SEJARAH kepolisian kita jarang mencatat seorang mantan Kapolri ditahan oleh institusi yang pernah ia pimpin, apalagi dengan tuduhan menyadap presiden yang justru mengangkatnya ke lingkaran Istana.
Hanya 35 hari setelah dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo ditetapkan sebagai tersangka bersama dua perwira tinggi lain, lalu disusul tersangka keempat.
Bareskrim menyebut nomor Presiden, pejabat negara, tokoh politik, media, ormas, LSM, dan pengusaha dimasukkan ke sistem penyadapan Polri tanpa prosedur sepanjang 2025–2026, dan jejaknya dihapus pada Oktober 2026 (Kompas.com, 3/11/2026).
Publik wajar bertanya mengapa seorang jenderal bintang empat dengan masa jabatan Kapolri terlama dan deretan penghargaan mau mempertaruhkan segalanya.
Motif belum diungkap penyidik, dan pihak Listyo belum menyampaikan pembelaan. Asas praduga tak bersalah tetap berlaku sampai hakim memutus.
Namun, ada pertanyaan kedua yang tak kalah penting, yakni ke mana jaringan yang dibangun selama hampir enam tahun memimpin Polri akan bergerak, dan seberapa teguh penggantinya menghadapi gelombang itu.
Dilema Penjaga Kekuasaan
Milan Svolik dalam The Politics of Authoritarian Rule (2012) menggambarkan dilema abadi penguasa terhadap aparat koersifnya.
Aparat yang diberi kewenangan besar untuk menjaga kekuasaan sekaligus memegang kemampuan untuk mengancam penguasa itu sendiri.
Indonesia jelas negara demokrasi, tetapi logika itu tetap bekerja di negara mana pun yang memberi polisi akses atas teknologi pengintaian tanpa pengawasan eksternal yang memadai.
Max Weber melengkapi lensa ini lewat gagasan Dienstwissen, pengetahuan dinas yang menjadi sumber kuasa birokrasi.
Informasi rahasia adalah modal. Siapa pun yang memegang percakapan pribadi presiden, menteri, pemilik media, dan pengusaha memegang daya tawar yang tidak tercantum dalam struktur jabatan mana pun.
Ironisnya, alat yang dipakai bukan perangkat gelap dari pasar ilegal, melainkan sistem penyadapan resmi yang dibeli dengan anggaran negara untuk memburu teroris, bandar narkoba, dan koruptor.
Ketika sistem yang sah dapat diisi nomor siapa saja tanpa surat permohonan penyidik, persoalannya tidak lagi semata niat buruk individu.
Persoalannya adalah desain pengawasan yang membiarkan satu tangan memegang kunci tanpa ada mata lain yang ikut berjaga.
Dari dua lensa itu, beberapa kemungkinan motif layak diajukan sebagai pertanyaan, bukan vonis.
Isu pergantian Kapolri sudah beredar sejak Agustus, dan penghapusan log terjadi pada bulan yang sama ketika Listyo melepas tongkat komando.
Apakah penyadapan itu asuransi politik seorang pejabat yang merasa posisinya terancam? Atau sisa kebiasaan institusi yang terlalu lama memakai alat sadap tanpa kontrol?
Kedekatan historis Listyo dengan Presiden ke-7 Joko Widodo juga terus disebut, meski pengamat mengingatkan bahwa kedekatan masa lalu tidak membuktikan keterlibatan dalam perbuatan yang terjadi kemudian.
Jokowi memilih berjarak dan meminta semua pihak menghormati proses hukum.
Klaim Mahfud MD bahwa enam perwira lebih dulu diamankan dan mengaku bekerja atas perintah pimpinan, serta bahwa Listyo sempat dilepas setelah ada sesuatu yang ditawar, menambah lapisan teka-teki.
Klaim itu masih sepihak. Namun, jika benar ada tawar-menawar, publik berhak tahu apa yang ditawarkan dan mengapa tawaran itu ditolak.
