PNM Gandeng Pemimpin Redaksi Media Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana NTT dan NTB

PNM Gandeng Pemimpin Redaksi Media Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana NTT dan NTB

1 jam lalu

PNM bersama sejumlah pemimpin redaksi media menggalang donasi Rp 26,8 juta untuk korban bencana di NTT dan kebakaran Desa Sade, NTB.

Swipe untuk menutup

PNM Gandeng Pemimpin Redaksi Media Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana NTT dan NTB

30/08/2026, 10:37 WIB
PNM Gandeng Pemimpin Redaksi Media Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana NTT dan NTB

KOMPAS.com – PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM bersama sejumlah pemimpin redaksi media menggalang donasi untuk masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kebakaran di Desa Sade, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Penggalangan bantuan tersebut dilakukan melalui kegiatan silaturahmi yang dikemas dalam bentuk turnamen olahraga. Dalam kegiatan itu, setiap skor yang tercipta dikonversikan menjadi nilai bantuan.

Dari pertandingan tersebut, terkumpul donasi sebesar Rp 26,8 juta yang akan disalurkan kepada masyarakat terdampak bencana.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya PNM bersama media untuk membangun kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Media dinilai memiliki peran dalam menyuarakan berbagai persoalan masyarakat sekaligus menghubungkan kepedulian berbagai pihak agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, kebersamaan menjadi salah satu kekuatan penting dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk ketika masyarakat mengalami bencana.

Menurutnya, kepedulian akan menjadi lebih berarti ketika dilakukan bersama-sama.

“Hari ini kita berkumpul melalui olahraga, tetapi tujuan kita jauh lebih besar, yaitu menghadirkan manfaat bagi saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah,” ujar Kindaris dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (28/8/2026).

Menurut Kindaris, kolaborasi dengan media merupakan bagian dari upaya PNM untuk terus hadir di tengah masyarakat. Hal tersebut tidak hanya dilakukan melalui pembiayaan dan pemberdayaan bagi pengusaha ultra mikro, tetapi juga melalui aksi sosial ketika masyarakat membutuhkan dukungan.

“Sekecil apa pun bantuan yang kita berikan, jika dilakukan bersama-sama, insyaallah dampaknya bisa menjadi lebih besar,” katanya.

Setiap skor dikonversi menjadi bantuan

Konsep penggalangan donasi dilakukan dengan mengubah skor yang tercipta selama pertandingan menjadi nilai bantuan.

Dengan konsep tersebut, pertandingan olahraga tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengumpulkan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana.

Nilai donasi yang terkumpul mencapai Rp 26,8 juta. Bantuan tersebut ditujukan kepada masyarakat terdampak bencana di NTT serta korban kebakaran di Desa Sade, NTB.

PNM menyebut bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak dan mendukung mereka dalam menjalani proses pemulihan.

Kindaris mengatakan, semangat kebersamaan menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, bantuan yang diberikan secara bersama-sama dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi penerima manfaat.

Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk kolaborasi antara PNM dan media dalam menggaungkan pesan solidaritas sekaligus mendorong kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Bagi PNM, dukungan kepada masyarakat tidak hanya dilakukan melalui kegiatan bisnis, tetapi juga melalui aksi sosial ketika terjadi kondisi yang membutuhkan perhatian dan bantuan.

Melalui kegiatan tersebut, olahraga dan silaturahmi menjadi sarana untuk mengubah semangat kebersamaan menjadi bantuan nyata bagi masyarakat terdampak bencana.

Brandzview Lainnya

Hasil Voting Muktamar ke-35 NU: Ketum Tak Lagi Dipilih Langsung, Tapi Ditunjuk AHWA

Hasil Voting Muktamar ke-35 NU: Ketum Tak Lagi Dipilih Langsung, Tapi Ditunjuk AHWA

11 jam lalu

Muktamar ke-35 NU resmi mengubah mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU dari langsung menjadi melalui penunjukan Ahlul Hadi wal Aqdi (AHWA) setelah voting ketat.

