Hadapi Tenaga 815 Bhp, Begini Bridgestone Kembangkan Ban untuk Formula E GEN4

Hadapi Tenaga 815 Bhp, Begini Bridgestone Kembangkan Ban untuk Formula E GEN4

21 jam lalu

Bridgestone kembangkan ban POTENZA GEN4 untuk menopang performa mobil balap Formula E GEN4 yang berdaya puncak hingga 815 bhp.

Swipe untuk menutup

Hadapi Tenaga 815 Bhp, Begini Bridgestone Kembangkan Ban untuk Formula E GEN4

03/10/2026, 08:00 WIB
Hadapi Tenaga 815 Bhp, Begini Bridgestone Kembangkan Ban untuk Formula E GEN4

KOMPAS.com – Formula E akan memasuki era baru pada musim 2026/2027 dengan mobil GEN4. Era ini juga menandai Bridgestone sebagai pemasok ban tunggal untuk seluruh tim yang berlaga di kejuaraan balap listrik tersebut.

Peran itu membawa tantangan tersendiri. GEN4 merupakan mobil tercepat dan paling bertenaga dalam sejarah Formula E dengan daya puncak 600 kilowatt (KW) atau sekitar 815 brake horsepower (bhp), kecepatan maksimum 335 kilometer per jam, serta permanent active all-wheel drive.

Kemampuan membuat persyaratan terhadap ban menjadi lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Untuk menjawab kebutuhan itu, Bridgestone mengembangkan dua jenis ban, yakni POTENZA GEN4 untuk berbagai kondisi cuaca dan POTENZA GEN4 for TYPHOON TYRE untuk kondisi hujan lebat. Keduanya disiapkan untuk digunakan mulai musim Formula E 2026/2027.

Executive Officer, Chief Product Officer, dan Head of Global Motorsports Bridgestone Corporation Hiroshi Imai mengatakan, pengembangan POTENZA GEN4 dilakukan untuk mengoptimalkan performa mobil GEN4.

“Dalam mengembangkan POTENZA GEN4, kami mendorong teknologi hingga batas maksimal untuk sepenuhnya mengoptimalkan performa luar biasa GEN4,” ujar Imai dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (2/10/2026).

Ia melanjutkan, kehadiran POTENZA GEN4 for TYPHOON TYRE juga menjadi bagian dari evolusi ban pada era GEN4. Ban tersebut disiapkan agar pembalap tetap dapat mendapatkan daya cengkeram pada kondisi lintasan basah.

POTENZA GEN4, jaga grip dan daya tahan sekaligus

Pengembangan POTENZA GEN4 tidak hanya berfokus pada daya cengkeram. Ban ini juga dikembangkan dengan mempertimbangkan aturan Formula E yang secara umum tidak mengharuskan pergantian ban di tengah balapan.

Oleh karena itu, grip perlu diseimbangkan dengan ketahanan tapak dan daya tahan ban.

Untuk mencapai karakter tersebut, Bridgestone menggunakan kompon yang mengandung special polymer serta dirancang hingga tingkat molekuler dan recovered carbon black. Kombinasi tersebut dikembangkan untuk menghadapi perubahan temperatur dan beragam kondisi permukaan jalan.

Tak hanya itu, POTENZA GEN4 juga dirancang untuk memberikan daya cengkeram tinggi, kemampuan beradaptasi terhadap berbagai kondisi jalan dan cuaca, serta daya tahan untuk mempertahankan performa sejak awal hingga akhir balapan.

Sebagai informasi, FIA Formula E Musim 2026/27 akan berlangsung dalam 21 balapan di 13 kota dengan lintasan yang memiliki karakter berbeda-beda.

POTENZA GEN4 for TYPHOON TYRE, ban khusus untuk kondisi hujan lebat

Sementara itu, POTENZA GEN4 for TYPHOON TYRE disediakan untuk menghadapi kondisi basah. TYPHOON TYRE sendiri merupakan nama spesifikasi yang ditetapkan FIA untuk ban heavy wet yang digunakan dalam kejuaraan dunia ABB FIA Formula E.

