengan JKN, Sulistiyatno: Tidak Perlu Takut Berobat

29/08/2026, 11:07 WIB
Jalani Pengobatan Jantung dengan JKN, Sulistiyatno: Tidak Perlu Takut Berobat

KOMPAS.com – Kekhawatiran mengenai biaya pengobatan sempat muncul di benak Sulistiyatno (56) setelah dokter mendiagnosis dirinya mengalami penyakit jantung koroner dan membutuhkan pemasangan ring jantung.

Namun, kekhawatiran tersebut perlahan berkurang setelah ia merasakan manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Melalui program tersebut, Sulistiyatno dapat menjalani pengobatan hingga kontrol rutin setiap bulan tanpa terbebani biaya.

“Hal pertama yang saya pikirkan ketika dokter mendiagnosis bahwa saya memiliki penyakit jantung koroner dan harus memasang kateter di jantung adalah biaya,” ungkap Sulistiyatno dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (28/8/2026).

Sulistiyatno kemudian menjalani rangkaian pengobatan hingga tindakan pemasangan ring. Setelah itu, kontrol rutin menjadi bagian dari upayanya untuk menjaga kondisi kesehatan jantung tetap stabil.

Kontrol rutin dengan JKN

Menurut Sulistiyatno, proses pelayanan kesehatan menggunakan JKN cukup mudah. Ia hanya perlu mengikuti prosedur. 

Mulai dari mendapatkan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) hingga mendaftar untuk mendapatkan nomor antrean kontrol di rumah sakit melalui aplikasi Mobile JKN.

“Jadi untuk memantau dan memastikan kondisi kesehatan jantung tetap stabil melalui kontrol bulanan ini prosesnya sangat mudah,” jelasnya.

Kemudahan juga dirasakan Sulistiyatno saat menggunakan fitur antrean online Mobile JKN. Dengan fitur tersebut, ia dapat mengambil nomor antrean sebelum datang ke fasilitas kesehatan sehingga proses kunjungan menjadi lebih praktis.

“Mengambil antrean kontrol bulanan melalui aplikasi JKN sangat mudah dan cepat, kita tinggal buka aplikasi dan klik saja. Jadi tidak perlu menunggu lama untuk mencari antrean. Dari rumah pun kita sudah bisa mendaftarkan diri untuk antrean,” ujarnya.

Manfaatkan layanan skrining kesehatan

Bagi Sulistiyatno, manfaat JKN tidak hanya dirasakan ketika membutuhkan pengobatan, tetapi juga melalui pelayanan promotif dan preventif, seperti skrining kesehatan.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan sejak dini dapat membantu masyarakat mengetahui risiko penyakit sebelum kondisinya menjadi lebih berat.

“Sebetulnya kita bisa memanfaatkan layanan yang disediakan oleh JKN, salah satunya skrining kesehatan. Potensi penyakit dapat terdeteksi lebih awal, jadi tidak menunggu ada gejala sakit dan setelah dicek ternyata didiagnosis penyakit parah,” jelasnya.

Sebagai peserta JKN, Sulistiyatno berharap pelayanan kesehatan terus berkembang dan masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

“Bagi masyarakat yang belum memahami apa itu JKN, jangan ragu dan takut untuk meminta bantuan secara langsung kepada petugas yang ada di BPJS Kesehatan sehingga nantinya jaminan kesehatan kita melalui JKN ini dapat terpenuhi dengan baik,” jelasnya.

Brandzview Lainnya

AS Sanksi Bank Mesir di UEA karena Dugaan Hubungan dengan Iran

AS Sanksi Bank Mesir di UEA karena Dugaan Hubungan dengan Iran

3 jam lalu

AS mencabut akses Banque Misr UAE ke lembaga keuangan AS karena diduga memproses transaksi untuk jaringan keuangan Iran.

