JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi Jumari (63), seporsi makanan gratis bisa mengurangi beban hidup ketika penghasilannya tak lagi menentu.
Di usianya yang sudah lanjut, pekerjaan sebagai tukang las hanya datang sesekali, sementara kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.
“Bagi saya ini membantu sekali. Soalnya saya menganggur, enggak ada penghasilan,” kata Jumari saat ditemui di Gedung Serbaguna Kompleks Perhubungan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026).
Setiap Rabu, Jumari datang ke gedung tersebut untuk mendapatkan makan siang gratis. Ia tak sendiri.
Sejak pukul 11.00 WIB, warga dari Tanah Kusir, Pondok Pinang, Palmerah, Petamburan, hingga Petukangan mulai berdatangan.
Kursi-kursi merah di teras gedung dipenuhi warga lanjut usia, disusul ibu-ibu, pedagang keliling, dan pengemudi ojek daring.
Menjelang pukul 11.30 WIB, antrean bahkan memanjang hingga ke pinggir jalan, meski makanan belum seluruhnya tersaji.
Bagi sebagian warga, antrean itu bukan sekadar kesempatan menikmati makan siang. Di tengah penghasilan yang tak menentu, makanan gratis membantu mereka menghemat uang untuk kebutuhan lain.
Seporsi Makanan Gratis demi Bertahan
Jumari sudah tidak lagi bekerja secara rutin karena tenaganya tak sekuat dulu.
Sesekali, ia masih menerima panggilan mengelas, tetapi pekerjaan itu bisa datang sebulan sekali atau bahkan lebih lama. Sementara itu, istrinya berjualan kopi keliling.
“Saya serabutan, cuma punya alatnya (las). Pendapatannya mah cuma-cuma. Kadang cuma sebulan sekali atau sebulan lebih,” ujarnya.
Untuk mencari makanan gratis, Jumari memanfaatkan informasi dari media sosial.
Ia juga mendatangi acara keagamaan seperti Maulid Nabi dan haul yang menyediakan konsumsi bagi pengunjung, selama lokasinya bisa dijangkau dengan transportasi umum.
“Jadi kalau ada haul-haul gitu saya datang. Kalau jangkauannya jauh enggak saya kejar,” katanya.
Terkadang, makanan yang diperolehnya dibungkus untuk dibawa pulang dan dibagikan kepada istrinya.
Kesulitan serupa dialami Rijal (50). Setelah kafe tempatnya bekerja tutup pada 2007, ia menjalani pekerjaan serabutan hingga 2020. Sejak itu, ia tak lagi bekerja dan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.
“Saya kerja serabutan sampai 2020, terus enggak kerja lagi. Susah carinya karena udah umur segini,” kata Rijal.
Ia berusaha mendatangi sejumlah tempat yang menyediakan makanan gratis, termasuk di kawasan Pondok Indah.
Namun, lokasi yang sulit dijangkau transportasi umum tanpa ongkos menjadi kendala tersendiri.
Bagi Rijal, makanan gratis membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga. Ia bahkan bisa mengurangi satu kali makan yang perlu disediakan di rumah.
“Alhamdulillah terbantu, biasa harus makan tiga kali di rumah, sekarang jadi dua kali aja. Sekalinya di sini gratis,” ujarnya.
Selain menghemat uang, Rijal juga senang karena menu yang disajikan berganti setiap pekan.
Ia bisa mencicipi hidangan yang jarang dimasak di rumahnya, seperti ikan yang diolah dengan cara berbeda hingga rolade.
“Di sini bervariasi, ganti terus. Yang baru saya cobain di sini kayak ikan apa gitu, dimasaknya beda. Kadang ada rolade, daging yang digulung tuh. Kan kita enggak pernah masak itu di rumah, di sini ada,” katanya.
Dari Pemulung hingga Penjual Ikan Hias
Di antara warga yang mengantre, Oman (60) datang sambil mendorong gerobak kayu berisi botol minuman bekas dan kardus.
Ia masih bekerja sebagai pemulung, berkeliling sejak subuh hingga kawasan Pondok Indah dan Karang Tengah.
Dalam sehari, Oman bisa memperoleh Rp 100.000 hingga Rp 150.000. Uang itu harus dibagi untuk membeli beras dan lauk, membayar listrik serta kontrakan, dan membeli gas.