Ban tersebut menggunakan silika yang berasal dari sekam padi. Bridgestone juga menerapkan teknologi miliknya untuk meningkatkan daya cengkeram dalam kondisi basah serta kemampuan membuang air.

POTENZA GEN4 for TYPHOON TYRE dirancang agar kendaraan dapat tetap melaju stabil ketika hujan lebat. Ban tersebut juga memberikan daya cengkeram dalam kondisi basah dengan genangan air yang tinggi di permukaan lintasan.

Dikembangkan lewat simulasi dan pengujian langsung

Pengembangan kedua ban tersebut bahkan dimulai ketika mobil GEN4 belum sepenuhnya selesai. Dikutip dari situs resmi Bridgestone, Rabu (30/9/2026), Imai menjelaskan bahwa pengembangan pada tahap awal dilakukan melalui simulasi karena mobil GEN4 belum tersedia untuk pengujian langsung.

Setelah GEN4 mulai diuji di lintasan, Bridgestone kemudian mengevaluasi hasil pengembangan tersebut secara langsung.

Imai menambahkan, sejak pengujian lintasan pertama, Bridgestone sudah mampu mencapai tingkat performa yang tinggi. Menurut dia, hasil tersebut menunjukkan teknologi, keahlian, dan pengalaman yang telah dibangun perusahaan selama bertahun-tahun di dunia balap motor.

Pengujian ban juga dilakukan menggunakan kendaraan GEN4 di Eropa dengan total jarak lebih dari 6.500 kilometer.

Selama pengujian, Bridgestone mengevaluasi sejumlah faktor, antara lain tyre footprint, karakter pemanasan ban, perubahan performa dalam penggunaan panjang, serta umpan balik dari pembalap. Pengujian fisik seperti pengukuran grip dengan instrumen viskoelastisitas dan verifikasi pola tapak juga dilakukan sebagai bagian dari pengembangan.

Rangkaian pengujian tersebut digunakan untuk memaksimalkan performa ban sebelum digunakan dalam balapan Formula E secara penuh.

Motorsport sebagai ruang pengembangan teknologi

Keterlibatan di Formula E juga menjadi kelanjutan dari pendekatan Bridgestone terhadap motorsport sebagai ruang pengembangan teknologi.

Bridgestone menyebut motorsport sebagai “laboratorium bergerak” yang memungkinkan perusahaan mengembangkan teknologi dalam kondisi balap yang ekstrem. Pengalaman tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan ban kendaraan penumpang ataupun komersial.

Formula E sendiri menjadi salah satu ruang terbaru bagi Bridgestone untuk menerapkan pendekatan tersebut. Terlebih, GEN4 membawa peningkatan performa serta tuntutan ban yang lebih tinggi ketimbang generasi sebelumnya.

Mulai musim 2026/2027, seluruh tim Formula E akan menggunakan ban Bridgestone. Dari tahap simulasi, pengujian lebih dari 6.500 kilometer, hingga kondisi balapan sesungguhnya, POTENZA GEN4 dan POTENZA GEN4 for TYPHOON TYRE akan menjadi bagian dari era baru kompetisi balap listrik tersebut.

Brandzview Lainnya

Kasus Dugaan Pungli Alkid Yogyakarta Dihentikan, Polisi: Tak Ada Unsur Pemerasan, Parkir Rp 6 Juta Hasil Kesepakatan

Kasus Dugaan Pungli Alkid Yogyakarta Dihentikan, Polisi: Tak Ada Unsur Pemerasan, Parkir Rp 6 Juta Hasil Kesepakatan

8 jam lalu

Polresta Yogyakarta menyebut dugaan pungli dan pemerasan di Alkid tak terbukti. Uang Rp 6 juta dinyatakan sebagai kompensasi yang disepakati.

