SOLO, KOMPAS.com - Seorang warganet menyoroti keberadaan juru parkir (jukir) yang menarik tarif Rp 2.000 kepada warga yang datang ke Masjid Ash Shadiq, Jalan Urip Sumoharjo, Tegalharjo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah.
Warganet tersebut mengunggahnya lewat akun Threads @newrit*** dan menilainya sebagai tindakan yang tidak etis. Unggahan tersebut kemudian viral lantaran diunggah kembali oleh akun-akun Instagram.
Ramainya pembahasan menyoal adanya tarif parkir di masjid tersebut terus menjadi perbincangan hangat.
Kompas.com kemudian mendatangi lokasi untuk mengecek kebenaran unggahan tersebut. Saat tiba di lokasi pada Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 21.39 WIB, terpantau tidak ada aktivitas orang beribadah di masjid tersebut.
Pada masjid bagian dalam tertutup rapat dan gelap tanpa adanya lampu yang menyala. Beberapa lampu menyala pada bagian plang bertuliskan “Masjid Ash Shadiq”, langit-langit teras, toilet dan bangunan kecil yang berada di kawasan masjid.
Masjid tersebut berada di seberang kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Mesen dan berukuran tidak terlalu besar.
Tidak ada jukir di masjid tersebut, beberapa sepeda motor tampak terparkir di area dalam masjid yang gerbangnya tertutup rapat dan digembok. Sementara di depan masjid atau di jalur pedestrian, hanya ada beberapa sepeda motor yang membeli wedang ronde.
Salah seorang jukir yang berada di sekitar lokasi yang enggan disebutkan namanya mengaku tidak tahu menahu perihal adanya tarif parkir di Masjid Ash Shadiq.
“Mbuh (tidak tahu) ya. Saya malam (tugas parkirnya). Ini kan bukanya malam (menunjuk salah satu tempat penjualan makanan di sekitar lokasi),” ujar sumber tersebut saat ditemui Kompas.com, Jumat (28/8/2026) malam.
Saat ditanya kembali menyoal adanya tarif parkir Rp 2.000 di masjid tersebut, jukir tersebut mengatakan bahwa penarikan parkir terjadi lantaran lokasi tersebut kerap menjadi sasaran maling.
“Kalau setahu saya (tarif parkir) di jalan besar ini sering hilang. Motor, sepeda sering hilang. Di sana (masjid) sering hilang. Setahu saya di kompleks itu sering hilang. Tas perempuan hilang. Orang barangnya dijambret,” ungkapnya.
Ia melanjutkan bahwa belum lamini seorang karyawan bank kehilangan motornya yang diparkirkan tak jauh dari masjid.
“Baru seminggu hilang motor. Punya pegawainya. Dimaling orang. Motor diparkir nggak dikunci stang hilang,” terangnya.
Para jukir disebutnya telah memahami potensi kehilangan barang milik jemaah masjid maupun sekitar kawasan tersebut. Ia kemudian membenarkan bahwa masjid tersebut terdapat jukir.
“Kalau jalan besar itu, kalau nggak diparkiri hilang. Risikonya jalan raya,” kata jukir tersebut.
Ia sendiri datang menyesuikan dengan tempat yang ia jaga parkirnannya. Yakni pada pukul 18.00 hingga tutup pada pukul 00.00 WIB. Untuk tarif parkir di masjid tersebut, ia tidak menyebut angka pasti.
“Kalau (tarif parkir) masjid di semua ya, kalau di Solo itu ya seikhlasnya. Kasih Rp 1.000 ya diterima. Semua masjid di pinggir jalan ada (jukirnya). Coba di Masjid Agung, ada nggak,” kata jukir tersebut.
Ia mengatakan bahwa keberadaan jukir di tempat ibadah bertugas untuk mengamankan barang jemaah.
“Masalah diparkiri sama enggak, itu kan tergangung keamanane masjid. Misalnya masjid ada pemudanya, otomatis kan ada yang jaga. Kalau enggak ada yang jaga kan sering kehilangan. Orang salat, barang di luar, takut hilang, ada yang jaga,” terangnya.
Jukir tersebut mengatakan, kehilangan barang bahkan pernah dirasakan oleh salah seorang jemaah yang parkir di area dalam masjid. Berangkat dari kejadian tersebut, jukir pun memilih menjaga kendaraan hingga barang saat jam salat.
“Sepeda di dalam masjid aja hilang kok. (Ada jukir) selama salat. Setahu saya di Solo itu, masjid yang di jalan besar banyak yang diparkiri. Pertama untuk keamanan. Mereka diparkiri kan otomatis ada sebelumnya kehilangan-kehilangan. Pembayaran seikhlasnya,” tandasnya.
Senada dengan jukir tersebut, salah seorang jukir lainnya yang juga enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa kawasan tersebut rawan maling.
“Tahu dulu. Mobil habis ambil dari ATM, parkir di situ, uange diambil. Itu enggak ada yang jaga (jukirnya tidak ada),” ujar sumber tersebut saat ditemui Kompas.com, Jumat (28/8/2026) malam.
Ia mengatakan penarikan tarif parkir di Masjid Ash Shadiq demi keamanan barang jemaah.
“Kalau di masjid itu, kalau di dalam itu enggak dimintain. Kalau di luar itu kan dirapikan. Takutnya helmnya hilang. Takutnya motornya hilang. Yang takutkan yang punya motor toh,” terangnya.
