KOMPAS.com - Kecelakaan beruntun yang melibatkan mobil listrik BYD, empat mobil, dan sepeda motor terjadi di Jalan Panglima Polim, kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2026) sore.
Kecelakaan tersebut mengakibatkan pengemudi ojek online (ojol) bernama Hasan Syukur (56) mengalami luka serius setelah terlindas mobil BYD yang dikemudikan pria berinisial S (46).
Hasan menjalani operasi pada Sabtu (24/10/2026) sore dan dirawat di ruang intensive care unit (ICU) Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.
Sementara itu, pengemudi BYD telah diamankan polisi untuk menjalani pemeriksaan.
7 fakta kecelakaan mobil BYD lindas ojol di Jakarta Selatan
Dilansir dari sejumlah sumber, berikut tujuh fakta kecelakaan mobil BYD yang melindas pengemudi ojol di Blok M.
1. Kecelakaan bermula saat BYD menabrak Honda Brio
Kasi Laka Subdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Kharisma Arbita Bangsa, menjelaskan bahwa kecelakaan bermula ketika mobil BYD menabrak Honda Brio yang melaju searah di depannya.
Mobil BYD tersebut kemudian oleng ke kiri dan menabrak kendaraan Honda Beat yang dikendarai Hasan.
"Karena kurang hati hati dan konsentrasi, menabrak kendaraan Brio yang melaju searah di depanya, kemudian oleng ke kiri menabrak kendaraan Honda Beat," jelas Kharisma, dilansir dari Kompas.com, Sabtu (24/10/2026).
Berdasarkan rekaman kamera dasbor (dashcam) yang beredar di media sosial, Hasan sempat menoleh ke belakang ketika sepeda motornya tersenggol. Ia kemudian terjatuh ke aspal dan terlindas mobil tersebut.
Mobil BYD itu selanjutnya menabrak mobil lain yang berhenti di sisi kiri jalan, naik ke trotoar, dan menabrak dua mobil yang terparkir.
2. Saksi menyebut pengemudi sempat membanting setir
Ato (28), warga yang bekerja di dekat lokasi kejadian, mengatakan, mobil BYD tersebut sempat menyenggol mobil lain sebelum menabrak sepeda motor Hasan.
Menurut Ato, pengemudi BYD kemudian membanting setir ke kiri. Ketika kembali menginjak pedal gas, mobil justru menabrak sepeda motor yang dikendarai Hasan.
"Nabrak mobil putih kan tuh. Pertama awal nabraknya dari sini. Terus dia nabrak ojol di depan," kata Ato, dilansir dari Kompas.com, Sabtu (24/10/2026).
Mobil tersebut terus melaju hingga naik ke trotoar di depan Hotel Amaris.
Satpam Hotel Amaris, Frangky, juga mengaku mendengar suara tabrakan sebelum mobil BYD mencapai lokasi tempat Hasan terlindas.
"Jadi ada crash juga sebelum nyampe sini tuh masih Panglima Polim juga. Dia kabur ke arah sini," kata Frangky.
Menurut Frangky, dua mobil milik tamu hotel mengalami lecet akibat ditabrak BYD tersebut.
3. Pengemudi BYD sempat diamuk massa
Setelah kecelakaan, warga dan sejumlah pengemudi ojol mengerumuni mobil BYD tersebut. Mereka mendesak S keluar dari kendaraan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Ato mengatakan, pengemudi BYD sempat dipukuli warga setelah keluar dari mobil.
"Udah enggak bisa ngomong lagi dia, orang dipukulin gitu," ujar Ato.
Frangky bersama petugas keamanan dari hotel di sekitar lokasi kemudian berupaya mengamankan S sebelum menyerahkannya kepada polisi.
"Saya kan koordinasi sama sekuriti sebelah ya. Tolong diamanin dulu. Kasihan juga ya, takutnya dipukulin juga kan. Nah sebelum diamanin ke pos sebelah, keburu polisi datang," tutur Frangky.
S kemudian dibawa ke Polres Metro Jakarta Selatan untuk menjalani pemeriksaan.