Swipe untuk menutup

Kasus Dugaan Pungli Alkid Yogyakarta Dihentikan, Polisi: Tak Ada Unsur Pemerasan, Parkir Rp 6 Juta Hasil Kesepakatan

03/10/2026, 20:30 WIB
Kasus Dugaan Pungli Alkid Yogyakarta Dihentikan, Polisi: Tak Ada Unsur Pemerasan, Parkir Rp 6 Juta Hasil Kesepakatan
Editor: Tri Indriawati

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Polresta Yogyakarta menghentikan penyelidikan dugaan pungutan liar (pungli) dan pemerasan yang dialami pelaku usaha kuliner di kawasan Alun-alun Kidul (Alkid), Yogyakarta.

Polisi menyimpulkan, peristiwa tersebut tidak memenuhi unsur tindak pidana ringan maupun pemerasan setelah memeriksa 17 orang dan meminta pendapat ahli hukum pidana.

Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Ari Setyawan Wibowo mengatakan, uang Rp 6 juta yang sebelumnya menjadi sorotan merupakan kompensasi penggunaan area parkir selama lima hari yang telah disepakati antara pihak Bolosego dan pengelola.

“Dalam pelaksanaan event tersebut terdapat kesepakatan antara pihak Bolosego dengan pengelola area parkir terkait penggunaan area untuk kegiatan selama lima hari, termasuk kompensasi uang Rp6 juta yang disepakati para pihak,” kata Ari, Jumat (2/10/2026).

Pihak-pihak yang diperiksa antara lain Bolosego, pengelola area parkir, paguyuban dan pedagang di Alun-alun Kidul, Kraton Yogyakarta, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, anggota Polsek setempat, serta ahli hukum pidana.

Bolosego disebut sudah mendapat izin dari Kraton

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menemukan bahwa Bolosego telah memperoleh izin dari Kraton Yogyakarta sebelum kegiatan berlangsung.

Izin tersebut tercantum dalam surat Nomor 0767/KHP/PHG/SI/Mulud.IX/BE-1960.2006 tertanggal 10 September 2026.

Surat itu ditandatangani GKR Condrokirono selaku Penghageng Kawedanan Panitrapura Kraton Yogyakarta.

Menurut polisi, izin penggunaan lokasi tersebut diberikan tanpa pungutan biaya.

Di luar izin tersebut, Bolosego kemudian membuat kesepakatan dengan pengelola area parkir terkait penggunaan lokasi kegiatan selama lima hari dengan kompensasi Rp 6 juta.

Namun, kegiatan yang direncanakan berlangsung selama lima hari itu berhenti setelah satu hari.

Setelah persoalan tersebut mencuat dan difasilitasi Polsek Kraton, sebesar Rp 3 juta dari uang kompensasi dikembalikan kepada pihak Bolosego.

Sementara Rp 3 juta lainnya disebut telah digunakan untuk pengelolaan sampah, paguyuban, serta kas pengelola parkir.

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar yang digunakan kepolisian dalam mengkaji ada atau tidaknya tindak pidana.

Polisi: Tak memenuhi unsur pemerasan

Ari mengatakan, penyidik juga mendalami dugaan pemerasan dengan melihat apakah terdapat unsur pemaksaan, kekerasan, atau ancaman kekerasan dalam penyerahan uang tersebut.

Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan, polisi menyatakan unsur tersebut tidak ditemukan.

“Berdasarkan fakta dan keterangan yang kami peroleh dalam proses penyelidikan serta pendapat ahli pidana, kami menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut tidak memenuhi kualifikasi tindak pidana ringan maupun unsur tindak pidana pemerasan,” tegas Ari.

Ia menjelaskan, lokasi yang digunakan untuk kegiatan tersebut bukan bagian dari kewenangan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam penyelenggaraan perparkiran.

Karena itu, menurut hasil kajian polisi dan ahli pidana, ketentuan peraturan daerah mengenai perparkiran tidak dapat diterapkan dalam perkara tersebut.

Lokasi yang dimaksud berada di halaman Sasono Hinggil dan berstatus tanah Kasultanan.

Menurut hasil penyelidikan, lokasi tersebut dikelola oleh seorang warga bernama Lilik berdasarkan surat keterangan yang ditandatangani GBPH H. Prabukusumo pada 29 Agustus 2007.