Istrinya membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan menerima pekerjaan menyetrika pakaian jika ada panggilan.
Oman membeli beras tiga liter untuk persediaan tiga hari. Biaya listriknya pun mencapai Rp 23.000 untuk tiga hari.
“Buat makan biasa nyari dulu saya. Misal sekarang saya dapat Rp 100.000 atau Rp 150.000. Beli beras 3 liter, belum beli lauknya, beli gas, lampu (listrik) 3 hari Rp 23.000 kalau enggak ya mati,” kata Oman.
Saat berkeliling, ia biasanya membeli makanan seharga Rp 15.000 dan membawa air minum dari rumah untuk menekan pengeluaran. Pada Rabu, ia bisa menghemat uang dengan makan di tempat tersebut.
Setelah mendapatkan makanan, Oman duduk di samping gerobaknya. Ia perlahan menyendok nasi, telur dadar, dan sayur dari piring plastiknya.
“Enak, Alhamdulillah,” ujarnya.
Ada pula Deden (43), pedagang ikan hias keliling yang menjadikan tempat itu sebagai persinggahan setiap Rabu.
Ia pertama kali mengetahui kegiatan makan gratis tersebut beberapa bulan sebelumnya, ketika sedang berkeliling mendorong gerobak dagangannya.
Sejak itu, Deden sengaja melewati Jalan Elang agar bisa makan siang tanpa mengeluarkan uang.
“Karena aku orang jualan, pas hari Rabu rutenya selalu ke sini,” katanya.
Ikan hias yang dijual Deden tidak selalu laku setiap hari. Karena itu, makanan gratis membantunya menyimpan pendapatan untuk kebutuhan lain.
“Alhamdulillah, memang ngerasa terbantu. Istilahnya bisa mengurangi beban untuk beli makan, apalagi keadaan sekarang lagi sulit begini untuk cari duit,” ujarnya.
Berawal dari Tangisan Anak Kecil
Makanan yang dinikmati warga itu disiapkan oleh Novi bersama suaminya, Edy (55), Ketua RT 006 RW 010 Kebayoran Lama Selatan.
Kegiatan tersebut telah berjalan sejak Juli 2025, dengan 200 porsi makanan dibagikan setiap Rabu.
Keinginan Novi berbagi bermula ketika ia mengunjungi seorang teman di Karawang, Jawa Barat.
Saat itu, ia melihat temannya memberikan makanan dan sembako kepada seseorang yang datang bersama anak kecil yang menangis.
Suami temannya meminta agar bantuan tetap diberikan seperti biasa. Setelah menerima bantuan, anak tersebut berhenti menangis.
Pengalaman itu membekas dalam ingatan Novi dan membuatnya ingin melakukan hal serupa.
Sepulang dari Karawang, ia berniat membicarakan keinginannya kepada Edy. Namun, sang suami ternyata lebih dahulu mengutarakan gagasan yang sama.
“Saya enggak mikir panjang, pas ditanya ‘Siap enggak?’ saya jawab ‘Siap!’ padahal enggak tahu uangnya dari mana waktu itu,” tutur Novi.
Novi memilih Rabu karena memiliki waktu luang pada hari itu. Ia juga mempertimbangkan banyaknya kegiatan berbagi makanan pada Jumat yang berisiko menyisakan makanan.
Persiapan dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Novi dibantu lima orang lainnya, dengan menu yang berganti setiap pekan agar warga tidak bosan.
“Kami berenam, termasuk saya. Itu gantian setiap minggunya, menunya juga supaya mereka enggak bosan. Yang penting ada sayur, protein, sama nasinya,” kata Novi.
Sekali memasak, biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 1,7 juta. Dana berasal dari uang pribadi dan donasi terbuka.
Bahan makanan juga dibeli dari pedagang sayur dan sembako setempat untuk membantu usaha warga sekitar.
Sebelum makanan dibagikan, Novi mengajak pengunjung berdoa. Ia meminta mereka ikut mendoakan agar rezekinya dilancarkan sehingga kegiatan makan gratis dapat terus berjalan.
Novi berharap semakin banyak orang yang tergerak untuk berdonasi, sehingga jumlah makanan yang disediakan bisa bertambah dan menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan.
(Reporter: Hanifah Salsabila)