Sisa Jejak Kehidupan di “Kampung Zombie” Jaktim, 20 Keluarga Masih Bertahan

Sisa Jejak Kehidupan di “Kampung Zombie” Jaktim, 20 Keluarga Masih Bertahan

3 jam lalu

Di tengah deretan rumah kosong di Kampung Zombie, Cililitan, Jaktim, masih ada beberapa keluarga yang menghuni rumah-rumah di sana.

Swipe untuk menutup

Sisa Jejak Kehidupan di “Kampung Zombie” Jaktim, 20 Keluarga Masih Bertahan

03/11/2026, 13:22 WIB
Sisa Jejak Kehidupan di “Kampung Zombie” Jaktim, 20 Keluarga Masih Bertahan

JAKARTA, KOMPAS.com - Sunyi dan sepi menyelimuti Kampung Nanggar Al-Hikmah, Gang Al-Hikmah RT 6 RW 7, Kelurahan Cililitan, Jakarta Timur, yang kini dikenal dengan sebutan “Kampung Zombie”.

Deretan rumah kosong dengan kondisi rusak dan terbengkalai menjadi pemandangan di kawasan bantaran anak Kali Ciliwung tersebut.

Meski sebagian besar penghuninya telah pergi akibat banjir berulang, sejumlah warga masih bertahan di tengah keterbatasan ekonomi dan lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.

Pantauan Kompas.com di lokasi, Selasa (3/11/2026), akses menuju permukiman hanya berupa gang sempit dan menurun dengan lebar sekitar satu meter.

Jalan tersebut adalah satu-satunya akses cepat menuju bantaran anak kali di kampung zombie tersebut.

Sementara sisa jalan lainnya sudah menjadi jalan buntu.

Sepanjang jalan setapak, yang hanya bisa dilewati pejalan kaki, terlihat dinding rumah retak, sisa lumpur banjir, serta bangunan yang dipenuhi semak liar.

Memasuki bagian dalam kampung, sejumlah rumah tampak mengalami kerusakan parah, mulai dari atap jebol, langit-langit runtuh, tembok berlubang hingga struktur bangunan yang miring.

Lantai rumah dipenuhi lumpur kering yang menggunung.

Beberapa bangunan masih menyisakan perabot rumah tangga meski sudah lama ditinggalkan.

Di antara deretan rumah kosong, masih terlihat warga yang beraktivitas, seperti membersihkan saluran kali dan mengumpulkan sampah plastik

Sedikit kehidupan juga masih terasa dari suara televisi yang terdengar samar dari salah satu rumah yang masih dihuni.

Namun, warga tak terlihat berlalu lalang di kawasan ini.

Ketua RT 6/RW 7 Kampung Nanggar Al-Hikmah, Nurhidayat mengatakan, terdapat 43 kepala keluarga (KK) yang tercatat di lingkungannya.

Namun, sekitar 23 KK di antaranya sudah meninggalkan kawasan tersebut karena tidak tahan menghadapi banjir yang berulang.

"Yang sudah pindah sekitar 23 KK. Sisanya ya hidup seadanya di sini soalnya sewa di luar mahal," ujar Nurhidayat saat ditemui Kompas.com di keduamannya di Kampung Nanggar Al-Hikmah, Selasa (3/11/2026).

Menurut Nurhidayat, sebagian warga kesulitan meninggalkan rumah karena bangunan tersebut merupakan milik pribadi yang sulit dijual maupun disewakan.

Banjir sudah melanda kawasan itu sejak 1996, tetapi dampaknya semakin parah pada 2005, 2007, dan 2015.

Ketinggian air bahkan bisa mencapai sekitar dua meter hingga merendam rumah warga dalam waktu singkat.

Saat banjir besar terjadi, warga terpaksa mengungsi ke tempat lain yang lebih aman.

Nurhidayat mengatakan, warga sebenarnya berharap ada pembebasan lahan maupun relokasi agar mereka tidak terus-menerus menghadapi ancaman banjir.

Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai rencana tersebut.

"Rumahnya ini milik pribadi, ya susah mau dijual atau disewakan juga enggak ada yang mau. Makanya saya dorong pembebasan dan relokasi, tapi warga juga pada sayang sama (aset rumah dan tanah) punyanya," katanya.

Rencana penanganan kawasan tersebut masih terkendala sehingga warga diminta menunggu hingga 2027.