“Sedangkan, terkait dugaan pemerasaan, dari hasil penyelidikan tidak ditemukan adanya unsur pemaksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan sebagaimana yang dipersyaratkan dalam ketentuan pidana,” jelas Ari.

Polisi sebut penyelidikan dilakukan untuk verifikasi informasi viral

Kasus tersebut sebelumnya ramai diperbincangkan setelah video terkait dugaan pungutan terhadap pelaku usaha kuliner di kawasan Alkid beredar di media sosial.

Menurut Ari, informasi tersebut tetap ditindaklanjuti karena telah menimbulkan perhatian masyarakat.

“Kami memahami bahwa informasi awal yang beredar di media sosial telah menimbulkan perhatian dan keresahan di masyarakat, khususnya di Yogyakarta,” katanya.

Polisi kemudian meminta keterangan dari pihak-pihak yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

“Setiap informasi tersebut tetap kami tindak lanjuti dan verifikasi dengan meminta keterangan dari seluruh pihak terkait,” tegasnya.

Ari mengatakan, hasil penyelidikan disampaikan kepada publik sebagai bentuk transparansi kepolisian.

“Kemudian hasil penyelidikan ini kami sampaikan secara terbuka sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas Polri kepada masyarakat,” tutup Ari.

JCW khawatir muncul kasus serupa

Sementara itu, Jogja Corruption Watch (JCW) mengkritisi penghentian penyelidikan tersebut.

Aktivis JCW Baharuddin Kamba menilai, penyelesaian perkara ini berpotensi menimbulkan preseden jika tata kelola lahan dan parkir di Yogyakarta tidak diperjelas.

Menurutnya, kesepakatan mengenai pemberian uang tetap perlu menjadi perhatian agar tidak membuka ruang bagi praktik serupa di lokasi lain.

"Pertama, jika alasannya demikian, dikhawatirkan akan muncul kasus serupa di tempat atau lokasi lainnya. Kedua, tidak akan menimbulkan efek jera bagi yang lainnya jika ke depannya ditemukan kasus serupa. Padahal, jelas ada peristiwa meminta sejumlah uang kepada Bolosego," papar Kamba.

JCW mendorong adanya kejelasan mengenai wilayah parkir yang berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kota Yogyakarta, Kraton Yogyakarta, maupun masyarakat.

"Perlu ada kejelasan dan penegasan terkait wilayah mana yang menjadi objek parkir yang dikelola Pemerintah Kota Yogyakarta dan mana saja yang dikelola pihak Keraton Yogyakarta atau masyarakat setempat. Termasuk juga besaran tarif di masing-masing wilayah, harus jelas," tegas Kamba.

JCW juga mendorong penggunaan teknologi dalam tata kelola retribusi untuk meningkatkan akuntabilitas.

Selain itu, Kamba menyoroti anggota kepolisian yang sebelumnya sempat diperiksa dan dikenai penempatan khusus selama penanganan kasus.

"Oknum polisi yang sempat menjalani patsus (penempatan khusus) harus segera dikeluarkan dan pimpinan, dalam hal ini Kapolresta Yogyakarta cq Kasie Propam Polresta Yogyakarta, meminta maaf secara terbuka. Karena, merupakan satu kesatuan peristiwa yang tidak dapat dipisahkan," ujar Kamba.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul "Polisi Sebut Dugaan Pungli di Alkid Tak Terbukti". 

Terpopuler Lainnya

Napi AS Christa Pike Menderita akibat 2 Suntik Mati Gagal, Kini Kritis

Napi AS Christa Pike Menderita akibat 2 Suntik Mati Gagal, Kini Kritis

12 jam lalu

Proses suntik mati Christa Pike tidak berjalan lancar. Suasana ruang eksekusi mengerikan dan diselimuti kerahasiaan.

