India Minta Warganya Tak Tangkap Ikan

India Minta Warganya Tak Tangkap Ikan "Aneh" Usai Banjir Nepal

3 jam lalu

Munculnya spesies ikan berukuran tidak biasa ini terjadi setelah air banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Nepal mengalir ke hilir.

Swipe untuk menutup

India Minta Warganya Tak Tangkap Ikan "Aneh" Usai Banjir Nepal

05/09/2026, 14:52 WIB
India Minta Warganya Tak Tangkap Ikan

NEW DELHI, KOMPAS.com - Otoritas Pemerintah Negara Bagian Bihar, India merilis imbauan yang melarang warganya untuk membeli, menjual, atau mengonsumsi ikan asing yang bermunculan di aliran sungai setempat. 

Fenomena munculnya spesies ikan berukuran tidak biasa ini terjadi setelah air banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Nepal mengalir ke hilir melalui Sungai Trishuli, Gandak, dan Kosi. 

Bencana ini turut membawa material reruntuhan, kontaminan limbah, hingga memicu kasus keracunan dan sakit pada sejumlah warga yang nekat memakan hasil tangkapan tersebut.

Departemen Peternakan, Perikanan, dan Sumber Daya Hewan Bihar menegaskan, bahaya utama bukan terletak pada spesies ikan, melainkan zat beracun, limbah, serta bangkai hewan yang diserap oleh ikan selama hanyut terbawa arus deras dari kolam dan waduk di Nepal.

"Tanpa identitas atau konfirmasi dari departemen terkait, jangan mengonsumsi ikan yang tidak dikenal atau aneh," bunyi imbauan itu, dikutip dari The Independent, Jumat (4/9/2026).

"Ikan-ikan ini berpindah dari habitat normalnya dan bersentuhan dengan limbah serta kontaminan di sepanjang jalan," sambungnya.

Temuan lele raksasa

Para nelayan di kawasan Champaran Barat, Champaran Timur, Gopalganj, Bagaha, hingga Saran melaporkan lonjakan hasil tangkapan ikan dengan bobot mencapai 27 hingga 45 kilogram, termasuk bentuk fisik tidak biasa yang menyerupai lumba-lumba. 

Sebagian besar ikan asing tersebut dilaporkan langsung mati tidak lama setelah diangkat dari air.

Direktur Wildlife Trust of India, Sameer Kumar Sinha menjelaskan, sebagian besar spesies yang masuk ke Sungai Gandak kemungkinan merupakan Bagarius bagarius atau lele goonch (Gochita).

Ini merupakan spesies terancam punah dari sungai berarus deras Himalaya yang dapat membusuk dengan sangat cepat setelah mati.

"Beberapa jenis ikan aneh dan tidak biasa telah terlihat di arus deras sungai-sungai di Bihar setelah banjir bandang di Nepal," ujar Chhatu Sahani, seorang nelayan di dermaga Mangalpur, Gopalganj. 

"Kami sangat jarang melihat ikan seperti ini dalam tangkapan normal kami. Kebanyakan dari mereka mati setelah ditangkap," tambahnya. 

Ancaman kontaminasi air

Selain membawa ikan beracun, material banjir dari Nepal mengangkut endapan lumpur, potongan kayu, proyek pembangkit listrik yang hancur, hingga tabung gas dan limbah domestik. 

Para ahli kesehatan memperingatkan, tercampurnya air banjir terkontaminasi dengan fasilitas air minum warg berpotensi memicu wabah penyakit penularan air seperti diare parah, kolera, tifus, serta hepatitis A dan E.

Situasi kesehatan di wilayah perbatasan Bihar kian mengkhawatirkan mengingat kadar arsenik dan zat besi di tanah setempat sebelumnya telah melebihi batas aman. 

Di sisi lain, genangan air yang meluap diprediksi menjadi sarang pembiakan nyamuk pemicu demam berdarah dan malaria, serta mengancam ketahanan pangan akibat kerusakan luas pada lahan pertanian warga.