Swipe untuk menutup

AS Sanksi Bank Mesir di UEA karena Dugaan Hubungan dengan Iran

29/08/2026, 10:32 WIB
AS Sanksi Bank Mesir di UEA karena Dugaan Hubungan dengan Iran
Penulis: Nur Jamal Shaid
|
Editor: Nur Jamal Shaid

KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan akan menjatuhkan sanksi terhadap cabang bank asal Mesir di Uni Emirat Arab (UEA), Banque Misr UAE, terkait dugaan hubungan finansialnya dengan Iran.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (29/8/2026), Departemen Keuangan AS berencana mencabut akses Banque Misr UAE terhadap lembaga keuangan di Amerika Serikat.

Langkah tersebut merupakan bagian dari kampanye sanksi terbaru Washington yang bertujuan memutus hubungan ekonomi Iran dengan negara-negara di seluruh dunia.

Menurut Departemen Keuangan AS, Banque Misr UAE telah memproses transaksi senilai sekitar 1,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 31,88 triliun dalam dua tahun terakhir.

Transaksi itu dilakukan untuk sekitar 100 perusahaan yang diduga berpotensi menjadi bagian dari jaringan perbankan bayangan Iran.

Bagian dari Operasi Economic Outcast

Tindakan terhadap Banque Misr UAE dilakukan empat hari setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent meluncurkan kampanye sanksi bertajuk "Operation Economic Outcast".

Operasi tersebut ditujukan untuk memutus seluruh hubungan ekonomi Iran di berbagai belahan dunia.

Sebelumnya, Bessent telah memberi sinyal bahwa pemerintah AS akan segera mengambil tindakan terhadap sebuah lembaga keuangan.

Bessent mengatakan pada Senin bahwa Departemen Keuangan AS akan membuat "pengumuman besar mengenai sebuah lembaga keuangan yang akan dijatuhi sanksi sebelum akhir pekan ini".

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menggambarkan kampanye sanksi terhadap Iran sebagai padanan ekonomi dari D-Day.

D-Day merupakan invasi besar-besaran Sekutu ke wilayah Eropa yang diduduki Nazi pada Perang Dunia II.

Namun, hingga saat ini, langkah Departemen Keuangan AS terhadap Republik Islam Iran dinilai masih terbatas dari sisi cakupan.

Pejabat Bank Iran dan Perusahaan Hong Kong Ikut Disanksi

Selain menargetkan Banque Misr UAE, Departemen Keuangan AS pada Jumat juga memasukkan Reza Mohammad Taeedi ke dalam daftar hitam.

Taeedi merupakan warga negara Iran yang menjabat sebagai manajer umum cabang Dubai dari Bank Melli Iran.

Pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan asal Hong Kong, Kameng Trading Ltd.

Perusahaan tersebut diduga berperan sebagai perusahaan kedok yang digunakan untuk mencuci uang bagi sebuah rumah penukaran valuta asing Iran.

Langkah ini memperluas tekanan Washington terhadap jaringan keuangan yang diduga membantu Iran menjalankan transaksi internasional.

China Tidak Kebal dari Sanksi

Ekspor minyak mentah menjadi salah satu sumber pendapatan utama Iran. Sementara itu, China merupakan pembeli terbesar minyak dari negara tersebut.

Blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz telah memangkas ekspor minyak Iran secara signifikan.

Meski demikian, menurut perusahaan data energi Kpler, sejumlah kapal tanker di Asia masih membawa jutaan barel minyak Iran dan menunggu untuk membongkar muatannya di China.

Ketika ditanya apakah AS juga akan menjatuhkan sanksi terhadap lembaga-lembaga China, Bessent menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berada di luar jangkauan sanksi Amerika Serikat.

"Jika mereka memfasilitasi transaksi dan menjadi bagian dari ekosistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, lalu menjadi alat penindasan, mereka akan menjadi sasaran," kata Bessent.

Pemerintah AS pun kembali menegaskan komitmennya memperluas tekanan ekonomi terhadap pihak-pihak yang dianggap membantu Iran mempertahankan akses terhadap sistem keuangan internasional.

Terpopuler Lainnya

Berkuasa Sejak Umur 3 Tahun, Raja Uganda Meninggal di Usia 34

Berkuasa Sejak Umur 3 Tahun, Raja Uganda Meninggal di Usia 34

19 jam lalu

Raja Kerajaan Tooro di Uganda, Omukama Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV, meninggal dunia pada usia 34 tahun.

