SAMPIT, KOMPAS.com – Unggahan video yang memperlihatkan seekor monyet ekor panjang tergeletak lemas dan mengalami sesak napas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng), viral di media sosial.
Di balik video berdurasi singkat yang menyedot perhatian jutaan pasang mata tersebut, tersimpan cerita perjuangan animal rescuer lokal yang menyisir kepulan asap pekat demi menyelamatkan nyawa satwa liar dari ancaman karhutla Kalteng.
Aksi penyelamatan itu dilakukan oleh Harie, seorang pegiat penyelamat satwa asal Sampit, pada Kamis (10/9/2026) siang. Saat itu, ia bersama timnya sedang menyisir kawasan lingkar luar Jalan Soekarno Hatta, Sampit, yang terimbas karhutla.
Ditemukan 'Ngap-ngapan' dan Terpisah dari Induk
Harie menceritakan, primata yang diperkirakan masih berusia muda itu ditemukan dalam kondisi sangat memprihatinkan dan terpisah dari kelompoknya.
"Kondisinya memang sudah ngap-ngapan, kesulitan bernapas. Saat ditemukan, saya kira sudah mau mati karena kondisinya sangat lemah," ujar Harie saat dikonfirmasi, Jumat (11/9/2026).
Monyet ekor panjang tersebut tergeletak tak berdaya akibat menghirup asap pekat yang menyelimuti lokasi karhutla Sampit. Dalam rekaman video yang diunggah di akun Instagram miliknya, @harie, Harie tampak perlahan menggoyang-goyangkan kepala sang monyet untuk memancing kesadarannya.
Usaha tersebut membuah hasil. Monyet muda itu perlahan-lahan mulai sadar hingga akhirnya mampu terduduk kembali.
Melihat kondisi fisik satwa yang sangat lemas, Harie dan tim tidak langsung melepasliarkannya. Monyet tersebut segera dievakuasi ke klinik dokter hewan terdekat di Sampit untuk mendapatkan pertolongan medis darurat.
"Kemudian kami bawa dan rujuk ke dokter hewan," lanjut Harie.
Setelah mendapat perawatan intensif dari medis, kondisi kesehatan primata tersebut perlahan membaik. Monyet itu dirawat sementara di kediaman Harie dan mulai mau mengonsumsi pisang serta air minum.
Setelah dipastikan benar-benar pulih dan siap kembali ke alam, Harie memutuskan untuk melepasliarkan satwa tersebut pada Jumat (11/9/2026).
"Setelah kondisinya membaik, dia mau makan pisang dan minum. Akhirnya keesokan harinya langsung kami lepasliarkan di daerah Mentaya Seberang, jauh dari permukiman dan tentunya jauh dari area kebakaran hutan," jelasnya.
Viral di Media Sosial dan Satwa Lain yang Mati
Hingga Jumat (11/9/2026), video aksi penyelamatan monyet sesak napas yang diunggah Harie telah ditonton lebih dari 3 juta kali dan dibanjiri belasan ribu komentar warganet yang prihatin atas dampak buruk karhutla terhadap habitat satwa liar.
Harie mengungkapkan, dalam penyisiran di lokasi karhutla Sampit, ia tak hanya menemukan monyet. Sejumlah satwa lain seperti ular, kura-kura, hingga burung juga turut menjadi korban. Sebagian ditemukan masih bertahan hidup, tetapi tak sedikit yang ditemukan telah mati terbakar.
Seluruh temuan tersebut didokumentasikan dan diunggah ke media sosial sebagai bentuk edukasi publik.
"Selain monyet tadi, kami juga menemukan satwa lain seperti ular, kura-kura, serta burung, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Satwa-satwa tersebut kami dokumentasikan dan kami bagikan di media sosial agar teman-teman dan netizen bisa melihat satwa apa saja yang ditemukan terdampak kebakaran," kata Harie.
Penyelamatan dari Hati dan Dedikasi 10 Tahun
Aksi nekat menembus asap karhutla ini bukan hal baru bagi Harie. Pria yang juga bertindak sebagai pelatih penanganan ular (snake handler) bagi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Sampit ini telah mendedikasikan hidupnya sebagai animal rescuer panggilan selama lebih dari 10 tahun.
"Kegiatan kami terus-menerus, continue setiap hari. Tidak hanya saat kebakaran lahan. Sebelum terjadi kebakaran lahan pun kami memang sudah berkonsentrasi pada penyelamatan satwa," ungkapnya.
Bagi Harie dan rekan-rekan sesama pegiat, melihat satwa liar terancam kepunahan seperti orangutan dan trenggiling akibat kebakaran hutan merupakan pukulan berat.
"Kalau untuk manusia, sudah banyak yang membantu. Sementara konsentrasi kami memang kepada satwa atau hewan-hewan yang terdampak, seperti orangutan, trenggiling, dan hewan-hewan lain yang terancam punah," tegasnya.
Saat ditanya alasannya terus konsisten menyelamatkan satwa liar tanpa imbalan, Harie memberikan jawaban sederhana namun mendalam.
"Alasannya memang dari hati. Kami memang cinta terhadap satwa dan memang dari hati ingin menolong mereka," ucapnya.
Ia pun berpesan agar peristiwa karhutla ini menjadi refleksi bersama bagi masyarakat untuk tidak merusak hutan dan menjaga kelestarian alam.
"Pesan yang saya sampaikan sebenarnya tidak muluk-muluk. Yang penting, semua bisa hidup berdampingan dan kelestarian tetap dijaga," kata Harie.
Imbauan BKSDA Kalteng
Menanggapi fenomena satwa terdampak karhutla, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Andi Muhammad Kadhafi, menyatakan hingga Kamis (10/9/2026) belum ada penyerahan fisik monyet tersebut ke pihak BKSDA.
Namun, Andi menegaskan pentingnya prosedur pemeriksaan medis bagi setiap satwa yang dievakuasi dari lokasi karhutla.
“Namun seandainya ada, pasti kami akan cek kesehatannya. Apakah satwa akan menjalani perawatan atau dilepaskan ke habitat alaminya,” kata Andi saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan singkat, Kamis.
Andi menambahkan, apabila satwa dinyatakan sehat oleh tim medis, pihak BKSDA akan segera memindahkannya ke tempat yang lebih aman.
“Jika dianggap sehat, segera kami translokasi ke habitat alaminya yang aman dari kebakaran hutan,” lanjut Andi.
Dari peristiwa ini, BKSDA Kalteng mengimbau seluruh warga Kalteng untuk segera melapor jika menemukan satwa liar yang terdampak kebakaran hutan maupun dalam kondisi darurat lainnya.
“Bisa menghubungi nomor call center 08115218500. Sampaikan dengan jelas keadaan daruratnya serta lokasinya. Kami akan berusaha merespons dalam kesempatan pertama,” pungkas Andi.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul Monyet Ditemukan Sesak Napas di Lokasi Karhutla Sampit, BKSDA Sebut Belum Ada Penyerahan dan Tribunnews.com dengan judul Cerita di Balik Viral Monyet Sesak Napas karena Asap Karhutla di Sampit, Kini Berhasil Diselamatkan