Selain persoalan relokasi, kondisi lingkungan tak kalah memprihatinkan karena saluran air yang dikenal warga sebagai Kali Hitam terlihat dipenuhi sampah plastik dan styrofoam serta mengeluarkan bau menyengat.

Nurhidayat berharap pemerintah memperhatikan kondisi saluran air yang dipenuhi sampah.

Menurut dia, penanganan seharusnya dilakukan dari bagian hulu agar persoalan tidak terus berulang di kawasan permukiman.

Warga RT 6, Alit (63), menjadi salah satu penduduk yang masih bertahan di tengah permukiman yang semakin sepi.

Alit mengaku sudah tinggal di kawasan tersebut selama sekitar 45 tahun dan pernah merasakan langsung rumahnya terendam banjir.

Banjir bukan lagi kejadian yang jarang terjadi karena air bisa kembali menggenangi rumah meski hujan tidak turun di sekitar permukiman.

"Di sini mah terus-menerus, bukan banjir kecil. Rumahnya aja bisa hilang kok, ketutup," ujar Alit.

Meski ingin pindah, ia mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk membayar biaya kontrakan di tempat lain.

Kondisi kesehatannya yang semakin menurun juga membuat Alit kesulitan mencari pekerjaan tetap.

Kini, ia mengandalkan aktivitas mengumpulkan sampah plastik untuk dijual sebagai tambahan penghasilan.

Di tengah ancaman banjir, Alit mengaku tetap merasa nyaman tinggal di kawasan tersebut karena sudah puluhan tahun menetap bersama keluarganya.

Ia juga mengandalkan informasi ketinggian air melalui media untuk memperkirakan datangnya banjir dan mempersiapkan diri.

"Takut mah takut kalau banjir, gimana juga. Tapi kita kan kalau mau banjir sudah dari jauh-jauh antisipasi. Jadi dihadapin aja banjir, mau pergi dari sini juga serba susah," tutur Alit.

Terpopuler Lainnya

Iran Tiba-tiba Tawari AS Pembukaan Selat Hormuz, Pintu Damai Terbuka?

Iran Tiba-tiba Tawari AS Pembukaan Selat Hormuz, Pintu Damai Terbuka?

24 jam lalu

Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz setelah Qatar dan Pakistan memediasi pembicaraan antara Teheran dan Washington.

Swipe untuk menutup

Iran Tiba-tiba Tawari AS Pembukaan Selat Hormuz, Pintu Damai Terbuka?

02/11/2026, 16:47 WIB
Iran Tiba-tiba Tawari AS Pembukaan Selat Hormuz, Pintu Damai Terbuka?

TEHERAN, KOMPAS.com - Iran menawarkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari setelah Qatar dan Pakistan memediasi pembicaraan antara Teheran dan Washington.

Namun, proposal tersebut masih bergantung pada tindakan yang harus dilakukan Amerika Serikat (AS) dan belum disepakati kedua pihak.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, rencana tersebut merupakan versi yang dipersingkat dari proposal sebelumnya yang dikenal sebagai “rencana tujuh hari”.

Proposal itu mengatur sejumlah syarat yang harus dipenuhi AS sebelum Iran membuka kembali Selat Hormuz.

“Sekarang kami telah mencapai rencana dua hari. Artinya, pada hari pertama, Amerika akan melaksanakan serangkaian tindakan, dan pada hari kedua, Selat Hormuz akan dibuka kembali dan pergerakan akan kembali seperti sebelumnya,” kata Araghchi kepada Al Jazeera, Minggu (1/11/2026).

Proposal dipersingkat jadi 2 hari

Menurut Araghchi, rencana awal tujuh hari telah dibahas dalam sejumlah perundingan yang dilakukan mediator Qatar dan Pakistan. Kedua negara kemudian mengusulkan sejumlah perubahan agar rencana tersebut lebih memungkinkan untuk diterapkan dan dapat diterima lebih luas.

Araghchi mengatakan pembicaraan tersebut telah mengarah pada tahap implementasi. Namun, Gulf News menegaskan bahwa rencana dua hari itu masih merupakan proposal dan bukan kesepakatan yang telah disetujui.

Amerika Serikat juga belum secara terbuka menerima kerangka tersebut.