Swipe untuk menutup

Napi AS Christa Pike Menderita akibat 2 Suntik Mati Gagal, Kini Kritis

03/10/2026, 16:52 WIB
Napi AS Christa Pike Menderita akibat 2 Suntik Mati Gagal, Kini Kritis

NASHVILLE, KOMPAS.com - Terpidana mati di Tennessee, Amerika Serikat (AS), Christa Pike (50), mengalami penderitaan yang disebut tim pengacaranya tidak perlu setelah dua kali upaya eksekusi suntik mati gagal pada Rabu (30/9/2026).

Pike selamat, tetapi kondisinya kritis dan harus dirawat di rumah sakit. Tim kuasa hukumnya mengecam proses eksekusi karena dinilai melanggar hak klien mereka.

"Eksekusi ini menyebabkan Nona Pike mengalami penderitaan yang tidak perlu, dan terjadi dalam pelanggaran haknya untuk dieksekusi bebas dari hukuman yang kejam dan tidak biasa," tulis tim pengacara dalam dokumen pengajuan ke pengadilan, dikutip dari BBC.

Kuasa hukum Pike, Randy Spivey, pada Kamis (1/10/2026), mengatakan bahwa kliennya sedang mendapatkan perawatan medis untuk menyelamatkan nyawanya.

"Kami belum mengetahui prognosis atau banyak pembaruan tentang kesehatannya saat ini. Tapi kami tahu bahwa dia masih hidup sekarang," kata Spivey kepada wartawan.

Pemasangan infus berlangsung satu jam

Eksekusi Pike sempat diwarnai pertarungan hukum pada menit-menit terakhir sebelum Mahkamah Agung AS akhirnya mengizinkan pelaksanaannya.

Namun, proses suntik mati itu tidak berjalan lancar. Tim kuasa hukum menggambarkan suasana ruang eksekusi mengerikan dan diselimuti kerahasiaan.

Menurut Spivey, tim eksekusi menghabiskan waktu satu jam untuk mencoba memasang jalur infus pada tubuh Pike.

"Tadi malam, tim eksekusi berusaha memasang jalur infus selama satu jam. Saya menghitung setidaknya ada tujuh jarum yang digunakan di lengan kirinya saja, salah satunya tampak bengkok saat ditarik dari lengannya setelah upaya yang gagal," ujar Spivey menjelaskan rincian kejadian.

Pike dilaporkan menerima dua dosis bahan kimia mematikan pentobarbital. Pemberian dosis kedua dilakukan sesuai protokol negara bagian apabila upaya pertama gagal.

Meski demikian, Pike tidak kunjung mengembuskan napas terakhir.

Spivey mengatakan, setelah dosis kedua diberikan, para pengamat ditempatkan di ruangan gelap di balik tirai yang tertutup. Beberapa menit kemudian, Pike terlihat masih bernapas.

"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di balik tirai itu. Saya tidak tahu kapan dan apakah tenaga medis mulai membantu," tambah Spivey.

Pike kemudian langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans.

May Martinez, ibu dari korban yang dibunuh Pike, juga datang ke Tennessee untuk menyaksikan eksekusi tersebut.

Setelah eksekusi gagal, Martinez mengatakan kepada NBC News bahwa situasinya sangat kacau.

Pengacara desak keringanan hukuman

Kegagalan eksekusi itu membuat para pengacara Pike kembali mendesak Gubernur Tennessee Bill Lee meringankan hukuman klien mereka. Permohonan tersebut sebelumnya selalu ditolak.

Pengacara Pike lainnya, Stephen Ferrell, mengatakan bahwa timnya juga sedang mempertimbangkan opsi hukum lain.

"Kami ingin memikirkan hal ini baik-baik dan kami ingin memastikan bahwa Pike pulih dan memiliki masukan mengenai apa yang dia inginkan," katanya.

Pike dijatuhi hukuman mati pada 1996 karena membunuh Colleen Slemmer (19).

Saat melakukan kejahatan itu, Pike masih berusia 18 tahun. Dia bersama kekasihnya, Tadaryl Shipp, memukuli, menyiksa, dan membunuh Slemmer.

