SPEKULASI Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), akan maju sebagai kandidat pada Pilpres 2029 menarik untuk dicermati.
Meskipun AHY telah menyampaikan klarifikasi atas berbagai ‘kecurigaan’ terhadap sinyal dan gestur pidato politiknya, menarik untuk menganalisis konstelasi kontestasi politik tahun 2029 bila AHY memutuskan untuk turut bertarung.
Bila AHY maju pada Pilpres 2029 (sebagai capres atau cawapres), persaingan akan ditandai oleh semakin banyaknya anak presiden yang terjun ke medan laga. (Catatan: tulisan ini memilih menggunakan sebutan anak presiden ketimbang anak mantan presiden, mengikuti tradisi mempertahankan sebutan presiden kepada para mantan presiden).
AHY kemungkinan akan bertarung dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang juga putra dari Presiden Jokowi.
Gibran diperkirakan akan maju, baik berpasangan dengan Presiden Prabowo atau alternatif lain.
Puan Maharani, ketua DPR saat ini yang merupakan putri dari presiden ke-5 RI belum menunjukkan sinyal ke arah itu.
Namun, peluang itu tidak berarti tertutup sepenuhnya.
Status Anak Presiden sebagai Modal Kultur
Dari perspektif sosiologis, status sebagai anak presiden merupakan modal budaya (culture capital) yang penting.
Menurut Pierre Bourdieu (1986) dalam 'The Form of Capital,' modal budaya adalah aset non-finansial yang sangat berharga yang diwariskan melalui keluarga.
Sebagai misal, anak yang tumbuh di lingkungan tokoh terpandang berpotensi mengalami proses sosialisasi primer yang sangat kaya.
Sejak kecil, mereka terbiasa mendengarkan diskusi tingkat tinggi, melihat bagaimana orang tua mereka mengambil keputusan, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik besar.
Dampak positifnya ialah kualitas kepemimpinan, artikulasi bahasa yang tertata, dan ketenangan emosional (kematangan) terserap secara alami oleh anak melalui modeling sehari-hari.
Secara psikologis, sebagaimana dikemukakan oleh Tajfel dan Turner lewat Teori Identitas Sosial (1986) individu mendefinisikan diri mereka berdasarkan kelompok sosial tempat mereka bernaung.
Ketika seseorang menyandang sebutan sebagai anak presiden, harga dirinya (self-esteem) terangkat ke puncak hierarki sosial yang dihormati.
Mereka juga diasosiasikan dengan kualitas orang tua mereka.
Kontribusi positif lain dari identitas ialah membantu individu memahami posisi mereka di dunia dan bagaimana mereka harus berperilaku.
Ini merupakan keistimewaan yang tidak selalu dapat diperoleh semua orang. Banyak calon pemimpin yang harus berjuang untuk menciptakan merek (brand) mereka dan tidak selalu berhasil.
Meskipun demikian, dari perspektif Ilmu Komunikasi, status sebagai anak mantan presiden hanya akan berkontribusi positif bila ia berhasil dinegosiasikan dalam interaksi sosial melalui komunikasi.
Identitas yang mulia tidak menjadi jaminan untuk memberi bobot yang mulia pada sosok seorang politisi. Ia sangat tergantung pada bagaimana ia mengelolanya melalui komunikasi.
Menurut Teori Manajemen Identitas William R. Cupach dan Tima M. Imahori (1980), setiap individu selalu terlibat dalam upaya menampilkan, menegosiasikan dan mempertahankan identitasnya untuk mencapai tujuan tertentu.
Identitas itu selalu berlapis, tidak tunggal, dan tidak statis. Ia merupakan hasil dari tawar-menawar melalui komunikasi dengan pihak yang menjadi mitra interaksi.
Identitas itu akan memberi bobot positif jika ia berhasil dinegosiasikan dengan baik dan divalidasi oleh lingkungan sosialnya.
