Mantan Kopassus Dibacok Tetangga di Cakung Jaktim, Diduga Dipicu Cekcok Renovasi Rumah

Mantan Kopassus Dibacok Tetangga di Cakung Jaktim, Diduga Dipicu Cekcok Renovasi Rumah

3 jam lalu

Seorang mantan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Muhammad Fahrul (48), menjadi korban pembacokan oleh tetangganya.

Swipe untuk menutup

Mantan Kopassus Dibacok Tetangga di Cakung Jaktim, Diduga Dipicu Cekcok Renovasi Rumah

23/10/2026, 11:32 WIB
Mantan Kopassus Dibacok Tetangga di Cakung Jaktim, Diduga Dipicu Cekcok Renovasi Rumah

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang mantan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Muhammad Fahrul (48), menjadi korban pembacokan oleh tetangganya di Perumahan Jakarta Garden City (JGC), Cakung, Jakarta Timur, Kamis (21/10/2026).

Peristiwa tersebut diduga dipicu perselisihan terkait pekerjaan renovasi rumah di dekat kediaman pelaku, berinisial JB (57).

Kapolsek Cakung Kompol Andre Try Putra mengatakan, insiden terjadi pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.

“(Kejadian) sekira pukul 14.30 WIB sewaktu istri pelaku menegur saksi 2 mandor tukang untuk berhenti merenovasi pekerjaan rumah di samping rumah pelaku,” kata Andre dalam keterangan tertulisnya.

"Iya (korban mantan Kopassus), pensiun dini," tambahnya.

Fahrul sebagai pemilik proyek meminta mandor tukang untuk tetap melanjutkan renovasi rumah.

Setelahnya terjadi cekcok antara Fahrul dan pelaku hingga pelaku menantang dan membacok korban.

Merasa tidak terima, korban juga membalas dengan membanting pelaku ke lantai.

Akibat kejadian itu, Fahrul mengalami luka bacok di bagian kanan kepala dan dilarikan ke Rumah Sakit Mayapada JGC untuk mendapatkan penanganan medis.

Polisi kemudian mendatangi lokasi kejadian di Cluster Zebrina III, Cakung Timur, untuk memeriksa tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan sejumlah saksi.

Polisi telah menangkap pelaku dan menyita senjata tajam yang diduga digunakan dalam kejadian tersebut.

“Pelaku sudah kami amankan untuk proses lebih lanjut. Kami juga mengamankan barang bukti berupa golok,” ujar Andre.

Pelaku juga dibawa ke Rumah Sakit Islam Pondok Kopi akibat dibanting korban untuk mendapatkan perawatan medis.

Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mendalami kasus tersebut.

Terpopuler Lainnya

Masa Kecil Tak Biasa Anak Buronan FBI, Hidup Berpindah-pindah dan Belajar Bahasa Kode

Masa Kecil Tak Biasa Anak Buronan FBI, Hidup Berpindah-pindah dan Belajar Bahasa Kode

18 jam lalu

Kisah Zayd Ayers Dohrn, anak pasangan buronan FBI yang sejak kecil hidup dengan identitas palsu dan diajari mengenali polisi yang menyamar.

Swipe untuk menutup

Masa Kecil Tak Biasa Anak Buronan FBI, Hidup Berpindah-pindah dan Belajar Bahasa Kode

22/10/2026, 21:00 WIB
Masa Kecil Tak Biasa Anak Buronan FBI, Hidup Berpindah-pindah dan Belajar Bahasa Kode
Editor: Tri Indriawati

KOMPAS.com - "Bahkan ketika aku masih sangat kecil, mereka sudah mengajarkanku pelajaran-pelajaran revolusioner… Mereka mengajarkanku cara mengenali polisi yang menyamar dan agen FBI di tengah kerumunan… Mereka mengajarkanku cara berbicara dengan kode melalui telepon…. Bagiku, rasanya seperti permainan."

Zayd Ayers Dohrn tidak memiliki masa kecil yang biasa.

Tidak ada karakter Disney di dinding kamarnya. Sebaliknya, potret Che Guevara dan Ho Chi Minh terpampang di dinding, seolah menatapnya.

Selama bertahun-tahun ia tidak bisa bersekolah di taman kanak-kanak. Perjalanan berkemah bersama keluarga bukanlah tentang memanggang marshmallow, melainkan, setidaknya dalam satu kasus, untuk mengintai sebuah penjara federal menjelang rencana pelarian.