Gubernur perintahkan investigasi independen

Menanggapi kekacauan dalam pelaksanaan eksekusi, Lee memerintahkan peninjauan independen.

Ia belum memastikan siapa yang akan memimpin evaluasi tersebut, tetapi menjanjikan investigasi menyeluruh yang akan memakan waktu.

"Ada banyak pertanyaan. Rakyat negara bagian kita berhak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan untuk itulah investigasi ini dilakukan," tegas Lee.

Lee juga memutuskan menunda seluruh eksekusi mati. Keputusan ini akan memengaruhi jadwal eksekusi terpidana pembunuh Gary Sutton, yang semula direncanakan pada 3 Desember mendatang.

Sementara itu, Departemen Pemasyarakatan Tennessee selaku pelaksana eksekusi membela proses yang dijalankan.

Dalam pernyataan resminya, departemen tersebut menegaskan bahwa seluruh langkah telah mengikuti protokol eksekusi negara bagian yang sah dan disetujui kantor jaksa agung.

"Bahan kimia suntik mati dalam protokol tersebut secara konsisten efektif, dan protokol tidak mengizinkan prosedur tambahan di luar apa yang dilakukan malam ini," sebut departemen itu.

Kantor Jaksa Agung Tennessee turut mendukung keputusan gubernur untuk mengadakan investigasi.

"Kami perlu tahu apa yang terjadi," tulis mereka.

Sumber: Kompas.com/Danur Lambang Pristiandaru

Internasional Lainnya

Viral Pedagang Tahu Diduga Dianiaya Sekelompok Orang di Depan USU

Viral Pedagang Tahu Diduga Dianiaya Sekelompok Orang di Depan USU

10 jam lalu

Video seorang pedagang tahu di Medan dianiaya sekelompok pria viral. Korban telah melapor dan polisi sedang menyelidiki kasus ini.

Swipe untuk menutup

Viral Pedagang Tahu Diduga Dianiaya Sekelompok Orang di Depan USU

03/10/2026, 19:23 WIB
Viral Pedagang Tahu Diduga Dianiaya Sekelompok Orang di Depan USU
Penulis: Goklas Wisely
|
Editor: Eris Eka Jaya

MEDAN, KOMPAS.com - Video bernarasi seorang pedagang tahu di Kota Medan diduga dianiaya sekelompok orang viral di media sosial.

Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat ada seorang wanita sedang berjualan tahu di Jalan Dr Mansyur, depan Universitas Sumatera Utara (USU).

Tak lama, ada sekelompok pria datang.

Cekcok mulut pun terjadi hingga menyasar seorang pedagang tahu pria inisial Y. Y akhirnya dipukuli sekelompok pria tersebut.

Aksi itu memicu pedagang wanita menangis histeris.

"Pedagang tahu di USU Kota Medan diduga dianiaya sekelompok pria," demikian narasi akun yang mengunggah video tersebut.

Rio, selaku pedagang tahu sekitar, mengatakan insiden itu terjadi pada Rabu (30/9/2026).

Menurutnya, saat itu perselisihan terjadi antara pedagang tahu dengan mantan bosnya.

"Setahuku bukan preman, tetapi pedagang juga. Cuma tidak tahu masalahnya apa. Mungkin soal lapak," tutur Rio saat ditemui pada Sabtu (3/10/2026).

Keterangan Polisi

Di lain pihak, Kapolsek Medan Baru Kompol Bambang Gunanti menyampaikan, korban telah membuat laporan.

"Saat ini kami masih menyelidiki apa persoalannya dengan memeriksa sejumlah saksi," ucap Bambang.

Viral Lainnya

IDGITAF Ungkap Inspirasi di Balik Lagu-lagu Viral: Kejujuran

IDGITAF Ungkap Inspirasi di Balik Lagu-lagu Viral: Kejujuran

1 hari lalu

Penyanyi IDGITAF mengungkapkan rahasia di balik lagu-lagunya yang kerap viral di media sosial. Kunci utamanya adalah kejujuran dan mengangkat tema kehidupan yang relatable.