Sebaliknya, ia akan menjadi beban bila yang terjadi adalah ketidaksesuaian identitas.
Bila, misalnya, anak presiden menampilkan perilaku yang bertolak belakang dengan perilaku orang tuanya, publik akan menolak identitas yang dinegosiasikan.
Beban lain dari identitas ialah jebakan stereotip. Jika seseorang terkurung dalam stereotip status tersebut, ia akan kehilangan otonomi atas dirinya sendiri.
Di dunia politik, seorang tokoh akan terus mengelola komunikasinya agar identitas yang diinginkan tetap terjaga sesuai dengan yang diinginkan.
Legacy Leader versus Self-made Leader
Tokoh-tokoh politik yang mewarisi identitas sebagai putra-putri tokoh terpandang sering disebut sebagai 'legacy leaders.' Mereka memiliki modal kultur yang kuat.
Mereka memperoleh privilege tertentu, yang tidak mungkin diperoleh oleh yang bukan berstatus seperti mereka.
Mereka secara cepat dapat memperoleh kedudukan yang penting di organisasi-organisasi yang dirintis oleh orang tua mereka, termasuk di partai politik.
AHY, misalnya, di usia 41 telah menjadi ketua umum Partai Demokrat tanpa pernah menjadi pengurus struktural di level DPD atau DPC.
Partainya mendaftarkannya sebagai calon gubernur DKI Jakarta di usia 39 tahun dengan pangkat militer terakhir mayor infanteri.
Gibran Rakabuming Raka juga tidak jauh berbeda. Pada usia 32 tahun, ia mendapat privilege menjadi calon wali kota Solo dari PDI Perjuangan, tanpa harus memenuhi peraturan internal partai sebagai anggota atau kader aktif minimal tiga tahun.
Dua contoh ini hanya sebagian dari banyak cerita tentang 'legacy leader' di kancah politik Indonesia.
Di kutub yang lain adalah tokoh-tokoh politik yang berasal dari masyarakat biasa. Kutub ini kerap disebut 'self-made leader', yaitu orang-orang yang dibentuk oleh talenta personal dan kerja keras secara mandiri.
Dua kutub ini sama-sama hidup dan berkembang, melahirkan tokoh-tokohnya masing-masing.
Di Indonesia, misalnya, kutub 'self-made leader' telah melahirkan pemimpin-pemimpin seperti Sukarno, Suharto, B.J. Habibie, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo, bila kita bicara di level presiden.
Para pemimpin yang dinilai berpotensi masuk ke ‘liga’ ini melalui jalur ini antara lain Dedi Mulyadi (gubernur Jawa Barat), Sherly Tjoanda (gubernur Maluku Utara), Pramono Anung (gubernur DKI Jakarta), Bahlil Lahadalia (Ketua Umum Partai Golkar dan Menteri ESDM), untuk menyebut beberapa.
Di sisi lain, kutub 'legacy leader' juga tidak kalah produktifnya, karena telah memunculkan pemimpin-pemimpin seperti Megawati Sukarnoputri (putri dari Sukarno), Abdurrahman Wahid (putra dari K.H. Wahid Hasjim), Prabowo Subianto (putra dari begawan ekonomi, Sumitro Djojohadikusumo), Gibran Rakabuming (putra dari Presiden ke-7, Joko Widodo), dan kini AHY.
Kutub ini juga turut diramaikan oleh Ketua DPR-RI dan Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani (putri dari Presiden ke-5, Megawati Sukarnoputri), Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto (putra dari menteri perindustrian di era Soeharto, Hartarto), Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar (cicit dari K.H. Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU), Ketua Dewan Pembina Partai Golkar dan Menteri Perindustrian, Agung Gumiwang Kartasasmita (putra dari mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Koordinator Bidang Ekuin) dan lain-lain.
Berkaca pada Pengalaman Amerika Serikat
Bagaimana kontribusi latar belakang keluarga seorang pemimpin bagi kepemimpinannya di kemudian hari telah menjadi objek studi yang serius.
