RIYADH, KOMPAS.com - Arab Saudi menghadapi serangan baru berupa rudal dan drone pada Senin (12/10/2026) dari kelompok bersenjata Houthi di Yaman.
Namun, belum ada informasi apakah rudal dan drone tersebut berhasil dicegat.
Ofensif terbaru itu terjadi setelah Houthi menghantam Bandara Internasional King Khalid dua hari berturut-turut pada pada Sabtu (10/10/2026) dan Minggu (11/10/2026), yang membuat bandara tersebut ditutup untuk sementara.
Menurut laporan Reuters, Houthi telah melancarkan serangkaian serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Saudi sejak pekan lalu.
Serangan-serangan Houthi menyebabkan sebagian wilayah udara Saudi ditutup dan menghentikan sementara operasional Bandara Riyadh.
Langit di atas ibu kota Saudi juga relatif sepi, bahkan ketika Riyadh menjadi tuan rumah konferensi energi besar.
Saudi kini menghadapi situasi sulit setelah kembali terlibat dalam perang saudara Yaman.
Riyadh berupaya mendorong Houthi menjauh dari Selat Bab El-Mandeb yang menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak sekaligus menghentikan kelompok tersebut yang terus memperluas pengaruhnya.
Di sisi lain, pasukan Yaman yang didukung Saudi dilaporkan telah memperoleh sejumlah kemajuan melawan Houthi di sekitar Bab El-Mandeb. Namun, pasukan tersebut masih berada dalam posisi tertekan di sejumlah front lain.
Sumber-sumber militer Yaman mengatakan, tekanan terhadap Houthi kemungkinan membutuhkan waktu untuk menghasilkan dampak.
Di tengah eskalasi tersebut, Iran menawarkan diri menjadi mediator antara Houthi dan Arab Saudi.
"Kami telah berulang kali menyatakan kesiapan kami untuk membantu memfasilitasi dialog antara para pihak," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, Senin (12/10/2026).
Sementara itu, Saudi terus meningkatkan serangan udaranya terhadap Houthi dengan menargetkan Provinsi Al-Jawf, sebagaimana dilaporkan televisi Yaman pada Senin.
Namun, Houthi tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangan mereka terhadap infrastruktur Saudi.
Kelompok tersebut berulang kali mengancam akan menargetkan bandara dan wilayah udara Saudi, serta fasilitas minyak yang menjadi penggerak utama perekonomian dan rencana pembangunan ambisius kerajaan.
UEA desak kerja sama negara Teluk
Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan kembali kerja sama negara-negara Teluk dalam bidang keamanan dan pertahanan sebagai respons terhadap serangan terhadap Saudi.
Penasihat Presiden UEA Anwar Gargash mengatakan serangan terhadap Arab Saudi mengancam keamanan seluruh negara Teluk.
Ia juga mengatakan pengabaian terhadap keamanan kolektif negara-negara Teluk telah membuat pihak lain berani melampaui batas terhadap negara-negara di kawasan.
Arab Saudi dan UEA sebelumnya merupakan mitra dalam perang Yaman selama bertahun-tahun.
Namun, keduanya mendukung kelompok yang berbeda di dalam koalisi militer Yaman yang membantu pemerintah dan hubungan kedua negara sempat memburuk meski kini disebut mulai membaik.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu mengatakan bahwa Washington sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan Saudi dalam serangan terhadap Houthi.
Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda Amerika Serikat akan melancarkan serangan terhadap kelompok tersebut.