Swipe untuk menutup

Hasil Voting Muktamar ke-35 NU: Ketum Tak Lagi Dipilih Langsung, Tapi Ditunjuk AHWA

30/08/2026, 01:02 WIB
Hasil Voting Muktamar ke-35 NU: Ketum Tak Lagi Dipilih Langsung, Tapi Ditunjuk AHWA
Penulis: Singgih Wiryono
|
Editor: Singgih Wiryono

JOMBANG, KOMPAS.com - Hasil voting sidang Pleno III Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama memutuskan mekanisme pemilihan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berubah, dari pemilihan langsung oleh muktamirin menjadi dipilih oleh penunjukkan anggota Ahlul Hadi wal Aqdi (AHWA).

Pantauan Kompas.com, hasil penghitungan voting yang dilakukan pada Minggu (30/6/2026) dini hari di GSG Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, peserta muktamar yang memilih pemilihan secara langsung berjumlah 150, sedangkan yang memilih ditunjuk oleh AHWA berjumlah 401.

Hasil voting ini kemudian akan menjadi landasan pelaksanaan pemilihan ketua umum PBNU untuk masa bakti 2026-2031.

Pimpinan sidang, Muhammad Nuh mengatakan, jumlah suara telah sesuai sebanyak 552 peserta dengan 1 suara tidak sah.

"Jadi rekapan ini total suaranya 552 itu sudah sesuai dengan data yang masuk. Dengan opsi A tetap 150, opsi B perubahan 401, terus yang tidak sah 1, jadi jumlahnya pas. Jadi dengan segala hormat inilah realitas yang kita terima," ucapnya.

Hormati hasil voting

Kubu petahana Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, Amin Said Husni sebelumnya meminta agar semua pihak bisa menghormati hasil voting tersebut.

Menurut dia, mekanisme voting adalah cara mencapai kesepakatan apabila musyawarah dan mufakat mengalami jalan buntu.

"Tapi ketika kata sepakat itu tidak bisa dicapai, maka suara terbanyak itu merupakan salah satu bentuk pengambilan keputusan. Nggak ada masalah, itu sesuatu yang lazim dilakukan di NU, bahkan juga sudah lazim dilakukan di organisasi-organisasi manapun," ucapnya melalui telepon, Sabtu (29/8/2026).

"Bahkan di dalam lembaga perwakilan kita, di DPR, MPR, itu kan juga sudah biasa kita melakukan voting. Bukan sesuatu yang tabu, bukan sesuatu yang baru," kata Amin.

Terpopuler Lainnya

Cegah Krisis Populasi Makin Parah, China Didesak Naikkan Subsidi Jadi Rp 190 Juta per Anak

Cegah Krisis Populasi Makin Parah, China Didesak Naikkan Subsidi Jadi Rp 190 Juta per Anak

24 jam lalu

Pemerintah China mendapati desakan kuat dari para pakar demografi untuk menaikkan subsidi pengasuhan anak secara drastis. 

Swipe untuk menutup

Cegah Krisis Populasi Makin Parah, China Didesak Naikkan Subsidi Jadi Rp 190 Juta per Anak

29/08/2026, 12:21 WIB
Cegah Krisis Populasi Makin Parah, China Didesak Naikkan Subsidi Jadi Rp 190 Juta per Anak

BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China mendapati desakan kuat dari para pakar demografi untuk menaikkan subsidi pengasuhan anak secara drastis. 

Langkah ini dinilai mendesak guna membendung krisis angka kelahiran yang kian mendalam di "Negeri Panda".

Para akademisi memperingatkan, tanpa intervensi kebijakan yang signifikan, tingkat fertilitas China berisiko merosot ke posisi terendah di dunia dalam beberapa tahun mendatang.

Kondisi demografi China sendiri terus menunjukkan tren mengkhawatirkan, sebagaimana dilansir SCMP, Jumat (28/8/2026). 

Dalam satu dekade terakhir, angka kelahiran tahunan di negara tersebut merosot lebih dari separuh, dari hampir 18 juta pada 2016 menjadi di bawah 8 juta pada 2025. 

Data resmi juga mencatat populasi China terus menyusut setiap tahun sejak mencapai puncaknya pada 2021.

Saat ini, tingkat fertilitas total China berada di angka 1,0.

Angka ini jauh di bawah tingkat penggantian populasi sebesar 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas jumlah penduduk.

Pemerintah pusat sejatinya telah memperkenalkan subsidi pengasuhan anak secara nasional sejak tahun lalu.