Salah satu rujukan penting adalah studi berkala yang dilakukan oleh Siena College Research Institute (SCRI) dalam menilai kinerja presiden Amerika Serikat dari masa ke masa.
Sejak tahun 1982, lembaga ini melakukan survei untuk membuat peringkat seluruh presiden AS. Survei dilakukan pada akhir tahun pertama masa kerja presiden baru.
Survei dilakukan terhadap responden yang terdiri dari ratusan sejarawan, ilmuwan politik dan pakar kepresidenan.
Mereka diminta untuk menjawab berbagai pertanyaan yang dikelompokkan ke dalam 20 kategori yang berbeda. Ke-20 kriteria ini dinilai menggunakan skala 1 (kategori buruk) hingga 5 (kategori luar biasa).
Salah satu yang paling penting dari 20 kategori ini ialah latar belakang (backround).
Ke dalamnya mencakup latar belakang keluarga (seperti status sebagai anak presiden), latar belakang pendidikan, dan pengalaman.
SCRI telah mengadakan survei sebanyak tujuh kali sejak pertama kali dilakukan tahun 1982. Bila perhatian difokuskan pada kategori latar belakang, muncul beberapa temuan yang menarik.
Secara longgar, latar belakang presiden AS bisa dibagi menjadi tiga kelompok.
Pertama, kelompok dinasti politik dan elit. Ini adalah kelompok yang sejak lahir memiliki privilege keluarga besar, kekayaan, atau nama besar politik.
Kedua, adalah kelompok kelas menengah dan pekerja. Ini merupakan kelompok latar belakang terbesar. Mereka lahir dari keluarga biasa (bukan elit politik, bukan pula miskin ekstrem), tetapi berhasil naik kelas melalui jalur pendidikan tinggi, profesi hukum, atau karier militer.
Ketiga adalah kelompok berlatar belakang keluarga miskin. Ini adalah kelompok yang lahir dari garis kemiskinan atau yatim piatu, tetapi memiliki ketangguhan luar biasa untuk naik ke puncak kekuasaan.
Sepanjang sejarah Amerika Serikat, hanya pernah ada dua kali anak presiden yang menjadi presiden. Keduanya adalah John Quincy Adams, presiden ke-6 AS, yang merupakan anak dari John Adams, presiden ke-2 AS dan George W. Bush, yang merupakan putra dari George H.W. Bush.
Sebagai putra dari founding father (bapak bangsa) sekaligus presiden, Quincy Adams dididik langsung oleh kaum elit pemimpin AS.
Ia menjadi diplomat di Eropa sejak usia remaja, dan menjadi menteri luar negeri yang legendaris.
Tidak heran jika dalam survei-survei SCRI ia selalu mendapat peringkat tinggi untuk kategori latar belakang. Dalam beberapa kali survei ia berada di peringkat pertama.
Namun, ketika pengamatan diarahkan pada skor kepemimpinan keseluruhan, Quincy Adams tidak terlalu istimewa.
Kinerja kepresidenannya tergolong biasa-biasa belaka alias berada di papan tengah. Salah satu kelemahannya menurut survei SCRI, adalah hubungannya yang buruk dengan Kongres.
Anak presiden berikutnya yang berhasil menjadi presiden AS ialah George W. Bush. Ia adalah putra dari presiden ke-41 AS, George H.W. Bush.
Dari sisi latar belakang, seharusnya ia juga memiliki peringkat tinggi. Statusnya sebagai anak presiden dan cucu seorang senator (Prescott Bush) memberinya koneksi politik yang luas.
Namun, survei tidak menunjukkan hasil yang selaras. Peringkat George W. Bush untuk kategori latar belakang (sebagai anak presiden) tergolong biasa.