Swipe untuk menutup

Berkuasa Sejak Umur 3 Tahun, Raja Uganda Meninggal di Usia 34

28/08/2026, 18:24 WIB
Berkuasa Sejak Umur 3 Tahun, Raja Uganda Meninggal di Usia 34

KAMPALA, KOMPAS.com - Raja Kerajaan Tooro di Uganda, Omukama Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV, meninggal dunia pada usia 34 tahun setelah sekitar tiga dekade memimpin kerajaan tradisional tersebut.

Keluarga kerajaan mengumumkan kematiannya pada Kamis (27/8/2026), menyebut kepergian sang raja sebagai kehilangan yang sangat besar bagi keluarga kerajaan, masyarakat Tooro, dan Uganda.

Dalam pernyataannya, seperti dikutip The Kenya Times, keluarga kerajaan mengatakan bahwa Raja Oyo meninggal pada 27 Agustus 2026 sekitar pukul 22.00 waktu setempat.

Sebelumnya, Kerajaan Tooro telah mengonfirmasi bahwa Raja Oyo berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan medis di Amerika Serikat.

Keluarga kerajaan mengimbau masyarakat Tooro untuk tetap bersatu, tenang, dan berdoa selama masa berkabung.

"Kehilangan ini sangat besar bagi keluarga kerajaan, masyarakat Tooro, dan bangsa Uganda," demikian bunyi pernyataan keluarga kerajaan.

Keluarga kerajaan juga memastikan proses suksesi akan tetap berjalan. Raja Oyo diketahui meninggalkan seorang putra yang akan menjadi ahli waris takhta.

Identitas sang ahli waris akan diumumkan secara resmi pada waktu yang dianggap tepat, sesuai tradisi dan adat Kerajaan Tooro.

Keluarga kerajaan juga menyatakan akan mengeluarkan informasi lebih lanjut mengenai pemakaman dan rangkaian masa berkabung.

Naik takhta sejak usia 3 tahun

Raja Oyo lahir pada 16 April 1992 dari pasangan Omukama Patrick Kaboyo III dan Ratu Ibu Best Kemigisa. Ia naik takhta pada 1995 setelah ayahnya meninggal dunia.

Saat itu, Oyo baru berusia tiga tahun. Pengangkatannya menjadikannya raja termuda di dunia yang sedang berkuasa pada masanya.

Oyo kemudian menjadi penguasa ke-13 Kerajaan Tooro, sebuah kerajaan tradisional di Uganda yang memiliki sejarah sekitar 180 tahun.

Selama sekitar 30 tahun memimpin, Oyo tumbuh menjadi salah satu pemimpin tradisional paling dikenal di Uganda. Ia menjadi simbol Kerajaan Tooro sekaligus berperan dalam menjaga dan merepresentasikan warisan budaya kerajaan tersebut.

Di luar perannya sebagai pemimpin tradisional, Oyo juga menempuh pendidikan tinggi di Inggris. Ia meraih gelar di bidang Manajemen Bisnis dan Hubungan Internasional dari University of Winchester.

Internasional Lainnya

Vaseline

Vaseline "Ubah Nama" Jadi Baseline, Strategi Marketing Manfaatkan Salah Ucap yang Viral

16 menit lalu

Vaseline mengubah namanya menjadi Baseline.

Swipe untuk menutup

Vaseline "Ubah Nama" Jadi Baseline, Strategi Marketing Manfaatkan Salah Ucap yang Viral

29/08/2026, 12:47 WIB
Vaseline

KOMPAS.com-Vaseline mengubah namanya menjadi Baseline. Bukan karena perusahaan mengganti merek, melainkan karena salah pengucapan nama produknya viral di media sosial.

Strategi ini menjadi cara Vaseline memanfaatkan percakapan yang muncul secara organik dari konsumennya.

Perubahan nama tersebut diumumkan melalui akun Instagram resmi Vaseline Inggris, @vaselineuk, pada Rabu (26/8/2026). Foto profil akun tersebut ikut diubah menjadi Baseline.