Ujian Kapolri Baru
Saat menerima Persatuan Purnawirawan Polri, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menegaskan penindakan ini murni penegakan hukum dan bukan persaingan antara Kapolri dan mantan Kapolri (Kompas.com, 5/11/2026).
Ketua Umum PP Polri Jenderal (Purn) Bambang Hendarso Danuri ikut memuji keberanian Kapolri. Dukungan para senior penting untuk menjaga soliditas, tetapi sejarah mengajarkan kehati-hatian.
Pada Oktober 2022, di tengah badai kasus Ferdy Sambo, tujuh mantan Kapolri juga mendatangi Mabes Polri untuk memberi dukungan moral, dan yang mereka dukung kala itu adalah Listyo sendiri.
Bahkan pada awal 2026, Bambang Hendarso Danuri masih menyatakan sokongannya atas sikap Kapolri Listyo soal kedudukan Polri di bawah Presiden. Dukungan korps bisa berpindah arah secepat angin politik berubah.
Di sinilah risiko masuk angin itu mengintai. Suyudi memimpin penyidikan terhadap seniornya yang sebulan sebelumnya memuji dan menitipkan amanah kepadanya saat serah terima jabatan.
Ia juga memimpin institusi yang sebagian perwiranya tumbuh di bawah komando Listyo.
Sejumlah kriminolog memperkirakan perkara ini bisa menyeret banyak perwira seperti kasus Ferdy Sambo. Setiap nama yang terseret akan memperluas lingkar pihak yang berkepentingan agar perkara berhenti pada beberapa orang saja.
Perlawanan jaringan tidak harus berupa gerakan terbuka. Ia bisa hadir sebagai praperadilan, pembingkaian kriminalisasi politik, kesaksian yang berubah di ruang sidang, atau ancaman senyap untuk membuka siapa saja yang pernah disadap dan apa isinya.
Bentuk terakhir inilah yang paling berbahaya karena mengubah penegakan hukum menjadi negosiasi antarelite.
Jebakan juga bisa datang dari arah sebaliknya. Istana sudah menyebut perbuatan ini mengarah ke makar, sementara Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra menegaskan pasal makar tidak disangkakan.
Narasi politik yang melampaui konstruksi hukum berisiko melemahkan dakwaan ketika diuji di pengadilan, sekaligus memberi amunisi bagi tuduhan bahwa perkara ini sekadar pembersihan faksi.
Ketegasan juga menuntut kesediaan berbagi kendali. Penyidikan terhadap mantan pimpinan oleh institusi yang sama selalu mengandung konflik kepentingan, sekecil apa pun.
YLBHI mendesak pengawasan eksternal yang independen sekaligus undang-undang khusus tentang penyadapan.
Usulan itu layak dipertimbangkan serius, bukan sebagai tanda ketidakpercayaan kepada Suyudi, melainkan sebagai pagar agar hasil penyidikan kelak tidak mudah digugat.
Kompolnas, Komnas HAM, dan DPR dapat dilibatkan dalam pemantauan tanpa mencampuri teknis penyidikan.
Karena itu, ketegasan Suyudi tidak cukup diukur dari keberanian menahan mantan atasannya. Ukurannya adalah keterbukaan rantai komando, mulai dari siapa yang memerintah, siapa yang melaksanakan, siapa yang menerima hasil sadapan, hingga untuk apa semua itu dipakai.
Ukurannya juga perlakuan setara bagi korban yang bukan presiden, yakni jurnalis, aktivis, dan warga yang percakapannya ikut direkam.
Tanpa itu, kasus ini berisiko menjadi kisah hantu yang terus diceritakan ulang dari warung kopi hingga ruang rapat parlemen tanpa pernah menemukan ujungnya.
Kepolisian kita sudah terlalu sering meninggalkan pertanyaan yang menggantung. Beranikah kali ini Polri membuka semuanya hingga tak ada lagi bisik-bisik yang tersisa?