Ia berada di peringkat 17 (pada survei tahun 2018), peringkat 18 (tahun 2002), peringkat 20 (tahun 2022) dan peringkat 36 (tahun 2010.
Peringkat kinerjanya secara keseluruhan juga tidak terlalu istimewa. Ia berada di peringkat 33 (pada survei tahun 2018), peringkat 23 (tahun 2002), peringkat 35 (tahun 2022) dan peringkat 39 (tahun 2010).
Peringkatnya relatif lebih buruk dibandingkan dengan ayahnya.
Hasil senada terlihat bila pengamatan diarahkan kepada para keturunan ‘bapak bangsa’ AS.
Presiden yang merupakan kerabat dekat para arsitek utama Paman Sam selalu mendapatkan peringkat kategori latar belakang yang tinggi.
James Madison dan James Monroe, misalnya. Mereka tumbuh di lingkaran elit penandatangan Deklarasi Kemerdekaan.
Nilai kategori latar belakang mereka selalu konsisten di peringkat 5 besar. Namun, kinerja mereka sebagai presiden tak sebanding dengan latar belakang mereka.
Uniknya, bila pengamatan diarahkan pada presiden AS yang mencatat peringkat kategori latar belakang yang rendah, hal yang sebaliknya terlihat.
Abraham Lincoln, presiden ke-16 AS, sebagai contoh. Dalam kriteria latar belakang, peringkat Lincoln sangat rendah (berada di papan bawah sekitar peringkat 29-32). Ia lahir di gubuk kayu miskin, tidak menempuh pendidikan formal tinggi, dan minim pengalaman eksekutif.
Namun, karena kinerja objektifnya yang luar biasa saat menyelamatkan negara dari Perang Saudara, nilai Lincoln secara keseluruhan di mata para responden sangat baik sehingga bertengger di peringkat 1 atau 2 sejarah AS.
Hasil survei SCRI menunjukkan bahwa latar belakang seorang calon presiden AS memiliki kontribusi penting dalam penilaian kinerja mereka.
Latar belakang yang positif dan istimewa, seperti berasal dari kalangan terpandang, memiliki pendidikan yang baik, dan berpengalaman, memberi impresi yang sangat positif.
Namun, para responden survei akan memberikan hukuman lebih berat kepada mereka apabila hasil akhir dari masa jabatan mereka tidak lebih baik.
Jika seorang anak presiden memimpin dengan performa yang biasa-biasa saja atau justru buruk, responden SCRI menganggap mereka gagal memaksimalkan privilege luar biasa yang sudah mereka miliki sejak lahir.
Ini berkebalikan dengan mereka yang datang dari latar belakang miskin yang berhasil mencetak prestasi besar. Mereka akan dipandang jauh lebih heroik.
Dapat dikatakan latar belakang ‘mentereng’ seorang calon pemimpin berperan sebagai bonus di awal perjalanan. Ia memberi keunggulan start.
Modal kultur sebagai keluarga terpandang, memberi berbagai kemudahan untuk memasuki arena. Tiket masuk lebih mudah mereka peroleh dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki jalur VIP.
Namun, seiring dengan perjalanan waktu, penilaian terhadap mereka akan jauh lebih kritis.
Standar penilaian terhadap mereka akan jauh lebih tinggi daripada terhadap mereka yang tidak memiliki privilege.
Kesalahan kecil yang dilakukan oleh seorang ‘anak presiden’ akan dinilai jauh lebih berat oleh publik karena dianggap merusak citra kelompok elit yang diwakilinya.
AHY dan anak-anak presiden lainnya yang mungkin kini tengah merencanakan untuk memasuki gelanggang, seyogianya memperhitungkan hal ini.
Mereka akan selalu dihadapkan pada ketegangan antara mendayagunakan privilese latar belakang keluarga untuk mendongkrak nilai, namun pada saat yang sama harus berjuang untuk diakui sebagai individu yang mandiri, bukan perpanjangan tangan orang tuanya.