Hal serupa dilakukan sejumlah akun resmi Vaseline di negara lain, termasuk Amerika Serikat, Indonesia, Malaysia, Kanada, dan Korea Selatan.

Pemicu tren tersebut berasal dari unggahan influencer asal Korea Selatan, Minda Lee (@mindaylee_).

Dalam salah satu videonya, Minda Lee membahas sejumlah produk Vaseline. Saat menyebut nama merek tersebut, dia mengucapkan huruf "v" seperti bunyi "b", sehingga Vaseline terdengar seperti Baseline.

Minda Lee kemudian menjelaskan pengucapan tersebut. Dalam bahasa Korea, tidak terdapat bunyi huruf "v". Karena itu, sejumlah kata atau merek asing yang menggunakan huruf tersebut terdengar berbeda ketika diucapkan oleh penutur bahasa Korea.

Video itu kemudian menjadi viral. Unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 1 juta kali dan memperoleh lebih dari 2 juta tanda suka saat dilihat Kompas.com.

Vaseline melihat momentum tersebut dan memilih ikut masuk ke dalam percakapan.

"We heard you. We agreed (Kami mendengar kalian. Kami setuju)" ditulis di akun @vaselineuk.

Kalimat tersebut menjadi pembuka unggahan Vaseline yang mengumumkan "rebranding" menjadi Baseline.

"Following extensive review (by which we mean approximately one video, watched over 1 million times, facts), Vaseline would like to announce our rebrand. Welcome to Baseline, effective immediately (Setelah melakukan peninjauan ekstensif, yang kami maksud adalah sekitar satu video yang ditonton lebih dari 1 juta kali, berdasarkan fakta, Vaseline ingin mengumumkan perubahan merek kami. Selamat datang di Baseline, berlaku efektif segera)".

Alih-alih mengoreksi pengucapan Minda Lee, Vaseline menjadikannya bagian dari komunikasi merek.

Strategi tersebut membuat audiens menjadi bagian dari cerita. Kesalahan pengucapan yang awalnya muncul dalam konten seorang pengguna media sosial kemudian diangkat oleh pemilik merek itu sendiri.

Vaseline juga mempertahankan unsur humor dalam komunikasinya.

"Full credit to @mindaylee_ for the discovery, who we have taken the liberty of appointing as the CEO of Baseline, effective immediately, no interview required (Penghargaan penuh kami berikan kepada @mindaylee_ atas penemuan ini, yang dengan senang hati kami tunjuk sebagai CEO Baseline, berlaku efektif segera, tanpa perlu wawancara)".

Penunjukan Minda Lee sebagai "CEO Baseline" membuat respons tersebut terasa seperti kelanjutan dari percakapan di media sosial, bukan pengumuman korporasi yang formal.

Vaseline juga menggunakan momentum tersebut untuk membawa kembali sejarah mereknya.

"Vaseline has been pronounced, adapted, and made local in every corner of the world for 150 years (Vaseline telah diucapkan, diadaptasi, dan dilokalkan di berbagai penjuru dunia selama 150 tahun)".

"Every accent, every version, every 'wrong' way of saying it is just proof of how far the jar has traveled (Setiap aksen, setiap versi, dan setiap cara yang dianggap 'salah' dalam mengucapkannya menjadi bukti sejauh mana produk tersebut telah tersebar)".

Vaseline juga menegaskan produk mereka tidak berubah.

"Same tub, Same jelly. Same uses you've been making up since 1870 (Wadahnya sama, jelly-nya sama. Kegunaannya juga sama seperti yang telah kalian gunakan sejak 1870)".

Viral Lainnya

Viral, Rumah di Majalengka Disebut Mirip Gerbang Rumah Jokowi

Viral, Rumah di Majalengka Disebut Mirip Gerbang Rumah Jokowi

3 jam lalu

Viral sebuah rumah di Majalengka disebut mirip gerbang rumah Jokowi, warga berdatangan untuk berfoto.