Terpopuler Lainnya

Pentagon Geger, Puluhan Pejabat Dites Poligraf Buntut Informasi Bocor

Pentagon Geger, Puluhan Pejabat Dites Poligraf Buntut Informasi Bocor

7 jam lalu

Langkah ini diambil untuk mengusut kebocoran informasi kepada wartawan terkait kondisi menipisnya stok amunisi AS akibat perang Iran.

Swipe untuk menutup

Pentagon Geger, Puluhan Pejabat Dites Poligraf Buntut Informasi Bocor

05/09/2026, 11:00 WIB
Pentagon Geger, Puluhan Pejabat Dites Poligraf Buntut Informasi Bocor

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Tim penyidik pemerintah Amerika Serikat mewajibkan sekitar 50 perwira dan pejabat sipil di lingkungan Staf Gabungan militer AS menjalani tes poligraf (lie detector). 

Langkah ini diambil untuk mengusut kebocoran informasi kepada wartawan terkait kondisi menipisnya stok amunisi AS akibat perang Iran.

Penggunaan tes poligraf jajaran pimpinan tertinggi militer AS ini disebut belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern Pentagon. 

Selain untuk mengidentifikasi pembocor informasi rahasia, langkah ini dipandang sebagai upaya intimidasi terbuka untuk menekan potensi kebocoran data personel di masa mendatang.

"Mengamankan informasi rahasia sangat penting untuk memastikan keselamatan AS dan pasukan kita yang ditempatkan di seluruh dunia," kata Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, dikutip dari New York Times, Jumat (4/9/2026). 

"Departemen tidak berkomentar tentang masalah internal personel atau investigasi, tetapi menanggapi semua kebocoran informasi rahasia keamanan nasional dengan sangat serius dan melakukan investigasi yang sesuai," sambungnya.

Sorotan kepemimpinan Pete Hegseth

Penyelidikan ini mengemuka di tengah kecurigaan dan paranoia mendalam di Pentagon di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. 

Sejak mengemban jabatan, Hegseth dilaporkan telah memblokir promosi atau memecat sedikitnya 80 perwira tinggi militer, hingga membatasi akses peliputan jurnalis di Gedung Pentagon. 

Bahkan, ia memecat pemimpin redaksi media Stars and Stripes usai pemberitaan mengenai kondisi operasional kapal induk USS Abraham Lincoln.

Banyak pihak menilai, penggunaan pemeriksaan poligraf massal terhadap puluhan jenderal dan pejabat senior Staf Gabungan melampaui batasan wewenang lazim yang pernah diterapkan di lingkungan Departemen Pertahanan AS.

"Saya belum pernah melihat poligraf digunakan secara luas atau pada tingkat senioritas seperti ini. Menurut pengalaman saya, ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Donald J Guter, mantan Jaksa Agung Angkatan Laut AS periode 2000–2002.

Gelombang kritik

Meskipun Presiden Donald Trump secara terbuka mengecam kebocoran data tersebut, gelombang penolakan dan kritik keras justru mulai berdatangan dari jajaran politisi Partai Republik di parlemen.

Gaya manajemen Hegseth yang dianggap destruktif dan sering kali memicu kontroversi, dinilai mengancam stabilitas manajemen pertahanan nasional serta kesiapan tempur personel militer AS di lapangan.

"Saya belum pernah menyaksikan manajemen yang lebih tidak becus terhadap para pria dan wanita pemberani yang melayani negara kita," ujar Senator dari Partai Republik Thom Tillis.

"Dia merasa terintimidasi oleh kompetensi dan malah memicu perang budaya daripada dengan serius memperhatikan pekerjaan penting pertahanan nasional kita, serta kesehatan dan kesejahteraan pasukan tempur kita," tambahnya.

Tillis juga mendesak Trump untuk mengevaluasi posisi Hegseth.