Subsidi tersebut sebesar 3.600 yuan (Rp 9,5 juta) per tahun untuk setiap anak yang lahir pada atau setelah 1 Januari 2025 hingga berusia tiga tahun.

Sehingga, total bantuan ini mencapai 10.800 yuan (Rp 28,5 juta) per anak. Beberapa pemerintah daerah juga menambahkan subsidi mandiri.

Namun, skema yang berlaku saat ini dinilai jauh dari cukup untuk meringankan beban ekonomi orangtua.

Belajar dari Korea Selatan dan Singapura

Para peneliti mendesak Beijing untuk mengambil pelajaran dari negara tetangga seperti Singapura dan Korea Selatan.

Kedua negara tersebut sama-sama menghadapi krisis demografi serupa tetapi bertindak lebih agresif lewat kebijakan pronatalis.

Korea Selatan sempat mencatatkan tingkat fertilitas 0,8 pada tahun lalu, namun kini mulai menunjukkan pemulihan.

Otoritas Korea Selatan mengumumkan bahwa total kelahiran pada Juni, kuartal kedua, dan semester pertama tahun ini mencapai level tertinggi dalam hampir tujuh tahun terakhir.

Lonjakan ini didorong oleh bantuan tunai yang meningkat pesat. 

Subsidi pengasuhan anak di Korea Selatan tercatat naik dari sekitar 1,6 persen dari PDB per kapita pada 2021, menjadi 2,7 persen pada 2022, dan melonjak hingga 4,8 persen pada 2025.

Di sisi lain, Singapura merilis paket dukungan anak baru bernilai hingga 62.000 dollar Singapura (sekitar Rp 863 juta) per anak guna menahan penurunan angka kelahiran yang berada di tingkat 0,87 pada tahun lalu.

Usulan subsidi dari para pakar

Demografer independen He Yafu menyatakan bahwa subsidi nasional China perlu dinaikkan minimal 600 persen dari paket saat ini.

Dia mengusulkan bantuan setidaknya 1.000 yuan (Rp 2,6 juta) per bulan per anak hingga berusia enam tahun, atau total 72.000 yuan (Rp 190 juta) per anak.

Ia menilai bantuan yang berjalan saat ini hanyalah tetesan air di dalam ember jika dibandingkan dengan besarnya biaya merawat anak.

"Hambatan utama di balik rendahnya tingkat fertilitas di negara-negara Asia Timur sangat konsisten: biaya pembesaran anak yang sangat tinggi, persaingan pendidikan yang ketat, dan kurangnya jumlah layanan pengasuhan anak," ujar He Yafu.

"Beban memiliki anak harus diringankan, baik dari segi biaya ekonomi maupun waktu, termasuk dengan meningkatkan subsidi pengasuhan anak secara signifikan dan mengembangkannya secara masif melalui layanan pengasuhan anak yang inklusif serta terjangkau," lanjutnya.

Sementara itu, James Liang, pakar demografi sekaligus Chairman Eksekutif perusahaan perjalanan Trip.com dan co-founder YuWa Population Research Institute, menyarankan skema subsidi sebesar 62.000 yuan (Rp 163 juta) per anak. 

Skema ini diberikan dalam bentuk insentif 855 yuan (Rp 2,2 juta) per bulan hingga anak berusia enam tahun untuk menandingi rasio dukungan Korea Selatan pada 2025.

Menurut riset Liang, langkah ini mampu mendongkrak tingkat fertilitas China sebesar 25 persen menjadi 1,25 dalam beberapa tahun ke depan.

"Jika China tidak secara signifikan memperkuat kebijakan dukungan fertilitasnya, tingkat fertilitasnya kemungkinan akan jatuh di bawah Korea Selatan dan Singapura dalam beberapa tahun ke depan serta berada di urutan terbawah secara global," tegas Liang.

Internasional Lainnya

Viral Video Polisi Cabut Kunci Truk di Leuwiliang, Pengemudi Ungkap Kejadian Sebenarnya

Viral Video Polisi Cabut Kunci Truk di Leuwiliang, Pengemudi Ungkap Kejadian Sebenarnya

17 jam lalu

Video viral polisi mencabut kunci truk di Leuwiliang bikin heboh. Ternyata begini faktanya.

