JAKARTA, KOMPAS.com - Sunyi dan sepi menyelimuti Kampung Nanggar Al-Hikmah, Gang Al-Hikmah RT 6 RW 7, Kelurahan Cililitan, Jakarta Timur, yang kini dikenal dengan sebutan “Kampung Zombie”.
Deretan rumah kosong dengan kondisi rusak dan terbengkalai menjadi pemandangan di kawasan bantaran anak Kali Ciliwung tersebut.
Meski sebagian besar penghuninya telah pergi akibat banjir berulang, sejumlah warga masih bertahan di tengah keterbatasan ekonomi dan lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.
Pantauan Kompas.com di lokasi, Selasa (3/11/2026), akses menuju permukiman hanya berupa gang sempit dan menurun dengan lebar sekitar satu meter.
Jalan tersebut adalah satu-satunya akses cepat menuju bantaran anak kali di kampung zombie tersebut.
Sementara sisa jalan lainnya sudah menjadi jalan buntu.
Sepanjang jalan setapak, yang hanya bisa dilewati pejalan kaki, terlihat dinding rumah retak, sisa lumpur banjir, serta bangunan yang dipenuhi semak liar.
Memasuki bagian dalam kampung, sejumlah rumah tampak mengalami kerusakan parah, mulai dari atap jebol, langit-langit runtuh, tembok berlubang hingga struktur bangunan yang miring.
Lantai rumah dipenuhi lumpur kering yang menggunung.
Beberapa bangunan masih menyisakan perabot rumah tangga meski sudah lama ditinggalkan.
Di antara deretan rumah kosong, masih terlihat warga yang beraktivitas, seperti membersihkan saluran kali dan mengumpulkan sampah plastik
Sedikit kehidupan juga masih terasa dari suara televisi yang terdengar samar dari salah satu rumah yang masih dihuni.
Namun, warga tak terlihat berlalu lalang di kawasan ini.
Ketua RT 6/RW 7 Kampung Nanggar Al-Hikmah, Nurhidayat mengatakan, terdapat 43 kepala keluarga (KK) yang tercatat di lingkungannya.
Namun, sekitar 23 KK di antaranya sudah meninggalkan kawasan tersebut karena tidak tahan menghadapi banjir yang berulang.
"Yang sudah pindah sekitar 23 KK. Sisanya ya hidup seadanya di sini soalnya sewa di luar mahal," ujar Nurhidayat saat ditemui Kompas.com di keduamannya di Kampung Nanggar Al-Hikmah, Selasa (3/11/2026).
Menurut Nurhidayat, sebagian warga kesulitan meninggalkan rumah karena bangunan tersebut merupakan milik pribadi yang sulit dijual maupun disewakan.
Banjir sudah melanda kawasan itu sejak 1996, tetapi dampaknya semakin parah pada 2005, 2007, dan 2015.
Ketinggian air bahkan bisa mencapai sekitar dua meter hingga merendam rumah warga dalam waktu singkat.
Saat banjir besar terjadi, warga terpaksa mengungsi ke tempat lain yang lebih aman.
Nurhidayat mengatakan, warga sebenarnya berharap ada pembebasan lahan maupun relokasi agar mereka tidak terus-menerus menghadapi ancaman banjir.
Namun, hingga kini belum ada kejelasan mengenai rencana tersebut.
"Rumahnya ini milik pribadi, ya susah mau dijual atau disewakan juga enggak ada yang mau. Makanya saya dorong pembebasan dan relokasi, tapi warga juga pada sayang sama (aset rumah dan tanah) punyanya," katanya.
Rencana penanganan kawasan tersebut masih terkendala sehingga warga diminta menunggu hingga 2027.
Selain persoalan relokasi, kondisi lingkungan tak kalah memprihatinkan karena saluran air yang dikenal warga sebagai Kali Hitam terlihat dipenuhi sampah plastik dan styrofoam serta mengeluarkan bau menyengat.
Nurhidayat berharap pemerintah memperhatikan kondisi saluran air yang dipenuhi sampah.
Menurut dia, penanganan seharusnya dilakukan dari bagian hulu agar persoalan tidak terus berulang di kawasan permukiman.
Warga RT 6, Alit (63), menjadi salah satu penduduk yang masih bertahan di tengah permukiman yang semakin sepi.
Alit mengaku sudah tinggal di kawasan tersebut selama sekitar 45 tahun dan pernah merasakan langsung rumahnya terendam banjir.
Banjir bukan lagi kejadian yang jarang terjadi karena air bisa kembali menggenangi rumah meski hujan tidak turun di sekitar permukiman.
"Di sini mah terus-menerus, bukan banjir kecil. Rumahnya aja bisa hilang kok, ketutup," ujar Alit.
Meski ingin pindah, ia mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk membayar biaya kontrakan di tempat lain.
Kondisi kesehatannya yang semakin menurun juga membuat Alit kesulitan mencari pekerjaan tetap.
Kini, ia mengandalkan aktivitas mengumpulkan sampah plastik untuk dijual sebagai tambahan penghasilan.
Di tengah ancaman banjir, Alit mengaku tetap merasa nyaman tinggal di kawasan tersebut karena sudah puluhan tahun menetap bersama keluarganya.
Ia juga mengandalkan informasi ketinggian air melalui media untuk memperkirakan datangnya banjir dan mempersiapkan diri.
"Takut mah takut kalau banjir, gimana juga. Tapi kita kan kalau mau banjir sudah dari jauh-jauh antisipasi. Jadi dihadapin aja banjir, mau pergi dari sini juga serba susah," tutur Alit.