Saat Zayd lahir, ibunya, Bernadine Dohrn, adalah salah satu buronan paling dicari oleh FBI.

Ia adalah pemimpin Weather Underground, sebuah organisasi anti-perang radikal yang berusaha menyoroti ketidaksetaraan dan ketidakadilan rasial di Amerika melalui serangkaian aksi pengeboman yang menargetkan gedung-gedung penting pemerintahan, termasuk Gedung Capitol, Pentagon, dan Departemen Luar Negeri.

Ayahnya, Bill Ayers, juga merupakan salah satu pendiri kelompok tersebut. Akibatnya, keluarga itu hidup dengan identitas palsu, sering berpindah-pindah, dan selalu waspada terhadap ancaman penangkapan.

Bagi Zayd, bagaimanapun, ini hanyalah kehidupannya sehari-hari.

"Aku tahu bahwa FBI sedang memburu kami. Mereka tidak pernah berbohong padaku soal itu. Mereka menjelaskannya dengan cara yang menurut mereka bisa dimengerti oleh seorang anak. Kau tahu, mereka membandingkan kami dengan Robin Hood. Kami adalah penjahat yang mencuri dari orang kaya dan memberi kepada orang miskin, hal-hal seperti itu."

Kedua orangtuanya berasal dari latar belakang kelas menengah kulit putih yang mapan. Ibunya adalah seorang mahasiswa berprestasi dengan nilai A yang sedang menempuh studi hukum di Universitas Chicago.

Namun, setelah Dr. Martin Luther King Jr. datang ke kota itu dan mendukung aksi mogok sewa yang dilakukan para aktivis pada 1966, ibunya pun terlibat aktif dalam kampanye tersebut dan semakin yakin akan perlunya perubahan yang lebih radikal di Amerika.

Pembunuhan King, yang diikuti penembakan fatal oleh polisi terhadap Fred Hampton, seorang pemimpin Black Panther, semakin mendorongnya ke arah militansi.

"Aku rasa hal itu membuat ibuku dan beberapa orang lain seperti dia benar-benar kehilangan akal sehat," kata Zayd.

"Dia menganggap [Hampton] bukan hanya seorang teman, tetapi juga panutan, dan pemerintahnya justru membunuhnya."

Bagi ayahnya, penolakan terhadap Perang Vietnam dan wajib militer yang pada awalnya menariknya ke kelompok tersebut.

"Mereka punya slogan saat itu, 'bawa perang ke rumah.' Idenya adalah membawa kekerasan Perang Vietnam dan benar-benar menampilkannya di jalan-jalan Amerika… untuk menyadarkan orang-orang dan menunjukkan apa yang mereka lakukan di luar negeri serta apa yang mereka lakukan terhadap kelompok dan pemimpin kulit hitam di sini, di tanah air."

Bom di dalam tas tangan

Gagasan bahwa sekelompok mahasiswa kelas menengah dapat berhasil meledakkan beberapa gedung pemerintah yang paling ketat pengamanannya di negara ini tampak luar biasa.

Namun, menurut Zayd, mereka mampu memanfaatkan asumsi-asumsi yang melekat pada status mereka sebagai orang muda, berkulit putih, dan berpendidikan.

Para perempuan yang menyamar sebagai sekretaris akan memasuki gedung-gedung tersebut untuk mengumpulkan informasi dan menanam bahan peledak di lokasi-lokasi terpencil, seringkali di kamar mandi perempuan.

"Salah satu keunggulan yang mereka miliki adalah bahwa mereka adalah orang-orang kulit putih yang berpendidikan tinggi, pandai berbicara, dan cukup kaya, yang dapat berjalan melintasi ruang-ruang kekuasaan ini tanpa menarik banyak perhatian," jelas Zayd.

Keistimewaan rasial kelompok ini juga membentuk aliansi mereka dengan Black Liberation Army, sebuah kelompok pecahan dari Black Panther Party.

Para aktivis kulit putih tersebut memanfaatkan akses dan status mereka yang relatif tidak mencolok untuk mendukung para aktivis kulit hitam, termasuk bertindak sebagai pengemudi setelah pelarian dari penjara dan aksi ilegal lainnya.