Swipe untuk menutup

Viral Video Polisi Cabut Kunci Truk di Leuwiliang, Pengemudi Ungkap Kejadian Sebenarnya

29/08/2026, 18:58 WIB
Viral Video Polisi Cabut Kunci Truk di Leuwiliang, Pengemudi Ungkap Kejadian Sebenarnya

BOGOR, KOMPAS.com — Video yang memperlihatkan seorang anggota polisi mencabut kunci kontak truk saat melintas di wilayah Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, kembali beredar di media sosial dan menuai sorotan.

Dalam video tersebut, seorang anggota polisi terlihat berupaya menghentikan sebuah truk. Karena pengemudi disebut enggan berhenti, anggota polisi kemudian mencabut kunci kontak kendaraan dari bagian kaca pintu sopir.

Video itu salah satunya diunggah oleh akun Instagram @kabar.parung. Unggahan tersebut mendapat sorotan karena tindakan anggota polisi dalam video dinilai membahayakan pengemudi maupun pengguna jalan lainnya.

Namun, video tersebut ternyata merupakan rekaman lama yang kembali diunggah di media sosial.

Pengemudi truk yang merekam kejadian tersebut, Ahmad Jafar, kemudian memberikan klarifikasi bahwa insiden penertiban itu terjadi sekitar enam bulan lalu.

Menurut Jafar, kesalahpahaman antara dirinya dan anggota Polsek Leuwiliang saat kejadian telah diselesaikan dengan baik pada saat itu.

"Saya Ahmad Jafar, pada tanggal 28 Agustus ini mengklarifikasi mengenai video yang lagi viral di Terminal Leuwiliang. Saya sudah saling memaafkan sama Pak Aris. Itu adalah video lama, sekitar enam bulanan yang lalu," terang Ahmad Jafar dalam video klarifikasinya dikutip, Sabtu (29/8/2026).

Meski video tersebut merupakan rekaman lama, Kapolsek Leuwiliang Komisaris Maryanto tetap menyampaikan permintaan maaf atas tindakan yang dilakukan anggotanya, Bripka Aris.

"Dengan ini mohon maaf yang sebesar-besarnya atas anggota saya, anggota Lalu Lintas Bripka Aris yang telah melakukan penghentian kendaraan di daerah Leuwiliang," kata Maryanto melalui video dalam keterangannya.

Maryanto mengakui tindakan anggotanya tersebut berpotensi membahayakan pengemudi truk maupun pengguna jalan lain di sekitar lokasi.

"Dalam hal ini saya sebagai Kapolsek sudah memanggil anggota tersebut dan memeriksanya sesuai dengan kententuan yang berlaku," ujarnya.

Viral Lainnya

INFOGRAFIK: Video Donald Trump Jatuh Saat Akan Naik Mobil adalah Hasil Rekayasa

INFOGRAFIK: Video Donald Trump Jatuh Saat Akan Naik Mobil adalah Hasil Rekayasa

19 jam lalu

Donald Trump diperlihatkan terjatuh saat akan naik mobil kepresidenan dan ditolong Secret Service. Video itu hasil rekayasa.

Swipe untuk menutup

INFOGRAFIK: Video Donald Trump Jatuh Saat Akan Naik Mobil adalah Hasil Rekayasa

29/08/2026, 16:48 WIB
INFOGRAFIK: Video Donald Trump Jatuh Saat Akan Naik Mobil adalah Hasil Rekayasa
Penulis: Akbar Bhayu Tamtomo
|
Editor: Bayu Galih

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan terjatuh saat akan naik mobil kepresidenan. Narasi ini beredar di media sosial pada Agustus 2026.

Sejumlah akun media sosial menyebarkan video yang memperlihatkan Trump tiba-tiba jatuh. Seorang anggota Secret Service segera menolongnya bangun.

Video yang disebarkan itu mengundang spekulasi mengenai kondisi kesehatan Donald Trump yang saat ini sudah berusia 80 tahun.

Akan tetapi, video itu diketahui sebagai hasil rekayasa. Saat ditelusuri, terdapat video identik yang memperlihatkan Donald Trump berjalan ke mobil kepresidenan.