Ia menyebutkan bahwa penarikan tarif parkir bersifat suka rela.
“Itu pun dikasih enggak apa-apa, enggak enggak apa-apa. Dikasih seikhlasnya. Nggak memaksa. Salatnya juga lancar. Seperti barang juga aman. Tapi ya enggak minta apa-apa. Orang ibadah itu enggak ada yang memaksa,” terangnya.
Namun saat ditanya terkait apakah para jukir juga bertanggung jawab atas kehilangan barang jemaah, ia mengaku bingung.
“Ya kita ya bingung. Ya enggak ada yang tanggung jawab. Siapa yang tanggung jawab?. (Intinya) Ya menjaga motor, menjaga barang semuanya. Semuanya pun apapun dijaga. Seperti HP pun ya dijaga. Yang ketinggalan di dashbord motor, kontake kadang ketinggalan,” jelasnya.
Ia pun menyoroti perihal tarif parkir Rp 2.000 yang diberikan kepada jukir yang telah membantu menjaga keamanan barang jemaah.
“Biar nyaman, enggak memaksa orang. Wong ibadah itu seperti dari mana-mana semuanya gitu kok dijaga. Ya takutnya kehilangan apa-apa. Jadi kita tuh gini-gini diviralke. Wong mung diwenehi (orang cuma dikasih) Rp 2.000 aja kok.”
“Duit Rp 2.000 aja dipermasalahke. Ya Allah, Robbi. Aku amalku luwih (lebih) iki (ini), timbal balikku luwih (lebih) akeh (banyak),” terangnya.
Ia sendiri mengaku menarik parkir di lokasi berbeda. Ia mengatakan kerap tak mempermasalahkan apabila pengendara yang tidak bisa membayar parkir.
“Nggak punya Rp 2.000, oh yaudah, nggak usah bayar. Kita tu ya gak memaksa. Urusan sandang pangan susah, cari pekerjaan susah. Wong parkir ya dijaga, untuk memberi nafkah anak istri. Tukang parkir tuh enggak semena-mena,” pungkasnya.
Kompas.com mencoba meminta konfirmasi Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perparkiran Dishub Solo, Haryono Nugroho terkait penarikan parkir di Masjid Ash Shadiq. Namun hingga berita ini diterjunkan, pihaknya belum memberikan respons.
Sebelumnya, unggahan foto yang mengeluhkan adanya penarikan tarif parkir di Masjid Ash Shadiq, Jalan Urip Sumoharjo, Tegalharjo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, viral di media sosial.
Dalam unggahannya, pemilik akun threads @newrit*** menyoroti keberadaan juru parkir (jukir) yang menarik tarif kepada warga yang datang ke masjid.
“Nyangka ngga, mau ke masjid pinggir jalan aja di parkiri, ga habis pikir tukang parkir negeri Solo ini semua-mua parkir. Kotak amal aja pake Qris masak harus bawa dompet buat tukang parkir," tulis dia.
“Semua sibuk berjamaah salat, beliau sibuk membalikkan stang motor. Padahal masjidnya ini di tengah Kota Solo di jalur lambat pula lahan parkirnya,” lanjutnya.
Pemilik akun juga menyertakan foto yang memperlihatkan seorang jukir dan lokasi parkir di Masjid Ash Shadiq.
Saat dikonfirmasi, pemilik akun @newrit***, Nurita Restu (27) mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada Minggu (23/8/2026) sekitar pukul 19.00 WIB.
“Kalau di situ Rp 2.000 yang saya liat ya. Walaupun saya enggak korban parkirannya ya, soalnya waktu itu saya cuma mampir beli wedang ronde di depan masjidnya. Dan sengaja saya masih duduk di atas motor sambil melihat tukang parkirnya,” ujar Nurita kepada Kompas.com, Jumat (28/8/2026) malam.
Nurita menilai keberadaan jukir di tempat ibadah kurang tepat dan dapat membuat masyarakat resah.
“Tukang parkir yg mematok parkir di tempat ibadah seperti masjid ini memang meresahkan masyarakat dan kurang etis kalo menurut saya,” ucap warga Desa Pucangsawit, Kelurahan/Kecamatan Jebres, Solo ini.
Menurut dia, sebagian besar orang yang datang ke lokasi merupakan jemaah yang hendak menunaikan ibadah dan biasanya tidak berada di masjid dalam waktu lama.
“Apalagi khususnya terhadap jemaah yang ingin menunaikan ibadah shalat yang waktunya sebentar jadi merasa harus mengeluarkan uang tunai buat parkir sedangkan kotak amal aja pake Qris,” terangnya.
Ia mengatakan, lokasi yang digunakan untuk parkir merupakan jalur pedestrian di sekitar masjid yang dikelilingi sejumlah warung. “
Jadi petugas parkir ini sengaja memanfaatkan momen shalat, dan kebanyakan tukang parkir di Solo ini sudah berseragam tapi tidak punya karcis yang resmi dari Pemkot (Pemerintah Kota),” terangnya.
Nurita berharap Pemerintah Kota Solo dapat menertibkan praktik parkir yang dinilai tidak semestinya, termasuk keberadaan jukir liar.
“Semoga Wali Kota Solo juga selalu konsisten tegas untuk menertibkan parkir liar yang banyak sekali di kota ini,” katanya.