Seiring bertambahnya usia Zayd, realitas kehidupan di bawah tanah semakin membentuk masa kecilnya. Tanpa dokumen resmi, ia tidak bisa bersekolah, dan sebagian besar temannya adalah anak-anak dari sesama aktivis.

Sebagian besar masa kecilnya mirip dengan anak-anak Amerika lainnya, dengan perjalanan darat, tamasya keluarga, dan liburan berkemah. Meski begitu, kegiatan-kegiatan ini memiliki nuansa revolusioner yang khas.

"Kami tentu saja tidak pernah mengunjungi Disneyland atau Gedung Capitol atau tempat-tempat semacam itu. Orangtuaku membawaku untuk melihat lokasi-lokasi perjuangan revolusioner… tempat para pahlawan mereka dibunuh… tempat polisi membunuh Fred Hampton, tempat John Brown digantung, dan tempat di mana Nat Turner memimpin pemberontakan budak. Jadi, itu benar-benar sebuah tur keliling Amerika sebagai tempat yang mereka lawan."

Baru bertahun-tahun kemudian ia menyadari bahwa salah satu perjalanan berkemah keluarga memiliki tujuan lain.

Lokasi perkemahan berjarak kurang dari satu kilometer dari sebuah penjara federal tempat seorang anggota Black Panther ditahan. Orangtuanya memanfaatkan agenda liburan untuk mempelajari penjara tersebut menjelang kemungkinan upaya pelarian.

Zayd yakin orangtuanya benar-benar berusaha menghindari cedera fisik. Peringatan telah disampaikan sebelum ledakan terjadi, dan perangkat bom diatur waktunya agar meledak saat gedung-gedung tersebut kosong. Namun, begitu sebuah gerakan mengadopsi kekerasan, katanya, tragedi menjadi sulit dihindari.

"Pilihan-pilihan mereka kadang-kadang berisiko, berbahaya, dan bahkan kontraproduktif... Mereka melakukan hal-hal yang bisa saja mengerikan, sangat tragis."

Sebelum ia lahir, sebuah kecelakaan saat membuat bom menewaskan pacar ayahnya saat itu dan dua anggota kelompok lainnya.

Bahkan sejak kecil, ia sudah memahami risikonya.

"Aku jelas khawatir tentang hal itu… Aku punya teman-teman yang orangtuanya terbunuh. Aku punya teman-teman yang orangtuanya dipenjara untuk waktu yang sangat lama."

Sebagai orang dewasa, dan kini sebagai ayah, Zayd telah bertahun-tahun bergumul dengan pilihan-pilihan yang diambil orangtuanya.

Ia membandingkan pola pikir mereka dengan orang-orang yang mendaftar sebagai sukarelawan untuk dinas militer. Ia mengatakan bahwa mereka meyakini sedang terlibat dalam perang melawan pemerintah mereka sendiri dan bersedia menerima konsekuensi yang timbul.

"Aku merasa bangga pada mereka dalam banyak hal... Di masa ketika kebanyakan orang di Amerika, terutama orang kulit putih, bersedia membiarkan ketidakadilan yang mereka lihat berlalu begitu saja tanpa berbuat apa-apa, orangtuaku adalah tipe orang yang bersikeras untuk melakukan sesuatu."

Namun, Zayd kesulitan membayangkan skenario di mana ia sendiri akan memilih untuk pergi merampok bank atau membebaskan seseorang dari penjara sementara anak-anaknya ditinggalkan di rumah.

"Tapi, aku juga berpikir bahwa hal itu merupakan hak istimewa. Aku rasa ada banyak orang di dunia ini yang tidak punya pilihan selain mempertaruhkan keselamatan keluarga mereka untuk melawan penindasan, untuk melawan ketidakadilan."

Setelah kelahiran adik Zayd, Bernadine akhirnya memutuskan untuk melakukan kesepakatan pembelaan dan menyerahkan diri kepada pihak berwenang, agar keluarganya bisa menjalani kehidupan yang sedikit lebih normal.

Awalnya ia terhindar dari penjara karena adanya metode ilegal dan kesalahan dalam penyelidikan FBI. Tapi setelah menolak bersaksi melawan sesama anggota Weather Underground, ia dipenjara selama hampir satu tahun. Ayah Zayd harus mengasuh tidak hanya dirinya dan adik laki-lakinya, tetapi juga anak dari seorang aktivis lain yang dipenjara.