Dalam video asli, Trump tampak berjalan dengan normal dan masuk ke dalam mobil seperti biasa. Salah satu video diunggah akun Fox News pada 1 Juli 2026.

Donald Trump sedang berada di Joint Base Andrews di Maryland dan akan menempuh perjalanan menuju North Dakota. Dia naik ke mobil menuju pesawat kepresidenan Air Force One.

Video Trump jatuh diidentifikasi sebagai hasil rekayasa digital. Simak penjelasannya dalam infografik ini:

Viral Lainnya

Fenomena

Fenomena "Haji Gocap" di Fatmawati Jaksel: Mobil Berkeliling Tengah Malam, Bagikan Rp 50.000

12 jam lalu

Para pencari sedekah menunggu “Haji Gocap” hingga dini hari demi mendapatkan uang Rp 50.000 untuk kebutuhan sehari-hari.

Swipe untuk menutup

Fenomena "Haji Gocap" di Fatmawati Jaksel: Mobil Berkeliling Tengah Malam, Bagikan Rp 50.000

30/08/2026, 00:00 WIB
Fenomena

JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi para pemburu sedekah “Haji Gocap”, tengah malam bukan waktunya beristirahat.

Mereka justru mulai mengambil posisi di sepanjang Jalan Raya Fatmawati hingga Melawai, Jakarta Selatan, demi menunggu pembagian uang Rp 50.000.

Mereka telah mengetahui waktu dan rute mobil yang biasa digunakan “Haji Gocap” untuk membagikan uang.

Para pencari sedekah itu bahkan membagi titik penantian dalam kelompok-kelompok kecil agar tidak saling berebut saat uang dilempar dari dalam mobil.

Namun, penantian tersebut tak selalu berakhir dengan baik. Ada kalanya mereka bertahan hingga dini hari dalam kondisi dingin dan lelah, tetapi mobil yang ditunggu tak kunjung melintas.

Hafal Rute, Bagi Lapak

Sugeng (48) mulai mengambil posisi di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

“Saya baru mulai standby lagi jam 11.30 malam. Dulu sempat ngontrak, tapi pas enggak ada pemasukan ya sudah, tidur di warung kenalan,” ujar dia saat ditemui Kompas.com, Sabtu.

Ia mengaku memilih standby di salah satu sudut jalan tersebut setelah tak lagi memiliki pemasukan tetap.

Uang yang diperoleh dari “Haji Gocap” digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi Sugeng, menunggu pembagian uang tersebut sudah berlangsung cukup lama. Para pencari sedekah juga telah mengetahui mobil yang digunakan “Haji Gocap” dan tidak saling berebut karena masing-masing berada dalam kelompok kecil.

“Dapatnya ya buat makan sama ngopi sehari-hari. Ini sudah lama sekali, ada lima tahunan yang lalu. Pas mobilnya datang ya berhenti, tapi uangnya dilempar. Enggak berebutan banget karena sudah ada kelompok-kelompoknya, ada yang bertiga, ada yang berdua,” tutur Sugeng.

Meski begitu, penantian itu tak selalu berjalan mudah. Sugeng mengatakan dirinya kerap merasakan tubuh menggigil hingga kram akibat terlalu lama terkena angin malam.

“Kadang badan rasanya sudah menggigil, sampai kram karena keanginan terus tiap malam. Mau istirahat atau berobat juga enggak ada uang, Bang. Jadi ya dipaksain aja bertahan di jalan, mau bagaimana lagi, perut kan tetap butuh diisi,” kata Sugeng.

Jika mobil yang ditunggu belum melintas hingga pukul 02.00 WIB, Sugeng mengatakan para pencari sedekah biasanya mengemasi kardus yang digunakan sebagai alas tidur.

Mereka kemudian memilih melanjutkan aktivitas lain atau tidur di emperan toko.

“Kalau sudah sampai jam 02.00 pagi mobilnya enggak lewat juga, ya mau bagaimana lagi. Paling cuma bisa saling tatap sama teman-teman, terus beres-beres kardus alas tidur. Niatnya nyari buat makan besok, tapi kalau enggak dapat ya terpaksa keliling lagi nyari rosokan, atau pasrah tidur di emperan toko,” kata dia.

