JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana di Gedung Awaloedin Djamin Bareskrim Polri, Mabes Polri, tampak berbeda dari biasanya pada Senin (2/11/2026) sore.
Sehari sebelum Jenderal Listyo Sigit Prabowo ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan nomor telepon Presiden Prabowo, sejumlah personel kepolisian terlihat bergerak cepat di sekitar gedung tersebut.
Berdasarkan pantauan Kompas.com sekitar pukul 15.15 WIB, pergerakan itu diawali dengan kedatangan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Mahmud Nazly Harahap bersama sejumlah anak buahnya.
Mereka berjalan tergesa-gesa melewati lobi belakang gedung tersebut.
Tak lama kemudian, sejumlah polisi berseragam dengan baret biru muda menyusul masuk.
Mereka berjalan cepat, bahkan beberapa di antaranya berlari kecil menuju lobi depan Bareskrim.
Beberapa saat berselang, sejumlah orang mengenakan jaket hitam juga terlihat memasuki gedung dengan berlari kecil.
Situasi semakin menarik perhatian ketika dua mobil kendaraan taktis (rantis) Brimob melintas dari lobi belakang menuju lobi depan Bareskrim Polri.
Melihat pergerakan sejumlah personel, kendaraan taktis, dan situasi tiba-tiba terkesan sibuk, awak media mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi di lobi depan.
Padahal, pada sore itu, Direktorat PPA-PPO Bareskrim Polri dijadwalkan menggelar konferensi pers pengungkapan kasus perekrutan warga negara Indonesia (WNI) menjadi tentara bayaran Rusia pada pukul 17.00 WIB di lobi depan.
Namun, seorang petugas meminta wartawan menunggu karena sedang ada "penutupan" di area tersebut.
Penasaran dengan situasi itu, wartawan kemudian memutar untuk melihat kondisi lobi depan Bareskrim Polri dari sisi lain.
Di sana, sejumlah personel Brimob sudah berjaga dengan perlengkapan lengkap.
Mereka mengenakan rompi pelindung, helm, dan membawa senjata laras panjang.
Awak media sempat mengabadikan keberadaan personel bersenjata tersebut.
Namun, tak lama kemudian, seorang anggota Propam Polri meminta wartawan mundur untuk sementara waktu.
Sekitar pukul 16.27 WIB, dua mobil rantis Brimob yang sebelumnya terlihat di dalam area Bareskrim keluar dari kompleks gedung.
Beberapa mobil lainnya turut mengikuti dari belakang.
Setelah situasi tersebut, awak media kembali bersiap mengikuti agenda konferensi pers.
Namun, ada perubahan lokasi.
Konferensi pers yang semula dijadwalkan berlangsung di lobi depan Bareskrim dipindahkan ke lantai 9 gedung tersebut.
Listyo Sigit tersangka
Diberitakan sebelumnya, Bareskrim Polri menetapkan tiga perwira tinggi (pati) di Korps Bhayangkara sebagai tersangka atas kasus dugaan dugaan penyadapan nomor telepon Presiden Prabowo Subianto.
Mereka adalah Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution, dan Widyaiswara Kepolisian Utama TKI I Bareskrim Polri Irjen Pol Eko Hadi Santoso.
Penetapan tersangka ini diumumkan Kabareskrim Polri Komjen Pol Asep Safrudin dalam jumpa pers di Mabes Polri, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2026).
“Berdasarkan hasil penyidikan secara scientific crime investigation dan proses manajemen penanganan perkara, penyidik telah menetapkan terhadap tiga orang tersangka dengan inisial LSP, ASN, (dan) EH,” ungkap Asep.
Sementara, penyidik Bareskrim Polri masih memeriksa seseorang berinisial SU sebagai saksi atas perkara tersebut.
Setelah penetapan tersangka, penyidik menahan Listyo Sigit Prabowo, Ahrie Sonta Nasution, dan Eko Hadi Santoso di rumah tahanan (rutan) Mabes Polri.
Atas dugaan perbuatan tersebut, penyidik menerapkan sejumlah pasal terhadap ketiga tersangka.
Pertama, Pasal 258 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Pasal ini mengatur larangan secara melawan hukum mendengarkan, merekam, membelokkan, mengubah, menghambat, dan/atau mencatat transmisi informasi elektronik yang tidak bersifat publik.
“Ancaman pidana terhadap perbuatan tersebut yaitu selama sepuluh (tahun),” ujar Asep.
Kedua, Pasal 332 ayat (1) dan/atau ayat (2) KUHP.
Ketentuan ini mengatur perbuatan mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang lain dengan sengaja dan tanpa hak, termasuk untuk memperoleh informasi elektronik.
Ancaman pidananya paling lama enam tahun penjara.
Ketiga, Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Pasal tersebut mengatur larangan dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengubah, merusak, menghilangkan, memindahkan, atau menyembunyikan informasi elektronik milik orang lain atau milik publik.
Ancaman pidananya paling lama delapan tahun penjara.