Swipe untuk menutup

Viral, Rumah di Majalengka Disebut Mirip Gerbang Rumah Jokowi

29/08/2026, 10:19 WIB
Viral, Rumah di Majalengka Disebut Mirip Gerbang Rumah Jokowi
Penulis: Handhika Rahman
|
Editor: Novita Rahmawati

MAJALENGKA, KOMPAS.com - Sebuah rumah yang berlokasi di Jalan Pengadilan Lama, Kelurahan Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, mendadak ramai diperbincangkan di media sosial.

Pasalnya, bagian depan rumah tersebut disebut memiliki kemiripan yang mencolok dengan kediaman pribadi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Solo, Jawa Tengah.

Kemiripan paling identik terlihat pada desain gerbang utama yang berwarna cokelat dengan rangka besi berwarna gelap.

Selain itu, juntaian tanaman hias di bagian atas gerbang semakin memperkuat nuansa asri yang kerap terlihat pada kediaman Jokowi di kawasan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.

Usai viral, rumah ini banyak didatangi warga, khususnya anak muda. Kedatangan mereka diketahui hanya ingin melihat dan berfoto di depan rumah tersebut, hingga membuat konten video.

“Tahu dari sosmed, soalnya mirip rumah Pak Jokowi. Ke sini penasaran pengen foto-foto saja, desainnya bagus," kata Amel (15), Sabtu (29/8/2026).

Amel tidak datang sendiri, ia bersama teman-temannya. Satu per satu mereka berfoto di depan gerbang tersebut.

Selain itu ada juga Sena (41), warga setempat yang sekaligus bekerja sebagai pengantar air galon. Di depan rumah tersebut, ia juga ikut berfoto di depan rumah.

Menurut Sena, ia awalnya tidak mengetahui bahwa rumah itu sedang viral. Adapun pemilik rumah tersebut, disampaikan Sena, merupakan rumah milik seorang dokter.

"Saya juga kaget, kebetulan kan saya suka mengantar galon ke sini. Pas lihat di sini ada yang foto-foto," ujar Sena.

Karena penasaran Sena bahkan sampai bertanya kepada sekumpulan remaja yang sedang membuat konten.

Mereka menyebut alasannya membuat konten karena disebut mirip rumah Joko Widodo.

"Langsung pas saya tanya-tanya, 'Kenapa konten di sini?' Mereka jawab rumah Pak Dokter mirip rumahnya Pak Jokowi," ungkapnya.

Untuk membuktikan hal tersebut, Sena bahkan membandingkannya dengan video kediaman Jokowi di YouTube.

Rupanya pas lihat, memang sangat mirip, terutama pada gerbang depannya.

"Saya kan lihat dari YouTube rumah Pak Jokowi, kemudian disamakan. Ternyata hampir sama gerbang garasinya. Pas dilihat ya sama, mirip begitu lah," tutur Sena.

Kini, rumah yang sebelumnya hanya dikenal sebagai kediaman seorang dokter itu mendadak menjadi tempat keramaian warga yang penasaran dengan kemiripan gerbangnya dengan rumah tokoh nasional tersebut.

Viral Lainnya

Malam Terakhir Bambang: Keluar Rumah Saat Kericuhan Pejompongan, tapi Tak Pernah Kembali

Malam Terakhir Bambang: Keluar Rumah Saat Kericuhan Pejompongan, tapi Tak Pernah Kembali

13 jam lalu

Bambang keluar rumah saat kericuhan Pejompongan. Ia tak kunjung pulang hingga sang istri mengetahui kabar kematiannya dari sebuah video.

Swipe untuk menutup

Malam Terakhir Bambang: Keluar Rumah Saat Kericuhan Pejompongan, tapi Tak Pernah Kembali

29/08/2026, 00:00 WIB
Malam Terakhir Bambang: Keluar Rumah Saat Kericuhan Pejompongan, tapi Tak Pernah Kembali

JAKARTA, KOMPAS.com - Kericuhan di Jalan Pejompongan Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026) malam menyebabkan seorang warga sekitar, Bambang Setiyawan (59), meninggal dunia.

Bambang, yang sehari-hari berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya, malam itu hanya berniat mematikan lampu yang masih menyala di tokonya.

Namun, ia diduga dikeroyok oleh sekelompok orang tak dikenal di tengah kericuhan yang terjadi di lokasi.