Swipe untuk menutup

IDGITAF Ungkap Inspirasi di Balik Lagu-lagu Viral: Kejujuran

02/10/2026, 23:53 WIB
IDGITAF Ungkap Inspirasi di Balik Lagu-lagu Viral: Kejujuran
Penulis: Revi C. Rantung
|
Editor: Dian Maharani

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyanyi IDGITAF membocorkan sumber inspirasinya di balik karya lagu-lagunya yang kerap viral di media sosial.

Kata sang pelantun “Satu-satu” ini, dalam menciptakan sebuah lagu yang terpenting adalah jujur.

Dia juga menyebut inspirasinya dalam menciptakan lagu dari banyak hal.

“Inspirasinya sebenarnya banyak ya (dalam membuat lagu). Tapi kalau secara umum, aku selalu bilang kalau kejujuran adalah inspirasi yang utama,” kata IDGITAF saat ditemui di The Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) 2026 di Agora Mall daerah Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2026).

Dalam kesempatan itu, penyanyi yang kerap disapa Gita ini mengatakan ada alasan tertentu mengapa lagunya diterima hingga didengar sampai viral di media sosial.

Salah satunya menurut Gita, karena karyanya berbicara mengenai kehidupan.

“Karena menurut aku, mereka merasa persona aku itu dekat dan mudah diraih (relatable). Lagu-lagu aku membahas tentang kehidupan, dan aku membawakannya apa adanya tanpa memberikan kesan yang berlebihan,” tutur IDGITAF.

“Sikap aku di media sosial juga membuat mereka merasa aku tidak eksklusif, sehingga mereka merasa dekat dan punya peran kenapa musik aku bisa sedekat itu dengan pendengar,” tambah IDGITAF.

Seperti diketahui, IDGITAF menjadi salah satu penyanyi yang memiliki karya hits dan viral di media sosial, khususnya TikTok.

Beberapa lagu IDGITAF yang viral adalah “Satu-satu”, hingga “Sedia Aku Sebelum Hujan”.

Viral Lainnya

Napi AS Christa Pike Menderita akibat 2 Suntik Mati Gagal, Kini Kritis

Napi AS Christa Pike Menderita akibat 2 Suntik Mati Gagal, Kini Kritis

1 hari lalu

Proses suntik mati Christa Pike tidak berjalan lancar. Suasana ruang eksekusi mengerikan dan diselimuti kerahasiaan.

Swipe untuk menutup

Napi AS Christa Pike Menderita akibat 2 Suntik Mati Gagal, Kini Kritis

03/10/2026, 00:00 WIB
Napi AS Christa Pike Menderita akibat 2 Suntik Mati Gagal, Kini Kritis

NASHVILLE, KOMPAS.com - Terpidana mati di Tennessee, Amerika Serikat (AS), Christa Pike (50), mengalami penderitaan yang disebut tim pengacaranya tidak perlu setelah dua kali upaya eksekusi suntik mati gagal pada Rabu (30/9/2026).

Pike selamat, tetapi kondisinya kritis dan harus dirawat di rumah sakit. Tim kuasa hukumnya mengecam proses eksekusi karena dinilai melanggar hak klien mereka.

"Eksekusi ini menyebabkan Nona Pike mengalami penderitaan yang tidak perlu, dan terjadi dalam pelanggaran haknya untuk dieksekusi bebas dari hukuman yang kejam dan tidak biasa," tulis tim pengacara dalam dokumen pengajuan ke pengadilan, dikutip dari BBC.

Kuasa hukum Pike, Randy Spivey, pada Kamis (1/10/2026), mengatakan bahwa kliennya sedang mendapatkan perawatan medis untuk menyelamatkan nyawanya.

"Kami belum mengetahui prognosis atau banyak pembaruan tentang kesehatannya saat ini. Tapi kami tahu bahwa dia masih hidup sekarang," kata Spivey kepada wartawan.

Pemasangan infus berlangsung satu jam

Eksekusi Pike sempat diwarnai pertarungan hukum pada menit-menit terakhir sebelum Mahkamah Agung AS akhirnya mengizinkan pelaksanaannya.