Saat itu, sebagai anak berusia lima tahun, ia merasa sedih dan marah serta memohon agar ibunya pulang. Bernadine menulis surat kepadanya dari penjara untuk mencoba menjelaskan, surat-surat yang hingga kini masih dibacanya.

"Ia akan mengatakan bahwa menjadi seorang ibu adalah hal terpenting di dunia baginya, dan bahwa menjadi seorang revolusioner juga merupakan hal terpenting di dunia baginya," kata Zayd.

"Ia akan menunjuk, misalnya, para pahlawannya seperti Martin Luther King Jr., Fred Hampton, dan Malcolm X—orang-orang yang berjuang demi suatu tujuan—dan semuanya memiliki anak."

Kini, kedua orangtuanya telah menginjak usia delapan puluhan.

Zayd menggambarkan mereka sebagai "kakek-nenek yang luar biasa." Namun, ia tertawa mendengar anggapan bahwa usia telah melunakkan pandangan politik mereka.

Setelah keluar dari gerakan bawah tanah, ibunya menjadi profesor hukum dan menghabiskan empat dekade mengelola klinik hukum, membantu orang-orang yang menurutnya telah dikhianati oleh sistem peradilan pidana yang tidak adil. Ayahnya menjadi profesor dan mengabdikan diri untuk mereformasi pendidikan publik.

Metode mereka memang telah berubah. Namun, keyakinan mereka tetap tak tergoyahkan.

"Mereka akan tersinggung jika ada yang menyebut mereka moderat atau liberal," kata Zayd.

Artikel ini didasarkan pada sebuah episode Outlook di BBC World Service: America's most wanted: My family on the run.

Internasional Lainnya

Pidato JK di Harvard Soroti Belanja Negara dan Beban Utang

Pidato JK di Harvard Soroti Belanja Negara dan Beban Utang

15 jam lalu

Pemerintah diminta hati-hati mengelola belanja negara dan utang, serta prioritas dan kemampuan keuangan agar tak membebani generasi mendatang.

Swipe untuk menutup

Pidato JK di Harvard Soroti Belanja Negara dan Beban Utang

23/10/2026, 00:00 WIB
Pidato JK di Harvard Soroti Belanja Negara dan Beban Utang

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam mengelola belanja negara dan menentukan prioritas anggaran.

Pernyataan tersebut disampaikan JK saat memberikan kuliah bertajuk Leadership Amidst Uncertainty: Lessons from Experience di Belfer Case Study Room, CGIS South, Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, Kamis (22/10/2026) waktu setempat.

Kuliah tersebut dihadiri mahasiswa Harvard University, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Boston University, serta sejumlah perguruan tinggi lain di kawasan New England, Amerika Serikat.

Dia menegaskan, pengeluaran pemerintah harus disesuaikan dengan kebutuhan mendesak dan kemampuan keuangan negara.

"Belanja negara harus disusun berdasarkan skala prioritas dan kemampuan keuangan," kata JK, dikutip dari keterangannya, Jumat (23/10/2026).

"Jangan sampai pengeluaran terlalu besar, sementara kemampuan membayar terbatas," sambung JK.

Menurut JK, pengeluaran yang tidak terukur dan ketergantungan berlebihan pada utang berisiko menekan keuangan negara.

Ia mengingatkan, utang yang terus bertambah tanpa pengelolaan yang hati-hati dapat menjadi beban bagi generasi berikutnya.

"Utang hari ini pada akhirnya menjadi tanggungan generasi mendatang," tegas JK.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi untuk menghadapi berbagai tantangan.

“Uang saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan semangat, keberanian, ilmu pengetahuan, dan inovasi. Teknologi harus dikuasai dan kemampuan manusia harus terus dikembangkan,” kata JK.

Kuliah di Harvard merupakan bagian dari rangkaian agenda akademik JK di Amerika Serikat.

Sebelumnya, ia mengikuti program Vice President Kalla Lecture Series di Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Illinois.

Setelah agenda di Harvard, JK dijadwalkan melanjutkan kegiatan akademiknya di MacMillan Center, Yale University, New Haven, Connecticut, pada Jumat (23/10/2026).

Dalam agenda tersebut, ia akan membahas penyelesaian konflik, pembangunan perdamaian, serta penanganan kemanusiaan dan bencana di Indonesia yang majemuk.

Komentar Terbanyak Lainnya

Bagikan berita ini melalui