Iran menyatakan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada tindakan AS untuk memenuhi tuntutan Teheran. Salah satu tuntutan yang disebut dalam laporan berkaitan dengan pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Adapun Selat Hormuz merupakan jalur strategis di antara Iran dan Oman yang menjadi salah satu titik penting perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima minyak dunia dan sebagian besar ekspor gas alam cair global melewati jalur tersebut.

Upaya diplomasi berlanjut

Proposal Iran muncul ketika upaya diplomatik untuk mencegah kembali pecahnya pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat terus berlangsung.

Mediator Qatar tiba di Teheran pada Jumat. Pada saat yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance mengirim surat kepada pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei.

Rezaei, yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan telah membaca surat tersebut tetapi belum memberikan tanggapan.

“Saya belum merespons. Nada mereka telah sepenuhnya berubah,” kata Rezaei dalam video yang disiarkan televisi Iran.

Ia menyebut perubahan nada tersebut sebagai pertanda yang baik, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut isi surat Vance.

Meski demikian, Rezaei menegaskan Iran akan tetap memblokade Selat Hormuz sampai tuntutan Teheran dipenuhi.

Qatar dan Pakistan selama ini menjadi mediator antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, perundingan tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama.

Di tengah upaya diplomasi, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Sabtu bahwa militer AS telah menghancurkan sebagian besar kekuatan militer Iran. Ia mengatakan masih ada satu atau dua target yang harus ditangani.

Trump juga mengatakan negosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang berjalan baik, meski ia menyebut Iran tidak dapat sepenuhnya diandalkan.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memperingatkan AS dan Israel agar tidak melancarkan serangan baru terhadap Iran.

Mojtaba mengatakan setiap ancaman harus dibalas dengan respons yang segera dan berdampak, serta memerintahkan para komandan militer memperbarui daftar target Iran untuk mencakup seluruh aset fisik maupun nonfisik milik AS dan Israel.

Internasional Lainnya

Kapolri Suyudi Minta Anggota Polri Jaga Sikap, Perilaku, dan Terbuka ke Masyarakat

Kapolri Suyudi Minta Anggota Polri Jaga Sikap, Perilaku, dan Terbuka ke Masyarakat

16 jam lalu

Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto menekankan pentingnya sikap dan perilaku anggota Polri dalam menjaga citra institusi. Setiap personel adalah Humas, harus terbuka terhadap kritik.

Swipe untuk menutup

Kapolri Suyudi Minta Anggota Polri Jaga Sikap, Perilaku, dan Terbuka ke Masyarakat

03/11/2026, 00:00 WIB
Kapolri Suyudi Minta Anggota Polri Jaga Sikap, Perilaku, dan Terbuka ke Masyarakat

JAKARTA, KOMPAS.com - Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto meminta seluruh anggota Polri menjaga sikap, perilaku, perkataan, dan tindakan saat berinteraksi dengan masyarakat.

Sebab, setiap anggota Polri mengemban fungsi kehumasan sehingga perilaku mereka turut menentukan citra institusi di mata masyarakat.

“Memang ada enam penekanan dari Bapak Kapolri. Dari enam, satu yang menjadi karakter utama ya, yaitu setiap personel Polri adalah pengemban fungsi Humas, Humas Polri juga,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

“Dengan harapan seiring dengan tagline ‘Polisi Bersama Masyarakat’, dalam setiap pikiran, sikap, perilaku, perkataan, dan tindakan setidak-tidaknya kemudian selaras,” ujar dia melnjutkan.

Menurut Isir, interaksi langsung anggota dengan masyarakat akan membentuk kesan terhadap institusi Polri.

Karena itu, anggota harus memastikan kehadiran dan pelaksanaan tugas kepolisian benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Selain menjaga perilaku, Suyudi juga mengingatkan bahwa Polri harus terbuka terhadap masukan, informasi, dan kritik dari masyarakat.

Masukan tersebut harus didengar dan dijadikan bahan evaluasi agar Polri terus memperbaiki diri.

“Tadi diingatkan juga bahwa Polri organisasi yang besar, terkait dengan tagline ‘Polisi Bersama Masyarakat’ selalu terbuka,” kata Isir.

“Terbuka untuk mendengar berbagai masukan, berbagai informasi, kritikan untuk menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik. Sehingga tadi lagi, kehadirannya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” imbuh dia.

Komentar Terbanyak Lainnya

Bagikan berita ini melalui