Namun, proses suntik mati itu tidak berjalan lancar. Tim kuasa hukum menggambarkan suasana ruang eksekusi mengerikan dan diselimuti kerahasiaan.

Menurut Spivey, tim eksekusi menghabiskan waktu satu jam untuk mencoba memasang jalur infus pada tubuh Pike.

"Tadi malam, tim eksekusi berusaha memasang jalur infus selama satu jam. Saya menghitung setidaknya ada tujuh jarum yang digunakan di lengan kirinya saja, salah satunya tampak bengkok saat ditarik dari lengannya setelah upaya yang gagal," ujar Spivey menjelaskan rincian kejadian.

Pike dilaporkan menerima dua dosis bahan kimia mematikan pentobarbital. Pemberian dosis kedua dilakukan sesuai protokol negara bagian apabila upaya pertama gagal.

Meski demikian, Pike tidak kunjung mengembuskan napas terakhir.

Spivey mengatakan, setelah dosis kedua diberikan, para pengamat ditempatkan di ruangan gelap di balik tirai yang tertutup. Beberapa menit kemudian, Pike terlihat masih bernapas.

"Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di balik tirai itu. Saya tidak tahu kapan dan apakah tenaga medis mulai membantu," tambah Spivey.

Pike kemudian langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans.

May Martinez, ibu dari korban yang dibunuh Pike, juga datang ke Tennessee untuk menyaksikan eksekusi tersebut.

Setelah eksekusi gagal, Martinez mengatakan kepada NBC News bahwa situasinya sangat kacau.

Pengacara desak keringanan hukuman

Kegagalan eksekusi itu membuat para pengacara Pike kembali mendesak Gubernur Tennessee Bill Lee meringankan hukuman klien mereka. Permohonan tersebut sebelumnya selalu ditolak.

Pengacara Pike lainnya, Stephen Ferrell, mengatakan bahwa timnya juga sedang mempertimbangkan opsi hukum lain.

"Kami ingin memikirkan hal ini baik-baik dan kami ingin memastikan bahwa Pike pulih dan memiliki masukan mengenai apa yang dia inginkan," katanya.

Pike dijatuhi hukuman mati pada 1996 karena membunuh Colleen Slemmer (19).

Saat melakukan kejahatan itu, Pike masih berusia 18 tahun. Dia bersama kekasihnya, Tadaryl Shipp, memukuli, menyiksa, dan membunuh Slemmer.

Gubernur perintahkan investigasi independen

Menanggapi kekacauan dalam pelaksanaan eksekusi, Lee memerintahkan peninjauan independen.

Ia belum memastikan siapa yang akan memimpin evaluasi tersebut, tetapi menjanjikan investigasi menyeluruh yang akan memakan waktu.

"Ada banyak pertanyaan. Rakyat negara bagian kita berhak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan untuk itulah investigasi ini dilakukan," tegas Lee.

Lee juga memutuskan menunda seluruh eksekusi mati. Keputusan ini akan memengaruhi jadwal eksekusi terpidana pembunuh Gary Sutton, yang semula direncanakan pada 3 Desember mendatang.

Sementara itu, Departemen Pemasyarakatan Tennessee selaku pelaksana eksekusi membela proses yang dijalankan.

Dalam pernyataan resminya, departemen tersebut menegaskan bahwa seluruh langkah telah mengikuti protokol eksekusi negara bagian yang sah dan disetujui kantor jaksa agung.

"Bahan kimia suntik mati dalam protokol tersebut secara konsisten efektif, dan protokol tidak mengizinkan prosedur tambahan di luar apa yang dilakukan malam ini," sebut departemen itu.

Kantor Jaksa Agung Tennessee turut mendukung keputusan gubernur untuk mengadakan investigasi.

"Kami perlu tahu apa yang terjadi," tulis mereka.

Sumber: Kompas.com/Danur Lambang Pristiandaru

Komentar Terbanyak Lainnya

Bagikan berita ini melalui