DEPOK, KOMPAS.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar demo di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada hari ini, Rabu (28/10/2026).
Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026 Namora Siahaan mengatakan, aksi dijadwalkan hanya berlangsung di Bundaran HI pada Rabu siang.
"Di HI saja ya jam 14.00 WIB," ujar Namora saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Selasa (27/10/2026).
Menurut Namora, para mahasiswa UI yang berpartisipasi akan berangkat bersama fakultas masing-masing.
"Kalau UI itu berangkat bersama fakultasnya sendiri, tetapi tidak menggunakan Kopaja. Titik kumpul langsung di HI," ucapnya.
Bawa Lima Tuntutan
Dalam demo hari ini, BEM UI akan membawa lima tuntutan yang mencakup persoalan lingkungan, ekonomi, pendidikan, reformasi hukum dan tata kelola pemerintahan, serta hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi.
"Ada lima (tuntutan) sebenarnya dari kita ya. Kita membaginya menggunakan lima sektor dan tidak terlalu berbeda dari sektor dan juga tuntutan yang dibawa (saat demo) di tanggal 20 Oktober (2026)," kata Namora saat ditemui dalam kegiatan konsolidasi aksi #IndonesiaSadar di Pusgiwa UI, Depok, Senin (26/10/2026) malam.
Berikut lima tuntutan yang akan dibawa BEM UI dalam aksi demo hari ini:
1. Desak penetapan status bencana nasional
Pada sektor lingkungan, BEM UI bersama elemen masyarakat sipil mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk berbagai bencana ekologis yang terjadi di Indonesia.
Tuntutan itu tidak hanya menyasar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, tetapi juga bencana ekologis di sejumlah wilayah, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan Sumatera.
BEM UI menilai pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap bencana ekologis yang terjadi di berbagai daerah.
"Kami tidak mengerti alasan kenapa pemerintah tidak kunjung mau menetapkan sebagai status bencana nasional. Parameter hukum sudah jelas, benefit-nya sudah jelas, tapi mungkin pemerintah dengan egonya itu masih menolak untuk mengakui," jelasnya.
2. Minta APBN berorientasi pada kepentingan rakyat
Pada sektor ekonomi, BEM UI menuntut agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepenuhnya digunakan untuk memenuhi kepentingan masyarakat.
Mereka juga meminta pemerintah menghentikan pemborosan anggaran untuk program-program populis yang dinilai lebih mengutamakan kepentingan politik.
Namora mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) sebagai kebijakan yang mereka soroti.
"Di sini kita memberikan contoh MBG dan juga KDMP yang sudah jelas bahwa itu memiliki sifat yang koruptif ketika direncanakan," kata Namora.
3. Desak penurunan biaya pendidikan
Tuntutan ketiga menyasar sektor pendidikan dan layanan dasar.
BEM UI meminta pemerintah menurunkan biaya pendidikan serta memastikan akses terhadap layanan dasar dapat dinikmati masyarakat secara merata.
Ia menilai, persoalan biaya pendidikan menjadi salah satu masalah yang perlu segera ditangani pemerintah.
4. Hentikan penyalahgunaan hukum dan berantas KKN
Pada sektor reformasi hukum dan tata kelola pemerintahan, BEM UI mendesak pemerintah menghentikan penyalahgunaan hukum untuk kepentingan kekuasaan.
Mereka juga menuntut pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Namora menilai, agenda reformasi hukum masih menyisakan persoalan. Ia menyinggung sejumlah regulasi, antara lain Undang-Undang TNI, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
"Masih ada Undang-undang TNI, masih ada KUHP, masih ada undang-undang misalnya P2SK yang masih yang yang itu jelas sekali itu bentuk-bentuk autocratic legalism atau legislasi untuk kekuasaan," ucapnya.
5. Jaga kebebasan berpendapat dan HAM
Tuntutan kelima berkaitan dengan hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi.
BEM UI mendesak pemerintah menjaga kebebasan berpendapat serta menghentikan kriminalisasi terhadap masyarakat yang menyampaikan kritik.
Namora mengklaim, masih terdapat sejumlah orang yang menjadi tahanan politik, korban kriminalisasi, hingga desa dan kota yang mengalami militerisasi di ruang sipil.
"Kami menuntut hal yang paling penting adalah jagalah kebebasan bersuara," kata Namora.
Ingin Aksi Melibatkan Berbagai Elemen Masyarakat
Namora menyebut, demo 28 Oktober tidak hanya ditujukan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat.
Oleh karena itu, BEM UI mengundang berbagai unsur masyarakat, termasuk buruh, petani, berbagai profesi, ibu rumah tangga, hingga pengangguran, untuk menyuarakan keresahan mereka pada demo hari ini.
"Kita akan menjadikan titik aksi sebagai ruang untuk rakyat. Bagaimana menciptakan aksi yang tidak hanya isinya orasi, tapi juga isinya adalah kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, kegiatan-kegiatan inklusif dan tentunya aman untuk dijalankan oleh rakyat biasa. Jadi dia tidak terpusat dan tidak ada penokohan," jelasnya.
Beberapa kampus yang disebut hadir antara lain Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Siapkan Aksi Lanjutan
Selain membahas pelaksanaan demonstrasi, BEM UI juga merumuskan strategi untuk mengawal tuntutan setelah aksi berlangsung.
Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan pemerintah hanya memberikan jawaban normatif tanpa menyelesaikan persoalan yang disampaikan massa aksi hari ini.
Karena itu, BEM UI membuka kemungkinan menggelar demonstrasi lanjutan sebagai bentuk pembangkangan sipil atau civil disobedience.
"Kita menyadari bahwa setelah aksi terjadi, ada kemungkinan bahwa pemerintah hanya menjawab secara normatif dan tidak menyelesaikan masalah. Maka, apa yang harus dilakukan itu yang harus kita sepakati," tuturnya.
Aksi tersebut juga menjadi momentum bagi BEM UI untuk menyampaikan evaluasi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang telah menjalani dua tahun masa pemerintahan.
Pasalnya, pemerintah dinilai belum memenuhi sejumlah janji kampanye, terutama terkait penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.