Detik-detik Terakhir

Istri Bambang, Sudarsih (56), menceritakan bahwa suaminya masih berjualan hingga sore hari sebelum situasi di Jalan Pejompongan Raya memanas.

Sekitar pukul 16.30 WIB, Sudarsih meminta Bambang menutup tokonya lebih cepat karena sejumlah massa mulai berkumpul dan ketegangan terjadi di sekitar lokasi.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak', saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup'. Saya bantuinlah," ujar dia saat ditemui Kompas.com di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

Setelah menutup toko, Bambang beraktivitas seperti biasa. Ia sempat mengantarkan tetangganya berobat ke Rumah Sakit Pelni, Jakarta Barat, dan kembali ke rumah sekitar pukul 21.00 WIB.

Saat Bambang pulang, situasi di Jalan Pejompongan Raya sudah ricuh dan semakin memanas. Massa yang berada di lokasi didorong mundur ke arah TPU Karet.

Bambang yang rumahnya berada di salah satu gang di pinggir Jalan Pejompongan Raya mengetahui kondisi tersebut.

"Waktu pas dia pulang itu memang sih pas kebenaran itu massa (di Jalan Pejompongan Raya) lagi didorong ke dalam. Kan, gerrr gitu kan. Nah, pas udah gitu tapi ini almarhum belum keluar, masih di rumah kan sama saya," ungkap Sudarsih.

Beberapa saat kemudian, ketika merasa situasi mulai aman, Bambang berjalan melalui gang sempit di dekat rumahnya menuju Jalan Pejompongan Raya.

Menurut Sudarsih, suaminya memang kerap keluar untuk melihat situasi ketika terjadi kericuhan di sekitar tempat tinggal mereka.

Ia juga terkadang membantu warga dengan menyediakan air untuk mencuci muka.

Namun, malam itu Bambang tidak kunjung kembali ke rumah.

"Enggak tahunya kok makin malam eggak ada kabarnya. Enggak ada kepikiran (Bambang hilang) saya kan. Ya udah lah pikir saya, paling di tempat temannya ngobrol gitu, apa dia lagi ngapain," lanjut dia.

Sekitar pukul 01.30 WIB, Sudarsih mulai mencari suaminya. Ia mendatangi tempat teman-teman Bambang biasa berkumpul.

"Saya berharap bapaknya itu masih ngobrol sama teman-temannya nih. Saya ke situ, anak saya sempat ngomong, 'Mah, tadi saya udah dari situ tapi nggak ada' Ya barangkali aja tadi Bapak ngumpet ke mana, terus sekarang udah ngobrol di situ kan kita nggak tahu," ungkap dia.

"Saya masih berharap ketemu kan. Ternyata saya ke situ nggak ada. Dan saya pesan sama teman-temannya, sama anak-anak di situ, saya bilang, 'nanti kalau ketemu suruh pulang,' saya gituin. "Iya," katanya," tambah Sudarsih.

Setelah itu, Sudarsih tertidur sekitar 1,5 jam. Ia kemudian terbangun sekitar pukul 02.30 WIB.

Saat itu, ia menerima pesan dari tetangganya yang berada di RS Pelni dan menanyakan keberadaan Bambang.

Keluarga Mengetahui dari Rekaman Video

Sekitar pukul 04.00 WIB, Sudarsih mendapat informasi bahwa suaminya telah meninggal dunia.

Kabar tersebut didapatkan setelah anaknya mengenali Bambang dalam sebuah video yang beredar di media sosial.

Dalam video yang diperlihatkan kepada Kompas.com, terlihat sejumlah pria memegang kayu.

Sosok pria yang diduga Bambang tampak dipukul menggunakan kayu, ditendang, dan dipukul dengan tangan. Bajunya juga terlihat diseret di atas trotoar jalan.

"Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu," tutur Sudarsih.

Keluarga kemudian mengetahui jenazah Bambang telah dibawa ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Sementara itu, Ketua RT tempat tinggal Bambang, Aban Sobandi, mengaku berada di lokasi kejadian saat kericuhan

Namun, ia tidak melihat jelas kejadian yang dialami Bambang karena pandangannya terhalang kerumunan.