Internasional Lainnya

Ditanya Nasib Baterai Bekas Mobil Listrik, Ini Kata BYD Indonesia

Ditanya Nasib Baterai Bekas Mobil Listrik, Ini Kata BYD Indonesia

18 jam lalu

Baterai puluhan ribu mobil listrik BYD mulai menjadi perhatian. Perusahaan menyiapkan langkah untuk membangun ekosistem baterai di RI.

Swipe untuk menutup

Ditanya Nasib Baterai Bekas Mobil Listrik, Ini Kata BYD Indonesia

05/09/2026, 00:00 WIB
Ditanya Nasib Baterai Bekas Mobil Listrik, Ini Kata BYD Indonesia
Penulis: Dio Dananjaya
|
Editor: Aditya Maulana

SUBANG, KOMPAS.com – BYD terus memperluas ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Selain membangun fasilitas produksi mobil, perusahaan asal China tersebut juga menyiapkan langkah lanjutan untuk pengelolaan baterai kendaraan listrik yang beredar di Tanah Air.

Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao mengatakan, pengembangan ekosistem baterai menjadi bagian dari rencana investasi BYD di Indonesia.

Namun, ketika ditanya mengenai nasib puluhan ribu baterai mobil listrik BYD yang telah beredar di Indonesia, ia lebih dulu menjelaskan perkembangan fasilitas manufaktur perusahaan.

Menurut Eagle, BYD bergerak cukup cepat dalam membangun basis produksinya di Indonesia. Ke depan, seluruh model kendaraan BYD yang akan diperkenalkan dan diluncurkan ditargetkan diproduksi langsung di dalam negeri.

“Jika kita membandingkannya dengan kondisi dua tahun lalu, kami bergerak sangat cepat. Seluruh model kendaraan BYD yang akan kami luncurkan dan perkenalkan ke depan akan diproduksi langsung di Indonesia,” ujar Eagle saat ditanya wartawan di Subang, dikutip Sabtu (5/9/2026).

BYD Siapkan Perakitan Baterai Lokal

Saat ini, fasilitas BYD di Subang telah memasuki tahap perakitan akhir kendaraan. Namun, BYD menegaskan fasilitas tersebut nantinya tidak hanya digunakan untuk proses perakitan.

Perusahaan berencana membawa proses manufaktur secara lebih lengkap melalui skema Completely Knocked Down (CKD), mulai dari stamping, welding, hingga final assembly.

Langkah tersebut diharapkan memperkuat basis industri otomotif BYD di Indonesia.
Tidak hanya kendaraan, BYD juga tengah menyiapkan perakitan baterai di dalam negeri.

Proses tersebut ditargetkan mulai berjalan dalam waktu dekat dan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kandungan lokal kendaraan listrik BYD.

“Terkait dengan baterai kendaraan listrik, kami juga telah merencanakan proses perakitan (assembly) baterai di dalam negeri dalam waktu dekat,” kata Eagle.

Menurut dia, tahap awal perakitan baterai lokal tersebut diarahkan untuk mendukung pencapaian TKDN sebesar 60 persen pada Januari 2027.

Daur Ulang Baterai Jadi Bagian Ekosistem

Rencana perakitan baterai di dalam negeri menjadi langkah awal BYD dalam membangun ekosistem baterai di Indonesia. Perusahaan juga menyatakan akan terus memperbesar investasi dan melengkapi ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air.

Meski demikian, terkait secara spesifik mekanisme daur ulang baterai bekas dari puluhan ribu mobil listrik BYD yang telah beredar di Indonesia, Eagle dalam kesempatan tersebut belum memaparkan detail mengenai fasilitas, teknologi, maupun waktu pelaksanaannya.

Pernyataan Eagle lebih menekankan bahwa pengembangan baterai lokal merupakan bagian dari strategi jangka panjang BYD untuk membangun industri kendaraan listrik yang lebih terintegrasi di Indonesia.

“Kami akan terus memperbesar nilai investasi dan berupaya melengkapi seluruh ekosistem kendaraan listrik di Indonesia,” ucapnya.

Komentar Terbanyak Lainnya

Bagikan berita ini melalui