4. Korban mengalami patah tulang dan dirawat di ICU
Sementara itu, Hasan dilaporkan mengalami luka serius akibat kecelakaan tersebut. Selain patah tulang pada kaki kiri, ia mengalami keretakan tulang di sejumlah bagian tubuh.
Istri Hasan, Rohayah (53), mengatakan, suaminya menjalani operasi pada Sabtu (24/10/2026) sore. Setelah operasi, Hasan dirawat di ruang ICU RS Fatmawati dengan bantuan alat pernapasan dan selang makanan.
"Napas lewat selang dari mulut, dan makanan lewat selang dari hidung kata dokter. Ya jadi kebalik gitu," tutur Rohayah, dilansir dari Kompas.com, Sabtu.
Rohayah juga menjelaskan kondisi luka yang dialami suaminya akibat benturan saat kecelakaan.
"Area pundak sampai perut, termasuk punggung ada keretakan, terus kaki yang kiri patah tulang. Gimana ya... ngebayangin ngeliatnya kayak apa, enggak tega saya," kata Rohayah.
Hingga Sabtu malam, Hasan masih belum sadarkan diri. Keluarga menyerahkan penanganan medisnya kepada tim dokter.
5. Hasan merupakan tulang punggung keluarga
Hasan diketahui telah bekerja sebagai pengemudi ojol di Jakarta sejak 2019. Ia berasal dari Kampung Ciakar, Siketug, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Banten.
Anak Hasan, Ewis Hildayani (27) mengatakan, ayahnya merupakan sosok pekerja keras yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk kedua cucunya.
"Bapak tulang punggung keluarga, sayang sama cucunya, sering ngasih jajan cucunya. Saya dibeliin motor buat nganter anak ke sekolah," ujar Ewis, dilansir dari Kompas.com, Minggu (25/10/2026).
Menurut Ewis, Hasan biasa berangkat bekerja pada pagi hari dan baru selesai sekitar tengah malam.
Meski sudah berkeliling Jakarta mencari penumpang, penghasilan ayahnya belakangan tidak menentu.
"Kalau berangkat pagi sampai jam 12 malam, itu juga kadang dapatnya Rp 200.000 kadang kurang walau sudah keliling Jakarta," ujar Ewis.
Hasan juga berusaha menjaga kedekatan dengan keluarga meski bekerja jauh dari rumah. Ia kerap menanyakan kabar anak dan cucunya serta melakukan panggilan video ketika memiliki waktu luang.
Setelah kecelakaan, Ewis mengaku belum bisa menjenguk ayahnya secara langsung karena terkendala biaya dan harus mengurus anaknya yang masih bersekolah.
"Mau ke Jakarta bingung, engga ada biaya, ditambah anak juga masih sekolah," tandas dia.
6. Keluarga korban menolak berdamai
Ewis menegaskan bahwa keluarganya tidak membuka peluang perdamaian dengan pengemudi BYD yang melindas ayahnya.
Ewis meminta pengemudi tersebut bertanggung jawab atas kecelakaan yang menyebabkan Hasan mengalami luka serius hingga harus menjalani operasi dan perawatan intensif di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.
"Harus tanggung jawab, harus sehat lagi, harus dihukum supirnya, enggak ada kata damai, harus dipenjara," kata Ewis.
Di tengah kondisi ayahnya yang masih menjalani perawatan, Ewis berharap proses hukum terhadap pengemudi BYD tetap berjalan.
7. Pengemudi BYD negatif narkoba dan alkohol
Lebih lanjut, Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Mujiyanto mengatakan, pengemudi mobil listrik BYD berinisial S (46) telah menjalani tes urine dan pemeriksaan alkohol setelah kecelakaan.
Hasil kedua pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa S negatif narkoba dan alkohol.
"Itu (pengemudi) udah diperiksa (tes urine), negatif. Sama alkohol udah juga, negatif semua," kata Mujiyanto, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (24/10/2026).
(Sumber: Kompas.com/Hanifah Salsabila, Rasyid Ridho, Thalita Dewanty | Editor: David Oliver Purba, Andi Muttya Keteng Pangerang, Ihsanuddin)