Membagi Titik agar Tak Saling Sikut

Wiyogo (47) menjadi salah satu PPKS yang juga menunggu “Haji Gocap” di kawasan Fatmawati hingga Melawai. Ia dan para pencari sedekah lainnya telah mengetahui rute yang biasa dilalui mobil pembagi uang tersebut.

Menurut Wiyogo, mereka tidak berkumpul di satu titik. Kelompok-kelompok kecil dibentuk di sejumlah bagian jalan untuk menunggu mobil tersebut melintas.

“Kita di sini memang sudah dari jam 11 malam lewat. Info jalurnya muter dari Fatmawati ke Melawai itu sudah pada tahu. Makanya dibikin kelompok kecil di jalan biar pas mobilnya lewat dan melempar uang, enggak saling sikut,” kata Wiyogo kepada Kompas.com, Sabtu.

Berjam-jam menunggu di trotoar membuat Wiyogo harus menahan rasa pegal, pusing, dan dingin. Kondisi itu tetap ia jalani karena uang Rp 50.000 dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hari berikutnya.

“Jujur aja sering kerasa sakit, kepala pusing, badan linu semua kalau sudah kemalaman di trotoar. Tapi kalau dituruti masuk angin atau sakitnya, besok mau makan apa? Makanya pusing sama dingin itu kita tahan-tahan aja demi dapat uang Rp 50.000 itu,” tutur dia.

Tak jarang, penantian berakhir tanpa kedatangan mobil yang ditunggu. Ia mengatakan para pencari sedekah yang kelelahan akhirnya memilih merebahkan badan di trotoar hingga pagi.

“Kadang kita sudah nunggu dari jam 11 malam berangin-angin di trotoar, tapi sampai mau subuh enggak muncul-muncul. Keliatan banget mukanya pada lesu semua, capek. Kebanyakan karena sudah kelelahan ya langsung rebahan aja melipat tangan di dada, meredam dinginnya aspal sampai matahari terbit,” ujar dia.

Petugas Tertibkan PPKS

Fenomena PPKS yang menunggu “Haji Gocap” turut menjadi perhatian pemerintah.

Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan bersama Satpol PP Kecamatan Kebayoran Baru menyisir sejumlah titik dari Jalan Fatmawati Raya hingga kawasan Melawai pada Jumat (29/8/2026) dini hari.

Kasatpol PP Kecamatan Kebayoran Baru Diki Zulkarnain mengatakan, “Haji Gocap” biasanya bergerak sekitar pukul 00.30 WIB. Pergerakannya disebut memiliki dua pola.

“Biasanya ada dua pola, yaitu ketika berangkat dan saat pulang sekitar jam 01.30 WIB. Nanti subuh pun mereka yang menunggu sudah tahu jadwalnya,” kata Diki kepada Kompas.com seusai melakukan penertiban di Melawai, Sabtu dini hari.

Dalam penertiban tersebut, petugas mengamankan 25 PPKS yang sedang menanti pembagian uang tunai di ruas Jalan Fatmawati hingga kawasan Melawai.

Kepala Seksi Perlindungan, Jaminan, dan Rehabilitasi Sosial Sudinsos Jakarta Selatan Yan Ventansyah mengatakan, 25 PPKS tersebut terdiri dari 18 laki-laki dan tujuh perempuan.

“Hari ini kebetulan kita mendapatkan hasil sebanyak 25 orang, dengan rincian laki-laki ada 18 orang dan perempuan ada 7 orang. Rencananya akan dibawa ke Panti Sosial PSBI Kedoya untuk dilakukan rehabilitasi sosial berupa asesmen dan pemahaman untuk tindak lanjut selanjutnya,” ujar Yan di kawasan Melawai, Sabtu dini hari.

Penyisiran dilakukan sejak pukul 00.30 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Namun, petugas tidak berpapasan langsung dengan mobil “Haji Gocap”.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, mobil tersebut disebut telah melintas lebih awal, sekitar pukul 00.15 WIB.

Yan mengatakan pihaknya telah mengantongi identitas “Haji Gocap”.

“Dari hasil pendataan awal, ia diperkirakan merupakan warga setempat yang memang berdomisili di kawasan Jakarta Selatan,” ujar Yan.

Komentar Terbanyak Lainnya

Bagikan berita ini melalui