Adapun Aban sempat meminta keterangan dari perekam video yang merupakan tetangga korban.

Perekam video menyebut Bambang diseret dan dianiaya sekelompok pria.

"(Bambang) Digeret-geret," ucap Aban.

Kompas.com telah mengonfirmasi tewasnya Bambang ke Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto.

Namun, belum ada respons dari Budi hingga berita ini ditayangkan.

Penjelasan Polisi

Di sisi lain, Polda Metro Jaya masih menyelidiki kasus pengeroyokan yang menewaskan Bambang dalam kericuhan di wilayah Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis malam.

“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jumat (28/8/2026).

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, pihaknya sempat mengevakuasi Bambang ketika menerima laporan mengenai adanya pengeroyokan di lokasi.

Namun, proses evakuasi tidak dapat langsung dilakukan karena situasi di lokasi saat itu masih belum kondusif. Petugas kemudian menunggu hingga kondisi lebih aman.

“Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” jelas Budi dalam kesempatan yang sama.

Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Setibanya di rumah sakit, Bambang dinyatakan telah meninggal dunia.

Jenazah Bambang selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk menjalani proses identifikasi dan visum.

Namun, dokter tidak melakukan pemeriksaan organ dalam untuk mengetahui penyebab kematian karena permintaan keluarga.

Keluarga Didatangi Pramono

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung kemudian mendatangi rumah duka keluarga Bambang.

Di sana, Pramono menawarkan untuk memberikan pekerjaan ke Yoga, salah satu anak dari Bambang.

Berdasarkan potongan video yang diterima Kompas.com, Pramono berada di dalam rumah almarhum Bambang dan berbincang dengan istri Bambang, Sudarsi (57), serta dua anak laki-lakinya, Wisnu dan Yoga.

Pramono kemudian menanyakan ke arah Yoga, yang mengenakan kaus berwarna hitam bergaris-garis putih, apakah ia benar-benar ingin bekerja.

"Yang penting mau kerja kan?" ucap Pramono.

Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan dari Sudarsih dan Yoga.

"Iya Pak mau. Saya apa aja mau," ucap Yoga.

"Bener ya?" tutur Pramono menanggapi jawaban Yoga.

Sudarsih kemudian juga ikut menanggapi pertanyaan Pramono bahwa anak laki-lakinya tersebut betul-betul ingin bekerja, apapun tawarannya.

"Dia apa aja mau," tambah Sudarsih.

Sementara Warga Pejompongan meminta Pramono Anung mendorong pengusutan tuntas atas kematian Bambang.

Tuntutan tersebut disampaikan warga saat Pramono keluar dari rumah mendiang Bambang.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, sejumlah tetangga dan warga sekitar yang telah menunggu di gang permukiman di pinggir rel kereta api langsung menyerukan tuntutan agar kasus tersebut diusut.

"Usut tuntas! Tangkap pelakunya, Pak!" seru para warga serentak kepada Pramono.

Mendengar seruan tersebut, Pramono tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya. Ia juga sempat menyalami sejumlah warga sebelum meninggalkan lokasi.

Ketua RW 06 Bendungan Hilir Rabiono mengatakan warga dan tetangga yang mengenal Bambang memang mendesak agar kasus tersebut diusut hingga tuntas.

Menurut Rabiono, warga berharap Pramono dapat mendorong kepolisian untuk menyelidiki dan menangkap orang-orang yang mengeroyok Bambang hingga meninggal dunia.

"Ya oh iya jelas, itu harus ada lah, harus diusut tuntas, dicari pelakunya kan, karena kita kan enggak tahu semalam itu massa nya siapa dan dari mana," kata Rabiono kepada wartawan di lokasi, Jumat malam.

Rabiono mengatakan warga Pejompongan sebenarnya sudah terbiasa dengan kegiatan demonstrasi yang berlangsung di sekitar tempat tinggal mereka.

Namun, ia menegaskan bahwa warga tetap menuntut keadilan ketika terdapat korban akibat pengeroyokan dalam kericuhan.

Komentar Terbanyak Lainnya

Bagikan berita ini melalui